Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
29. Lulus


__ADS_3

Atep POV


Aaargh…


Apa yang tadi aku lakukan dan katakan pada Bu Alena?


Berani sekali aku berkata kurang ajar seperti itu pada Bu Alena. Ini lagi kenapa jantungku berulah? Dadaku jadi berdebar-debar tidak karuan seperti melihat dan bertemu pujaan hati saja. Aku penah merasakan kondisi seperti ini ketika aku mencapai usia dewasa. Saat itu jantungku berdebar tidak normal kala aku memandang Teh Iyah.


Tidak beres, semuanya menjadi tidak beres sejak aku bertemu dengan Bu Alena. Tidak pernah sebelumnya aku memperlakukan seorang perempuan seperti ini. Tidak juga pada Teh Iyah. Padanya aku selalu bersikap baik dan sopan.


Apa aku memiliki perasaan yang berbeda pada Bu Alena? Apa aku menyukai dia?


Tidak… tidak… tidak…


Kugelengkan kepala berkali-kali untuk menepis lintasan kurang ajar yang mampir di otakku.


Bagaimana mungkin aku menyukai Bu Alena? Itu sesuatu yang tidak mungkin. Sejak pertemuan pertama kami, aku sudah tidak menyukai dia. Bagaimana mungkin sekarang berubah menjadi suka? Sudahlah jangan berkhayal dan mengada-ngada. Fokus sama sidang yang sudah di depan mata. Buat ibu bangga karena anak bungsunya berhasil lulus kuliah.


Setelah menenangkan pikiran dan hati, aku melangkah menjauh dari ruangan Bu Alena menuju kantin karena kurasakan perutku sudah menjerit kelaparan. Energiku terkuras habis karena perdebatan kecil kami tadi. Aku heran kenapa setiap kali aku bertemu dengan dia, ada saja yang kami debatkan walaupun remeh temeh.


Aku tersenyum mengingat wajah Bu Alena yang bersemu merah ketika kukatakan bahwa dia terlihat cantik saat sedang marah. Dia memang cantik, baik dalam keadaan marah apalagi tersenyum. Aku pernah melihat Bu Alena tersenyum walaupun senyumnya itu tidak ditujukan padaku. Senyumnya itu manis sekali sampai-sampai saat aku melihat senyumannya, aku pun jadi ikut tersenyum.


Ah, andaikan dia lebih banyak tersenyum padaku, maka aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia. Namun dia tidak pernah sekalipun tersenyum padaku. Jangankan tersenyum, tidak marah saja saat bertemu denganku sudah merupakan hal yang luar biasa.


************


“Selamat atas sidang skripsi yang sudah kamu selesaikan dengan baik. Saya ucapkan double congratulations karena kamu juga mendapatkan nilai terbaik.”


Bu Alena memberikan selamat padaku sesaat setelah aku berhasil menyelesaikan sidang skripsi.


“Terima kasih, Bu. Terima kasih atas bimbingan yang Ibu berikan selama ini. Hm… dan saya juga minta maaf jika selama ini saya banyak menyinggung Ibu dan membuat Ibu jengkel dengan perbuatan dan perkataan saya.” Aku tersenyum manis saat mengucapkan terima kasih dan maaf pada Bu Alena.


“Sama-sama. Kamu tidak perlu minta maaf dan merasa bersalah karena hal itu bukan masalah besar. Saya sering menghadapi berbagai macam mahasiswa dengan bermacam-macam karakter. Jadi, saya tidak merasa aneh dengan sikap kamu yang luar biasa,” sindir Bu Alena.


Mendengar perkataan Bu ALena tidak membuatku merasa tersindir. Aku malah senang karena hal itu terdengar seperti kalimat perhatian.

__ADS_1


“Luar biasa menyebalkan?” tanyaku pada Bu Alena.


“Ya begitulah. Kamu yang lebih paham dengan sikap kamu selama ini. Luar biasa menyenangkan atau luar biasa menyebalkan?” ucap Bu Alena sambil tersenyum.


Oh my God, ini pertama kalinya aku melihat senyum Bu Alena yang ditujukan khusus hanya untukku. Sumpah demi apapun, senyumnya manis sekali. Aku takut terkena diabetes kalau sering-sering melihat senyum bu Alena. Otomatis ujung bibirku tertarik ke arah kanan dan kiri membentuk sebuah senyuman lebar. Ingin rasanya aku memeluk dia untuk meluapkan kebahagianku hari ini. Kebahagiaan berhasil melewati sidang skripsi dan mendapatkan senyum Bu Alena. Aku benar-benar sudah gila karena mengharap bisa memeluknya. Gila...


“Hari ini kamu juga tampil lebih rapi, tidak urakan seperti biasanya.” Bu Alena mengomentari penampilanku hari ini.


Sepertinya Bu Alena sedikit terkejut melihatku hari ini. Kemarin aku memotong pendek rambutku yang gondrong. Tentu saja aku harus tampil rapi dalam sidang mempertahankan skripsiku. Aku tidak ingin penampilanku yang urakan mempengaruhi penilain para dosen penguji.


“Terlihat lebih tampan kan?” tanyaku.


“Hm… Penampilan kamu lebih rapi dan sopan,” jawab Bu Alena diplomatis.


“Cuma rapi dan sopan saja?” tanyaku lagi.


“Silahkan, enjoy your moment right now,” ucapnya sambil berbalik meninggalkanku.


Sepertinya Bu Alena tidak mengindahkan perkataanku.


“Eh sebentar, Bu.”


“Ada apa?” Bu Alena kembali memutar kembali tubuhnya setelah mendengar panggilanku.


Aku berdehem beberapa kali untuk mengusir rasa gugup.


“Ada apa sih?” tanya Bu Alena tidak sabar.


“Begini, Bu. Barangkali Ibu berkenan menghadiri undangan dari saya.” Akhirnya aku berhasil juga menanyakan hal ini.


Kemarin Teh Iyah memberitahuku kalau dia akan mengadakan syukuran atas kelulusanku. Syukurannya akan diadakan di rumah Teh Iyah. Tentunya aku tidak bisa menolak apa yang diperintahkan oleh perempuan cinta pertamaku. Hanya saja aku belum bilang kalau aku ingin mengundang Bu Alena.


“Hm…”


Kulihat Bu Alena sedikit ragu untuk menanggapi undanganku.

__ADS_1


“Saya juga akan mengundang Prof. Dinn, jika beliau berkenan. Teman-teman satu perjuangan pun akan saya undang.” Aku berusaha meyakinkan Bu Alena agar mau menghadiri undanganku. Masalah apakah Teh Iyah mengizinkan aku mengundang dosen dan teman-temanku biar jadi urusan nanti. Toh aku yakin Teh Iyah akan mengizinkannya.


“Kapan?” tanya Bu Alena.


Aku memiliki harapan tinggi dengan respon Bu Alena. Jika dia menanyakan waktu, kemungkinan besar dia bisa memenuhi undanganku.


“Akhir pekan ini,” jawabku percaya diri.


Kulihat Bu Alena seperti memikirkan dan mengingat sesuatu. Melihat raut wajah Bu Alena membuat kepercayaan diriku menukik tajam.


“Maaf.” Jawaban Bu Alena membuatku hatiku kecewa. Aku tidak paham kenapa aku bisa sekecewa ini mendengar jawaban Bu Alena.


Namun aku tidak akan mudah menyerah. Aku akan membuat Bu Alena hadir dalam acara syukuran yang diadakan Teh Iyah untukku.


“Kenapa meminta maaf?” tanyaku.


“Sebelumnya saya berterima kasih atas undangan yang kamu berikan tapi maaf saya tidak bisa memenuhinya.”


“Kenapa tidak bisa?” tanyaku ngotot.


“Kalau saya bilang tidak bisa artinya saya memang tidak bisa. Apa kamu tidak mengerti artinya tidak bisa?”


“Alasannya apa?” cecarku. Aku tidak peduli lagi bagaimana pandangan Bu Alena terhadapku. Saat ini, aku hanya menginginkan agar Bu Alena memenuhi keinginanku.


“Apakah saya harus memberikan alasannya?” tanyanya lagi.


“Ya!” jawabku tegas.


“Kenapa?”


“Karena saya memerlukan alasan dari kamu.” Aku menatapnya tajam .


“Dengarkan saya baik-baik. Kalau saya bilang saya tidak bisa itu artinya saya tidak bisa. Kamu mengerti dengan apa yang saya katakan, kan? Jangan jadi orang yang selalu menyebalkan dalam pandangan saya!"


***********

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2