
Alena POV
“Len, kita salat dan makan siang dulu.”
Tiba-tiba saja dia sudah duduk di sampingku.
“Hm…”
Dia beranjak kemudian memanggil Aras dan Aris
“Aras…Aris!” panggilnya sambil menghampiri mereka.
Kulihat sepertinya Aras dan Aris masih ingin bermain tapi terpaksa harus menurut padanya.
“Kita ke musala dulu,” ajaknya sambil menggandeng Aras dan Aris.
Aku mengikutinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Setelah selesai salat zuhur, dia mengajak Aras dan Aris untuk makan siang tetapi sepertinya sengaja tidak menyertakanku dalam ajakannya. Aku tidak peduli, aku ikuti saja kemana mereka melangkah.
Kami berempat sudah duduk mengelilingi meja di sebuah food court. Tempatnya cukup ramai karena bersamaan dengan waktu makan siang
“Aras dan Aris mau makan apa?” tanyanya pada di kembar.
Karena kesal tidak dianggap olehnya, aku kembali memainkan games di ponsel. Sedang asyik main games, tiba-tiba dia merebut ponselku dan menyimpannya di saku depan jaket yang ia pakai.
“Simpan dulu hapenya. Sekarang pesan dulu makanan!” perintahnya tegas.
“Kembaliin!” protesku tidak suka karena ia mengambil paksa ponsel milikku.
“Nanti aku kembaliin setelah kamu selesai makan,” tegasnya.
“Iya nih Tante dari tadi main hape terus. Nanti dimarahin Ayah loh kalau makan sambil main hape,” kata Aris mengingatkan.
“Iya…iya.” Aku menggerutu kesal karena ponsel disita ditambah mendapat peringatan dari bocah macam Aris.
“Kamu mau makan apa?” tanyanya.
“Terser...”
“Jangan bilang terserah!”
Belum juga aku menjawab dia sudah main sambar saja.
Aku terkejut ketika tiba-tiba dia menggenggam tanganku.
Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya tapi tenaga dia lebih kuat sehingga tidak mudah bagiku untuk lepas darinya.
“Aras dan Aris mau makan apa? Mang Atep sama Tante Lena beliin.” Dia bertanya pada Aras dan Aris.
“Aras mau makan kwetiaw goreng saja sama minumnya jus jeruk,” sahut Aras.
“Aris mau makan nasi goreng saja, minumnya jus jeruk juga,” jawab Aris.
Dia menarik tanganku agar mengikutinya memesan makanan dan minuman untuk kami berempat.
“Lepasin ih tangan kamu.” Aku masih berusaha untuk melepaskan tanganku darinya.
__ADS_1
Bukannya melepaskan, dia malah semakin erat menggenggam tanganku lalu ia mengaitkan jari-jari kami agar saling menjalin.
“Malu tau.” Aku mulai merengek agar dia melepaskan jari-jari kami yang saling mengait.
Dia memesan dan membayar makanan yang kami pesan tanpa melepaskan tanganku.
“Tep, please lepasin tanganku. Malu kalau ada yang lihat.” Aku berbisik supaya tidak terdengar oleh orang-orang di sekitar kami.
Bukannya melepaskan kaitan tangannya, dia menarikku untuk lanjut memesan minuman.
“Kamu mau minum apa?” tanyanya.
“Aku mau kamu melepaskan tanganku.”
“Jus jeruk saja sama dengan Aras dan Aris.” Dia memutuskan sendiri tanpa mendengarkan permintaanku agar melepaskan tangannya.
Setelah membayar pesanan minuman kami, tangannya masih terus menggenggam tanganku.
Dia belum melepaskan pegangan tangannya ketika kembali ke meja kami.
Setelah pesanan kami datang, dia baru melepaskan tangannya.
“Aras…Aris, mau main ke mana lagi?” tanyaku setelah kami selesai menghabiskan makanan kami.
“Aras mau ke toko buku, boleh?” tanya Aras.
“Boleh dong.” jawabku. “Aris juga mau beli buku?” Aris mengangguk.
“Ya sudah, sekarang kita meluncur ke toko buku. Mau toko buku yang di sini atau ke Gramedia?” Atep bertanya pada si kembar.
“Ke Gramedia yang besar saja biar banyak bukunya,” jawab Aras.
Dasar cowok nyebelin. Tadi saja seenaknya tidak mau melepaskan tanganku tapi sekarang seperti tidak melihat kalau ada aku. Menyebalkan.
Aku menggerutu dalam hati.
Menjelang magrib, kami baru sampai di rumah kakakku.
Aras dan Aris tertidur di kursi belakang. Aku memanggil A Endra untuk menggendong Aras dan Aris yang masih tertidur di mobil.
Kulihat Atep mencoba untuk mengambil Aras dan menggendongnya tapi sebelum sempat Atep melakukannya, kakakku datang.
“Tidak usah digendong. Bangunkan saja. Sebentar lagi magrib. Mereka harus mandi dulu,” titah kakakku.
Itulah kakakku yang sangat disiplin dalam segala hal.
“Tadi makan siang di mana?” tanya kakakku.
“Di Food court. Tempatnya bersih dan sehat kok. Aras dan Aris gak pesan macam-macam cuma kwetiaw, nasi goreng dan jus jeruk.” Aku melaporkan kegiatan makan siang kami pada kakakku. Kakakku itu selain disiplin dalam hal kebersihan, ribet juga dalam hal makanan. Dulu, dia tidak mau makan masakan buatan Teh Iyah tapi setelah mencicipinya sekali langsung kecanduan dan tidak mau makan buatan orang lain selain buatan istrinya atau ibu kami.
Katika dulu ditinggalkan Teh Iyah, kakakku ribet masalah makanan sampai berat badannya turun drastis. Jadi keluarga kakakku itu jarang makan di luar dan lebih memilih untuk makan di rumah. Kalaupun harus makan di luar, kakakku akan selektif sekali dalam memilih makanan dan minuman yang dipesan.
“Mau gendong, Ayah…” Aris merajuk pada ayahnya.
Walaupun kakakku itu keras tapi dia sangat menyayangi Aras dan Aris. Ia menggendong Aris yang baru saja bangun tidur.
“Aras mau digendong juga?” tanyaku pada Aras yang terlihat masih mengantuk.
__ADS_1
Aras mengangguk.
“Gendong Aras, tuh!” perintahku pada Atep.
“Siap laksanakan, Cantik.”
Setelah mendengar perintahku ia langsung menggendong Aras.
“Ish, gombal terus...” gerutuku.
Dia terkekeh mendengar gerutuanku.
Jam 8 malam setelah kami selesai makan malam, dia pamit pulang.
“Nginep di sini saja, Tep,” tawar Teh Iyah.
“Besok Atep harus ke cafe pagi-pagi Teh. Ada yang harus dikerjakan,” jawabnya menolak tawaran Teh Iyah.
“Kan bisa pergi dari sini juga.”
“Pulang saja. Nanti ada yang marah kalau Atep nginep di sini,” jawabnya sambil melirik ke arahku dan kubalas dengan pelototan.
Apa sih maksudnya dia ngomong seperti itu? Bikin malu saja. Ada orang yang marah itu pasti maksudnya padaku. Dasar menyebalkan.
“Ya sudah, kamu hati-hati di jalann. Sudah malam dan gerimis juga.”
“Iya, Teh. Atep pulang dulu.”
Dia pamit lalu mencium punggung tangan Teh Iyah dan kakakku.
“Len, anterin Atep sampai ke pintu depan gih,” perintah Teh Iyah padaku.
“Ish, masa udah gede masih harus diantar sih.”
Aku menolak untuk melakukan perintah Teh Iyah.
“Gak usah diantar, Teh. Nanti saja kalau sudah menikah baru deh seorang istri wajib mengantar kepergian suaminya.”
“Ih…siapa juga yang mau jadi istri kamu,” ucapku lirih tapi masih terdengar oleh A Endra yang sedang menonton acara talk show di televisi.
“Sekarang gak mau, tapi nanti juga mau. Malah merengek tidak mau ditinggal.” Ucapan A Endra membuatku kesal. Aku memutuskan untuk langsung naik ke kamar tidur tanpa pamit pada kakakku dan Teh Iyah. Sebelum pergi, aku masih sempat menginjak kaki A Endra.
“Aa nyebelin.”
“Aww…sakit Lena! Dasar adik durhaka,” teriak kakakku mengaduh kesakitan.
“Syukurin!” Aku menjulurkan lidah mengolok kakakku dan sukses dihadiahi timpukan bantal sofa olehnya.
Aku naik ke kamarku sambil tertawa-tawa.
Walaupun aku dan kakakku sudah berusia dewasa tapi kalau bertemu seringkali saling mengolok ataupun saling menjahili. Aku sih senang-senang saja dijahili atau berdebat dengan kakakku karena lebih baik begitu daripada harus diacuhkan olehnya.
Setelah peristiwa penculikan yang dialami kakakku waktu dia masih anak-anak, mentalnya sedikit terganggu sehingga A Endra jadi cenderung antisosial. Dia tidak memedulikan sekitarnya termasuk aku. Hal itu berlangsung selama beberapa tahun sampai akhirnya kakakku dinyatakan sembuh dan dia bisa mulai berinteraksi denganku dan juga anggota keluarga lainnya. Makanya sampai sekarang pun temannya sangat sedikit, cuma Kak Arfian saja yang bisa jadi sahabatnya hingga sekarang.
Masa ketika Teh Iyah meninggalkan kakakku juga masa yang menegangkan bagiku. Selama beberapa bulan kakakku menutup diri dan tidak mau berkomunikasi dengan orang lain. Beruntung kakakku tidak menutup dirinya terlalu lama. Mungkin karena dia sudah dewasa hingga lebih bisa mengontrol emosinya.
Jadi, aku lebih senang kalau kami bertengkar dan saling menjahili daripada didiamkan oleh kakakku satu-satunya itu.
__ADS_1
*********
to be continued...