
Alena POV
Tok…tok…tok….
Kudengar pintu kamar diketuk. Aku yakin tangan-tangan mungil Aras dan Aris yang melakukannya.
Aku pura-pura tidak mendengar dan meneruskan aktivitas leha-lehaku berselancar di dunia maya.
Tok…tok…tok…
Aku masih bertahan dalam diam.
Dok…dok…dok…
“Tantee…” teriak Aras dan Aris kompak memanggilku.
Aku belum mau membukakan pintu karena masih marah sama mereka. Entahlah kenapa aku bisa marah pada mereka gara-gara si devil itu. Memang si Atep itu biang onar. Wujudnya tidak ada pun bisa membuatku emosi jiwa.
“Tantee... kalau gak buka pintunya nanti Aras bilang sama Ayah buat dobrak pintunya,” teriak Aras dari luar pintu.
Cih…dasar *little*devil. Gak paman gak keponakan, sama-sama hobi bikin ulah.
Dengan malas aku bangun dari rebahan dan membuka pintu kamar seraya menampakkan wajah sangar.
“Ada apa teriak-teriak pakai ancam mau dobrak segala?” ucapku pedas pada duo kesayanganku itu. Jarang-jarang sih aku bicara dengan nada keras pada Aras dan Aris.
“Habisnya Tante gak denger sih Aris sudah ketok-ketok pintu juga,” protes Aris.
__ADS_1
“Kalau ketok-ketok pintu terus gak dibukain pintunya itu artinya orang yang di dalam gak mau diganggu. Jadi, Aras dan Aris gak boleh ganggu istirahatnya Tante!” jawabku tegas pada mereka.
“Aras dan Aris disuruh ama aki buat panggilin Tante. Kata aki mau salat zuhur berjamaah. Kalau Tante gak mau salat berjamaah, biar Aras bilangin aja sama aki kalau Tante gak mau salat bareng,” ancam Aras pedas.
“Siapa yang bilang gak mau salat berjamaah? Aras gak boleh menyimpulkan sembarangan seperti itu,” protesku pada anak dingin itu.
“Tadi kan Tante yang bilang kalau Tante gak mau diganggu. Berarti kan Tante gak mau salat bareng bareng sama kita.” Jawaban Aras membuatku kehilangan kata-kata.
“Iya…iya, maafin Tante. Sebentar lagi Tante turun. Tante mau wudu sama ganti pakaian dulu.”
Lah, kenapa juga aku jadi minta maaf sama bocah dingin itu. Rugi banget sih.
“Oh iya. Kata Ayah, acara buat Tante mulainya setelah salat berjamaah. Jadi sekalian aja Tante ganti baju dan dandan yang cantik,” ujar Aras lagi bernada seperti memerintah.
Cih…benar-benar little devil anaknya Kagendra si raja devil.
Aku memandangi pantulan diriku untuk terakhir kalinya sebelum aku ikut bergabung dengan keluargaku untuk salat zuhur berjamaah.
Sip, tampilanku sudah oke. Dengan gamis warna peach dan kerudung corak berwarna senada dengan gamis.
Sesampainya di musala kulihat semua keluargaku sudah bersiap-siap untuk salat berjamaah yang akan dipimpin oleh abah.
“Kamu keliatan beda. Wajah kamu mengeluarkan aura kebahagian. Sepertinya bakalan ada sesuatu yang menggembirakan,” bisik Teh Iyah ketika aku sedang melipat mukena setelah kami selesai salat berjamaah.
“Apaan sih, Teh?”
Teh Iyah tersenyum misterius mendengar jawabanku.
__ADS_1
Entahlah beberapa hari ini tiap kali kupandang wajah Teh Iyah, aku menemukan senyum-senyum misterius yang tersunging di bibirnya. Sebenarnya sejak aku dan Atep diperkenalkan secara resmi, Teh Iyah kerap terlihat senyum terus.
Acara syukuran ulang tahunku sudah dimulai tapi aku belum melihat batang hidung pria itu. Apakah dia benar-benar tidak akan menghadiri acara ini? Padahal aku yakin Aras dan Aris sudah meneleponnya agar datang pada acara ini. Teh Iyah juga pasti sudah berulangkali mengingatkannya untuk datang ke acara syukuran ulang tahunku.
Ish, kenapa pula aku jadi mengkhawatirkan datang atau tidak datangnya dia sih. Kenapa juga mataku ini terus memandangi pintu seolah sedang menantinya.
Kugelengkan kepala kuat-kuat untuk mengusir bayangan dirinya yang sejak pagi tadi kerap mengganggu dan hadir dalam pikiranku.
“Kamu kenapa, Len? Sakit kepala?” tanya kakakku yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping. Sepertinya dia melihatku yang sedang menggeleng-gelengkan kepala.
“Gak kenapa-napa. Kenapa Aa bilang kalau Lena sakit?” jawabku gugup.
“Dari tadi Aa lihat kamu gelisah dan berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala. Kenapa?” tanya kakakku menyelidik.
“Udah dibilangin juga gak kenapa-napa. Aa mah suka kepo. Sudah sana jauh-jauh.” Aku mengusir A Endra.
“Kamu gelisah karena dalam pikiran kamu itu ada pertanyaan penting yang kamu tidak yakin dengan jawabannya,” tebakan A Endra benar-benar membuatku gugup.
“Sok tahu.” Aku memukul pelan bahu kakakku.
“Aa tahu apa yang kamu pikirkan. Dalam isi kepala kamu ini ada hal yang membuat kamu gelisah. Kamu sedang bertanya-tanya apakah dia datang atau tidak. Iya kan? Ngaku kamu!” kata kakakku yang langsung membuat wajahku terasa memanas.
“Ibuuu…” Aku langsung merengek pada Ibu karena tidak tahan dengan godaan yang dilancarkan oleh kakakku. “Aa nyebelin.”
A Endra tertawa lepas dan itu membuatku semakin kesal.
***********
__ADS_1
to be continued...