Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
50. Aaaargh...


__ADS_3

Alena POV


Sebenarnya pagi ini aku malas bangun, semalam aku tidur agak malam karena setelah nonton dan main bersama duo kesayanganku, aku melanjutkan membaca novel yang ada di perpustakaan. Teh Iyah memiliki banyak koleksi novel baru yang belum pernah aku baca. Aku baru tidur setelah lewat tengah malam.


Walau malas bangun dan inginnya melanjutkan tidur tapi aku teringat akan janji pada Aras dan Aris untuk mengajak mereka main ke T Studio. Perutku juga sudah berbunyi menandakan butuh asupan makanan dengan segera.


Dengan langkah sempoyongan karena masih mengantuk, aku keluar dari kamar dan turun menuju ruang makan untuk sarapan. Aku belum sempat cuci muka karena malas dengan dinginnya air di pagi hari.


Melihatku seperti ini pasti kakakku akan menggerutu dan menasehatiku panjang kali lebar. Dia memang orang yang paling rapi dan disiplin. Tidak suka jika ada hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi dan kebiasaannya yang bersih dan rapi.


Bisa dibilang aku ini kebalikan dari kakakku. Kakakku adalah orang sangat mengutamakan kebersihan, berbeda denganku yang tidak terlalu peduli dengan kebersihan. Untuk makan di luar saja, kakakku sangat pemilih dan dia tidak akan pernah mau makan di pinggir jalan atau kaki lima. Berbeda denganku yang bisa makan di mana saja. Kalau kakakku pasti akan mandi dulu sebelum sarapan, berbeda denganku yang akan mandi kalau sudah beres sarapan. Kakakku sangat rajin mandi. Dia mandi minimal 2 kali dalam sehari dan bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk mandi. Berbeda denganku yang malas mandi dan hanya akan mandi satu kali saja di hari liburku dan durasi untuk mandi pun terbilang kilat.


Ibu sampai terheran-heran melihat kebiasaan dan sifat kami yang sangat bertolak belakang. Ibuku sering becanda kalau jiwa kami ini mungkin tertukar.


Sebenarnya kakakku pernah mengalami gangguan jiwa karena pernah mengalami penculikan ketika dia masih anak-anak. Menurut cerita dari ibu, kakakku pernah disekap di ruangan sempit dan kotor selama berhari-hari. Setelah kakakku berhasil diselamatkan, dia menjadi ketakutan dengan tempat kotor dan sempit. Oleh sebab itu, sekarang dia sangat terobsesi dengan kebersihan. Dia tidak akan suka dengan tempat yang kotor dan tidak teratur termasuk orang yang kurang rapi dan kurang bersih seperti aku.


“Teeeeeh….Lena lapaaar.” Aku menuju ruang makan dengan mata yang belum terbuka dengan sempurna.


Ketika sampai di ruang makan, aku mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Teh Iyah.


Dan dia ada di sana…


Aki melihat dia yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulut.


Dia melihatku dengan ekspresi wajah terkejut.


Lalu aku menyadari penampilanku pagi ini.


Aaaaargh…..


Aku langsung berbalik dan berlari menuju kamar.


Setelah sampai di kamar, aku langsung mencari ponselku dan menghubungi Teh Iyah.


Setelah sambungan telepon tersambung aku langsung melayangkan protes pada kakak iparku.


“Teteeeeeh….kenapa gak bilang sama Lena kalau si Atep udah ada di sini?”


“Teteh juga gak tau kamu tiba-tiba muncul di ruang makan. Tadinya Teteh baru mau membangunkan kamu sekaligus mau bangunin Aras dan Aris. Belum juga Teteh naik ke kamar kamu, kamu udah turun.”


“Teteeeeh…Lena kan malu. Mana Lena gak pake kerudung. Lena juga belum cuci muka, rambut Lena acak-acakan. Pasti dia ilfil lihat Lena kaya gitu. Sebel…sebel…sebel…”


Aku mendengar Teh Iyah terkikik.


“Teteeeeh…malah ngetawain,” protesku sebal.


“Bukannya ngetawain tapi Teteh senang karena baru saja Teteh mendapatkan petunjuk yang sangat menggembirakan.”


“Maksud Teteh apa sih? Lena gak ngerti,” sungutku.


“Kata-kata kamu yang bilang kalau kamu khawatir Atep ilfil setelah lihat penampilan kamu yang acak-acakan.”


“Siapa yang khawatir. Lena cuma malu,” protesku.


“Iya, iya… cuma malu.” Dari nada suara Teh Iyah, sepertinya dia tidak mempercayaiku.


“Beneran Teh…Lena cuma malu, gak ada tuh perasaan khawatir.” Aku keukeuh dengan pembelaan diri.

__ADS_1


“Ya sudah kalau tidak khawatir. Cepat turun buat sarapan. Sekalian juga bangunkan Aras dan Aris!” perintah Teh Iyah.


“Lena gak mau sarapan di bawah. Nanti saja makannya kalau dia sudah pulang.”


“Gimana sih kamu, Len? Mana ada Atep pulang. Kan dia datang buat jemput dan antar kalian main ke T Studio.”


Oh my God…. aku lupa kalau kami sudah berencana untuk main bersama hari ini.


Bagaimana ini. Jantungku sudah berdebar-debar tidak karuan. Kenapa sih, dia sudah datang pagi-pagi buta. Ganggu ketenangan hidup orang lain saja.


“Cepat turun! Jangan lupa sekalian bangunkan Aras dan Aris,” perintah Teh Iyah berdengung di telingaku.


“Siap Bos,” jawabku.


Aku masuk ke kamar mandi, mandi secepat kilat, pakai baju, pasang jilbab. Setelah penampilanku sudah cukup rapi, aku menuju kamar Aras dan Aris untuk membangunkan mereka.


“Aras…Aris…bangun.” Aku menggoyang-goyangkan tubuh Aras dan Aris.


Karena tidak ada reaksi dari mereka, aku pun menciumi wajah mereka.


Setelah aku serang mereka dengan ciuman, mereka menggeliatkan tubuh.


“Cepat bangun! Mang Atep sudah jemput. Kita kan mau main ke T Studio.” Aku terus menciumi wajah duo kesayanganku.


Mendengar nama paman kesayangannya, mereka langsung membuka mata dan bangun.


“Ayo tante!” ajak mereka kompak.


“Huh kalian ini. Dari tadi Tante ciumin gak bangun-bangun. Sekalinya Tante sebut nama mamang kalian, langsung bangun.” Aku menggerutu kesal, sedikit cemburu karena sepertinya mereka lebih dekat dengan Atep.


“Mang Atep beneran udah dateng, Tan?” tanya Aris.


“Ayo Tante!” ajak Aras sambil menarik tanganku. Aris sudah lari duluan.


“Aris….cuci muka dulu. Nanti Ayah marah kalau tidak cuci muka,” panggilku.


Aris yang sudah berlari menuju tangga, tiba-tiba berhenti dan berbalik.


“Aris lupa…he-he-he.”


Aras mencuci mukanya duluan disusul oleh Aris. Mereka sudah tahu kalau Ayah mereka tidak suka dengan hal-hal yang tidak bersih dan tidak tertata dengan rapi.


Setelah Aras dan Aris selesai mencuci muka mereka, kami bertiga langsung turun menuju ruang makan.


Di ruang makan, kulihat dia sudah menyelesaikan sarapan dan sekarang sedang membantu Teh Iyah mencuci peralatan bekas makan mereka.


“Mang Atep!” Aras dan Aris memanggil paman mereka dan langsung menggelayut di lengannya.


“Aras…Aris… jangan ganggu Mang Atep. Makan dulu!” perintah kakakku tegas. Kakakku memang disiplin dan tegas maka tak heran jika ia pun memperlakukan anak-anaknya dengan keras dan disiplin.


Aras dan Aris langsung melaksanakan apa yang ayah mereka perintahkan, duduk manis di depan piring mereka yang berisi menu sarapan favorit, nasi goreng buatan Teh Iyah.


Setelah menghabiskan minumannya, kakakku langsung mengganggu Teh Iyah yang sedang mengupas buah.


“Tuh…Tante liatin Ayah deh. Kebiasaan Ayah tiap pagi ya begitu,” ujar Aris dengan mulut penuh nasi.


Aku terkekeh mendengar penuturan Aris. Sedangkan Aras fokus menghabiskan sarapannya.

__ADS_1


“Selamat pagi Tante cantik,” tiba-tiba dia sudah duduk di hadapanku dengan senyum terlukis di wajah segarnya.


Aku pura-pura fokus dengan kegiatan menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut.


“Kalau sudah mandi jadi terlihat lebih segar dan cantik,” godanya.


Aku pura-pura tidak mendengar perkataannya dan tetap fokus menghabiskan sarapan.


“Aras dan Aris belum mandi ya?” Karena tidak mendapatkan responn dariku, dia mengalihkan pertanyaannya pada Aras dan Aris.


“Mandinya nanti saja setelah sarapan. Tante juga kalau lagi menginap disini biasanya mandi kalau sudah siang,” celetuk Aris membuka kebiasaan burukku.


Dasar bocah. Kalau ngomong jangan terlalu jujur, bisa gak sih? Aku kan jadi malu.


“Ehem….”


Aku terbatuk mencoba menghentikan celotehan Aris.


“Aris sudah selesai belum makannya?” tanyaku.


“Sedikit lagi, Tan,” jawab Aris.


Kulihat Aras sudah menyelesaikan sarapan dan menyimpan piring bekasnya di tempat cuci.


Setelah aku menghabiskan sarapan, aku langsung beranjak ke tempat cuci piring untuk mencuci piring bekas makan. Aku tidak berani melihat ke arahnya.


“Kalau makannya sudah habis, piringnya bawa ke sini!” perintahku pada Aris.


Tidak lama kemudian, Aris memberikan piringnya yang sudah kosong. Aku bersiap untuk mencuci piring-piring bekas kami makan.


Di rumah ini memang ada asisten rumah tangga, tapi setiap weekends Teh Iyah dan kakakku memberikan libur pada para pekerja mereka. Jadi tiap weekends semua anggota keluarga harus mengerjakan hal-hal yang biasanya dikerjakan oleh para asisten rumah tangga.


“Aku saja yang mencuci piringnya.” Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di sampingku dan mengambil alih spons pencuci piring yang sedang aku pegang.


Lalu dia membuka keran air dan membantu membersihkan tanganku dari sabun.


“Kamu duduk saja di sana temani Aras dan Aris,” perintahnya.


Kulihat Aras dan Aris sudah duduk anteng di depan televisi menonton tayangan kartun favorit mereka.


Tidak ingin berdebat dengannya, aku langsung menuruti perintahnya untuk menonton bersama Aras dan Aris walaupun tontonannya film kartun.


Sekilas aku melihat ke arah dapur untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh kakak dan kakak iparku. Ternyata kakakku masih saja mengganggu Teh Iyah yang dibalas oleh pukulan dan cubitan kecil. Ah, dunia serasa milik mereka berdua saja. Sering sekali kalau sudah berduaan mereka lupa dengan anak kembar mereka. Untung saja si kembar sangat pengertian pada orangtua mereka.


Setelah beberapa saat, aku tengelam menikmati film kartun yang kutonton. Aku tertawa melihat kekonyolan yang ditampilkan oleh tayangan yang pantasnya ditonton oleh anak-anak tapi ternyata orang dewasa pun bisa terhibur oleh tontonan anak-anak.


Brugh….


Kurasakan seseorang duduk di sampingku. Dan aku yakin pasti dia.


“Mau berangkat jam berapa?” tanyanya.


“Terserah.”


“Jam 9?” tanyanya.


“OK.”

__ADS_1


***********


to be continued....


__ADS_2