
Alena POV
“Pinjam hape kamu!” perintahnya.
“Buat apa?” tanyaku.
“Aku pinjam sebentar.” Dia mengambil ponsel yang sedang aku pegang.
“Apaan sih?” Aku mencoba merebut kembali ponselku tapi tidak berhasil.
“Buka kuncinya!” Dia memberikan dan memerintahku untuk membuka ponsel yang masih terkunci.
“Gak mau.” Aku menjawabnya dengan tegas dan sudah menjulurkan tangan untuk mengambil kembali ponselku yang ada di tangannya.
“Kalau kamu tidak mau membukanya, aku tidak akan mengembalikannya sampai batas waktu yang tidak ditentukan.” Dia kembali menarik tangannya dan menjauhkan ponsel dari jangkauanku.
“Ya sudah, sini hapenya. Kamu itu emang benar-benar pemaksa. Dasar menyebalkan," gerutuku.
Dia memberikan ponselku dengan masih memegangnya erat agar tidak direbut kembali.
Dasar menjengkelkan!” Terpaksa aku membuka kunci ponsel.
Aku melihat dia memijit sesuatu di ponselnya dan mendengar ponselku berdering.
Sialan! Aku menyimpan nomornya dengan memberi nama ‘Devil’.
Bukannya marah, dia malah tersenyum ketika melihat nama yang aku simpan untuk menyimpan nomornya.
Lalu kulihat ia mulai mengetikan sesuatu di ponselku.
“Nih.” Dia mengembalikan ponselku.
“Jangan pernah memblokir nomorku lagi!” perintahnya tegas.
Aku mengangguk.
“Besok pagi aku jemput kamu.”
“Mau apa jemput aku?” tanyaku heran.
“Kita jalan-jalan untuk lebih saling mengenal.”
__ADS_1
“Aku gak bisa. Besok aku sudah janji sama Aras dan Aris untuk mengajak main mereka ke T Studio,” ujarku sedikit berbohong. Aku memang berjanji pada Aras dan Aris untuk bermain bersama mereka tapi aku belum menjanjikan kepada mereka untuk bermain ke T Studio.
“Besok kita ke sana bersama-sama,” ujarnya tegas.
“Tapi belum tentu Aras dan Aris mau mengajak kamu juga.”
“Aku yakin mereka mau.” Dia mengucapkannya penuh dengan keyakinan dan sepertinya keyakinannya itu akan terbukti. Aras dan Aris pasti suka juga jika paman kesayangan mereka ikut.
“Terserah.”
“Besok aku jemput kamu dulu baru kita jemput Aras dan Aris.”
“Tidak usah. Aku menginap di sini.”
“Oh…”
Hening sesaat sebelum dia berpamitan.
“Aku pulang dulu. Besok aku langsung menjemput kalian ke sini.”
Setelah mengucapkan itu, ia langsung bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah untuk berpamitan pada Teh Iyah dan A Endra. Aku mengikutinya dari belakang.
“Teh, Atep pulang dulu. Besok Atep ke sini jemput Lena, Aras dan Aris. Kita mau main ke T Studio.” Dia berpamitan pada Teh Iyah.
“Ada yang harus dikerjakan dulu di cafe. Nanti malam kan eventnya, jadi Atep harus ikut briefing dulu.”
“Ya sudah. Kamu hati-hati di jalan. Besok jam berapa kamu jemput anak-anak?” tanya Teh Iyah.
“Besok mau kemana?” tanya kakakku yang tiba-tiba saja ikut menimbrung bersama si kembar.
“Besok Lena mau ajak Aras dan Aris ke T Studio.” Aku menjawab pertanyaan kakakku.
“Asyiiiiiiik...” seru Aras dan Aris sambil lompat-lompat.
“Besok Lena dan Atep mau ngajak Aras dan Aris ke T Studio.” Teh Iyah memperjelas rencana besok.
“Oh… mau latihan jadi orangtua ya?” tanya kakakku dengan nada menggoda.
“Apaan sih Aa? Ngarang.” Aku memukul bahu kakakku kesal karena sudah membuatku malu di hadapan si Atep itu.
“Ya baguslah kalian besok ajak Aras dan Aris sampai sore. Lumayan kan kami jadi punya waktu untuk berduaan saja.” kakakku mengedipkan sebelah matanya pada Teh Iyah.
__ADS_1
“Dasar pasangan bucin.” Aku selalu menggerutu setiap kali mereka bermesraan di hadapanku tetapi tidak pernah dipedulikan oleh mereka. Mereka mana peduli pada sekeliling kalau sudah bermesraan.
“Mau kemana, Tep?” tiba-tiba ibu menghampiri kami.
“Mau pamit dulu, Bu. Ada pekerjaan yang harus saya bereskan. Besok saya mau minta izin sama Ibu dan Abah untuk mengajak Lena jalan-jalan.” Tanpa rasa malu, dia meminta izin pada ibuku.
“Boleh…boleh…biar sekalian jadi ajang untuk saling mengenal,” ucap ibuku bersemangat.
Dasar ibu, dia pasti senang calon menantunya mengajakku jalan-jalan. Eh, calon menantu? Ah Lena, kamu memang sudah benar-benar terhipnotis pesona dia. Bagaimana mungkin aku menyebut dia calon menantu ibuku? Pikiranku memang sudah tidak waras.
“Abah… ini calon menantu Abah mau pamit pulang dulu.” Ibu berteriak memanggil Abah. Apa yang diteriakkan Ibu membuatku malu. Sekarang semua orang pasti sudah tahu kalau leki-laki menyebalkan bernama Atep itu sudah sah menjadi menantu abah dan ibu. Duh...
"Ibu, siapa yang calon menantu abah? Belum juga pasti, tapi sudah teriak-teriak seperti itu. Bikin malu saja."
Kurasakan wajahku menghangat.
"Sudah pasti, Lena sayang. Ibu dan abah sudah kasih lampu hijau."
"Ih..."
“Mau kemana pulang cepat-cepat, Tep?” tanya abah.
“Pamit pulang dulu, Abah. Ada yang harus dikerjakan malam ini,” jawabnya sopan.
“Besok Atep mau mengajak Lena jalan-jalan.” Ibu memberitahu Abah tentang rencana kami besok.
“Saya mau minta izin sama Abah untuk mengajak Lena jalan-jalan.”
Cih, basa basi busuk. Aku yakin dia sudah menyadari kalau abah pasti mengizinkannya. Lihat saja wajahnya yang menyebalkan itu. Menyebalkan sekaligus menggemaskan. Apa-apaan sih otak ini? Yang dipikirkannya hanya dia saja.
“Bagus! Jadi kalian bisa lebih saling mengenal. Tapi jalan-jalannya jangan berduaan saja. Abah khawatir kalau cuma berduaan saja, besoknya Abah harus menikahkan kalian berdua.”
“Abaaah…” seruku memprotes pernyataannya.
“Abah cuma bercanda, Lena sayang.”
“Besok mereka mau ngajak Aras dan Aris juga. Katanya mau latihan jadi orangtua.” kakakkku yang menyebalkan itu turut menggodaku.
“Oh, bagus itu. Selain Lena dan Atep yang latihan jadi orangtua, Endra sama Iyah juga jadi punya waktu untuk berduaan saja.” Abah bertepuk tangan akan rencana besok.
*****************
__ADS_1
to be continued...