Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
49. Pengakuan


__ADS_3

Atep POV


“Memangnya Teteh tahu isi hatinya Lena?” tanyaku penasaran.


“Sebagai sesama perempuan, sedikitnya Teteh tau lah gimana perasaan Lena sama kamu.”


“Memangnya gimana, Teh?” Aku mencondongkan tubuhku ke depan demi untuk mendengarkan penjelasan Teh Iyah.


“Heh…jangan dekat-dekat sama istri orang. Kamu mau aku bikin babak belur, hah?” A Endra menarik kerah bajuku dari belakang.


Teh Iyah tertawa mendengar perkataan suaminya sedangkan aku harus menahan dongkol karena kerah kamejaku menjadi kusut akibat ditarik paksa.


“Si Aa mah cemburuannya tingkat dewa. Sama adik sendiri saja dicemburui.”


“Bukan adik sedarah. Kalian tidak diharamkan untuk menikah. Siapa tahu juga kalau dulu aku tidak datang tepat waktu, ini bocah melamar kamu buat jadi istrinya.”


Nah, nah kan. Laki-laki ini memang berbahaya. Walaupun perkataannya seringkali bikin orang sakit hati tapi sering sesuai fakta juga. Jangan sampai deh perasaanku pada Teh Iyah terbongkar. Bisa-bisa aku gagal mendapatkan adik perempuannya.


“Iiiih kalau ngomong tuh suka asal deh.” Teh Iyah memukul lengan suaminya.


“Jadi bagaimana, Teh?” tanyaku masih penasaran dengan isi hatinya Lena.


“Bagaimana apanya sih?” tanya Teh Iyah sepertinya lupa kalau dia akan memberitahuku tentang isi hatinya Lena.


“Itu bagaimana perasaan Lena sama Atep?”


“Ohhh….kamu pengen tau atau pengen tau banget?” goda Teh Iyah sambil mengedip-ngedipkan mata.


“Tidak usah genit. Nanti dia kegeeran” ucap A Endra tajam sambil menunjuk ke arahku dengan dagunya.


Sepertinya feeling A Endra memang tajam. Dia bisa tahu kalau aku pernah mencintai Teh Iyah. Gawat ini….


“Apa siiiih? Aa ngegemesin deh.” Teh Iyah mencubit kedua pipi suaminya.


Cih…dasar pasangan bucin. Aku menggerutu dalam hati.


“Teh, jadi tidak?” tanyaku tidak sabar.


"Jangan bentak-bentak istri orang! Mau aku tonjok, hah?"


Teh Iyah tergelak melihat raut ketakutan dari wajahku yang pasti jelas terlihat karena bentakan suaminya.


"Jangan galak-galak sama calon adik ipar, A."


"Adik ipar yang tidak sopan. Sudah berani tidur bersama. Calon adik ipar mana lagi yang sekurang ajar adik kamu itu?"


"Eh, siapa yang tidur bareng? Saya tidak..."


“Jadi gini, Tep. Perempuan itu pandai menutupi isi hati yang sebenarnya." Teh Iyah memotong perkataanku dan idak mengindahkan gerutuan A Endra.

__ADS_1


Aku mengangguk-angguk antusias mendengar penjelasan Teh Iyah.


"Kalau menurut Teteh, Lena itu ada perhatian juga sama kamu. Buktinya, dia sering cerita tentang mahasiswanya yang nyebelin itu. Nah mahasiswa yang nyebelin itu ternyata kamu. Sering loh kita godain Lena kalau dia mungkin bakalan suka sama mahasiswa yang nyebelin itu. Sampai sini kamu ngerti?” tanya Teh Iyah.


Aku menggelengkan kepala tanda tidak mengerti. Aku juga melihat A Endra yang menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia juga tidak mengerti pada apa yang dijelaskan oleh istrinya.


“Wanita memang makhluk yang sangat luar biasa uniknya. Aku sampai tidak mengerti dengan penjelasan dari istriku sendiri.” A Endra menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aku terkekeh melihat kelakuan absurd pasangan suami istri di hadapanku ini.


“Aa...” rajuk Teh Iyah manja.


“Coba jelaskan lagi, sayang. Biar kami lebih paham.”


“Dasar kalian para lelaki memang lemot dan tidak peka. Makanya kami, kaum perempuan sering dibuat jengkel karena ulah kalian.” gerutu Teh Iyah.


Aku dan A Endra saling bertukar pandang.


“Nih, Teteh kasih tau. Dengarkan baik-baik. Yang namanya perempuan itu suka menutupi apa yang sebenarnya. Kalau dia bilang tidak suka, sebenarnya dia itu suka. Jadi kalau Lena bilang tidak suka sama kamu, artinya dia suka sama kamu. Buktinya sangat jelas.”


“Bukti apa?” tanyaku dan A Endra kompak.


“Bukti kalau kamu sudah mendapatkan perhatian dari Lena. Aa ingat kan bagaimana Lena bercerita tentang mahasiswanya itu?” tanya Teh Iyah pada suaminya.


“Mahasiswa yang bikin dia kesal?” tanya A Endra menyindirku.


“Iya sih, mahasiswa yang menjengkelkan. Tapi karena itulah Lena jadi terus kepikiran sama Atep. Nah, karena sering dipikirkan jadi suka deh.”


“Iiiih ai Aa. Itu teori khusus kaum wanita. Hanya kami yang paham teori itu.”


Kulihat Kagendra menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar teori yang dinyatakan Teh Iyah.


“Aa gak percaya sama Iyah?” bentak Teh Iyah marah.


“Percaya sayang. Sangat percaya.”


“Bagus! Jadi kamu jangan khawatir, Tep. Teteh yakin kalau Lena juga suka sama kamu. Cuma dia masih gengsi buat mengakui kalau dia juga suka sama kamu. Sekarang Teteh tanya sama kamu. Kamu yakin mau menikah sama Lena?”


Aku melihat ke arah A Endra dan ia mengangguk tanda mendukungku.


“Yakin, Teh!” jawabku dengan kepercayaan diri yang meningkat karena dukungan dari A Endra.


“Nah itu yang terpenting. Kamu harus yakin dulu. Kamu juga jangan merasa rendah diri kalau berhadapan dengan Lena. Lena memang perempuan mandiri dan memiliki karir yang bagus tapi bukan berarti kamu lebih rendah dibandingkan dia. Paham, Tep?


“Paham, Teh.”


“Bagus. Itu jawaban yang ingin Teteh dengar. Teteh gak mau kamu merasa rendah diri.”


“Tadi Atep sudah diskusi sama A Endra dan mendapatkan pencerahan.”

__ADS_1


“Tumben Aa peduli sama orang lain,” sindir Teh Iyah.


“Kan supaya proyek perjodohan kamu berhasil, Aa harus bantu,” kekeh Kagendra.


“Aa memang the best deh.” Setelah melemparkan pujian pada suaminya, Teh Iyah menciumi wajah suaminya.


“Serasa dunia milik berdua, yang lain ngontrak,” gerutuku.


“Iri? Makanya cepet halalin Lena.” Teh Iyah tertawa setelah menyindirku.


“Kamu sudah sarapan belum? Kita makan dulu yuk. Teteh bikin nasi goreng spesial.” Teh Iyah menawarkan sarapan dan aku menerimanya.


“Ini singkong sama ubi rebus siapa yang makan?” tanyaku.


“Buat Mang Atang saja.”


Kemudian Teh Iyah memanggil Mang Atang, satpam yang sedang berjaga di pos satpam dan memberikan piring berisi singkong dan ubi rebus.


“Air teh nya bawa ke dalam!” perintah Teh Iyah.


“Aras dan Aris belum bangun?” tanya A Endra.


“Belum. Sebentar Iyah bangunkan dulu mereka. Biasanya mereka bangun pagi tapi semalam mereka tidur agak malam karena nonton dan main game bareng Lena,” jelas Teh Iyah.


“Lena sudah bangun?” tanya A Endra dan aku pun penasaran dengan jawabannya karena aku belum melihatnya berkumpul di ruang makan.


“Sepertinya belum. Tadi habis salat subuh berjamaah dia langsung masuk kamar lagi,” jawab Teh Iyah.


“Kebiasaan buruk. Habis salat subuh tidur lagi,” gerutu Kagendra. “Nanti kalau sudah menikah, kamu harus nasehati dia. Dia itu banyak kebiasaan buruknya.”


Uhuk...


Mendengar apa yang diucapkan Kagendra, air minum yang sudah setengah jalan melalui tenggorokanku membuatku tersedak.


“Tidak perlu kaget seperti itu. Aku harus memberitahu yang buruk-buruknya tentang adikku karena kalau yang baik-baiknya pasti kamu akan menikmatinya. Tapi belum tentu nanti kamu bisa menerima kebiasaan buruk dari Lena,” jelas A Endra.


“Iya, A.”


Baru saja aku menyuapkan suapan pertamaku ke dalam mulut ketika kudengar suara serak khas orang baru bangun tidur.


“Teeeeeh….Lena lapaaar.”


Aku melihat seorang perempuan dengan rambut sebahu acak-acakan karena baru bangun tidur. Mata dan mukanya sedikit bengkak hasil begadang.


Aku memang pernah tak sengaja melihat Lena tanpa hijabnya, tapi tidak sejelas saat ini. Aku juga pernah melihat wajah baru bangunnya tapi tidak seacak-acakan pagi ini. Aku juga pernah melihat sikap galak dia setelah bangun tidur tapi baru kali ini aku melihat sikap manjanya ketika bilang lapar.


Aku memandangnya, dia memandangku. pandangan kami saling mengunci dan detik berikutnya….


“Aaaaargh…..”

__ADS_1


to be continued.....


__ADS_2