Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
53. Bermain Bersama


__ADS_3

Atep POV


Sejak pagi tadi…ah bukan hanya tadi pagi tapi sejak kemarin ketika merencanakan kegiatan hari ini, aku sudah merasa senang dan bersemangat. Tapi kegembiraanku sepertinya tak diiringi oleh kegembiraan yang sama darinya. Sejak tadi pagi sepertinya dia selalu menghindariku. Hanya di taman komplek saja aku bisa mengobrol dengannya.


Walaupun sebenarnya kami memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk berinteraksi lebih sering saat menunggu Aras dan Aris bermain, tapi aku tidak mendapatkan kesempatan itu karena dia lebih asyik dan fokus pada ponselnya. Pertanyaan-pertanyaanku hanya dijawabnya dengan ya, tidak, anggukkan atau gelengan kepalan.


Karena merasa mood memburuk, aku memutuskan untuk menjauh sejenak darinya. Aku pamit pergi ke toilet dan selanjutnya aku akan jalan-jalan saja di mall sambil melihat-lihat. Aku menuju lantai satu dimana ada beberapa toko perhiasan. Aku masuk ke sebuah toko perhiasan dan memutuskan membeli cincin untuk ulang tahunnya minggu depan.


Tidak lama setelah aku menginjakkan kaki di dalam toko perhiasan tersebut, seorang pelayan toko yang cantik dan ramah menanyakan apa yang aku butuhkan.


“Ada cincin yang cocok untuk melamar?” tanyaku pada pelayan toko yang tadi menyapa.


Lalu pelayan toko itu mengeluarkan beberapa cincin ke atas etalase kaca dan menjelaskan keunggulan dari cincin-cincin yang dia tunjukkan satu persatu.


Ada satu cincin yang menarik perhatianku. Modelnya sederhana dengan satu mata cantik melekat di tengahnya. Mungkin mata cantik itu berlian karena sangat berkilau dan ketika kutanyakan harganya pun cukup mahal dan bisa menguras isi dompet dan saldo di rekening.


Aku membayangkan Alena memakai cincin itu dan seketika senyumku terkembang.


“Saya ambil yang ini!” kataku mantap.


Lalu aku mengeluarkan kartu debit untuk membayar cincin yang aku beli. Memang sangat mahal tapi sebanding untuk menyatakan keseriusanku untuk melamarnya.


Ketika pelayan toko itu memasukkan kotak cincin ke dalam paper bag, aku menolaknya. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku sudah membeli cincin dari paper bag yang aku tenteng. Aku memasukkan kotak cincin tersebut ke dalam saku jaket.


Setelah dari toko perhiasan, aku melihat-lihat di toko mainan anak-anak. Aku ingin membelikan mainan untuk Aras dan Aris, tapi setelah diingat lagi kalau sudah banyak mainan yang mereka miliki, aku mengurungkan niat.


Setelah hampir satu jam aku berkeliling tanpa tujuan, aku berjalan kembali ke lokasi tempat Aras dan Aris bermain. Sekarang sudah lewat tengah hari. Kami harus salat dan makan siang.


Ketika aku tiba di tempat permainan, aku masih melihat Alena duduk menunggu Aras dan Aris yang masih asyik menaiki wahana permainan.


“Len, kita salat dan makan siang dulu.” Aku duduk di sampingnya.


“Hmm…”

__ADS_1


Hanya itu jawaban yang dia berikan dan aku hampir dibuat kesal oleh kelakuan perempuan di sampingku ini.


Aku beranjak dari duduk ketika aku melihat Aras dan Aris hendak menaiki wahana yang lain.


“Aras…Aris!” aku memanggil dan menghampiri mereka.


Aras dan Aris mendengar panggilanku kemudian menghampirku dengan berlari.


“Ada apa, Mang?” tanya Aras.


“Kita salat dan makan dulu ya.”


“Masih mau main, Mang,” jawab Aris menolak ajakanku.


“Kalau kalian tidak menurut sama Mang Atep, nanti Mang Atep laporin sama Ayah.”


Mereka menurut setelah aku menyebut nama ayah mereka dalam ancamanku. Ternyata satu nama yang kuucapkan sudah cukup membungkam Aras dan Aris.


Aku berjalan sambil menuntun Aras dan Aris.


Dia mengikutiku tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Setelah selesai salat zuhur, aku mengajak Aras dan Aris untuk makan siang dan sengaja tidak menyertakan dia dalam ajakanku.


Kami berempat sudah duduk mengelilingi meja di sebuah food court.


“Aras dan Aris mau makan apa?” tanyaku pada di kembar.


Kulihat dia masih saja fokus dengan ponselnya. Karena kesal, aku merebut ponselnya dan menyimpannya di saku depan jaket.


“Simpan dulu hapenya. Sekarang pesan dulu makanan!” ucapku tegas.


“Kembaliin hapenya!”

__ADS_1


“Nanti aku kembaliin setelah kamu selesai makan,” jawabku tegas.


“Iya nih Tante dari tadi main hape terus. Nanti dimarahin Ayah loh kalau makan sambil main hape.” Aris memperingatkan tantenya.


“Iya…iya,” sahut Alena bersungut karena ponselnya aku sita.


Ah, ternyata pengaruh A Endra sangat kuat. Ancaman Aris cukup untuk membuat Alena menurut.


“Kamu mau makan apa?” tanyaku padanya.


“Terser….”


“Jangan bilang terserah.” Aku memotong ucapannya sambil menggenggam tangan dia.


Dia berusaha melepaskan genggaman tanganku tapi tenagaku lebih kuat darinya sehingga tidak mudah ia lepas dariku.


“Aras dan Aris mau makan apa? Mang Atep sama Tante Lena beliin.”


“Aras mau makan kwetiaw goreng saja sama minumnya jus jeruk,” sahut Aras.


“Aris mau makan nasi sama ayam goreng saja, minumnya jus jeruk juga,” jawab Aris.


Aku menarik tangan Alena untuk mengikutiku memesan makanan dan minuman untuk kami berempat.


“Lepasin ih tangan kamu.” Dia berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tanganku.


Bukannya melepaskan, aku malah makin erat menggenggam tangannya dengan mengaitkan jari-jari kami.


“Malu tau.” Dia mulai merengek agar aku melepaskan tangan kami yang saling menggenggam.


Sebenarnya aku yang mengaitkan jari-jari tanganku yang otomatis jari-jari tangannya pun jadi mengait pada jari-jari tanganku.


Aku memesan dan membayar makanan dan minuman yang kami pesan tanpa melepaskan genggaman tangan kami.

__ADS_1


***********


to be continued....


__ADS_2