Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
67. Satu Bulan


__ADS_3

Alena POV


“Apa…satu bulan lagi?” aku terkejut sampai hampir berteriak ketika Aki mengusulkan tanggal dan hari pernikahan kami.


“Abah, satu bulan itu sebentar lagi. Lena merasa belum siap kalau menikah dalam waktu satu bulan.” Aku berbisik pada Abah yang duduk di sampingku.


“Memangnya berapa lama yang kamu butuhkan sampai akhirnya kamu siap menikah?” Abahku bertanya dengan berbisik pula.


“Satu tahun lagi deh,” usulku.


Kuberanikan diri untuk mengangkat wajah dan melihat ke arahnya. Dia sedang menatapku sambil tersenyum manis hingga membuat jantungku kembali berulah. Ah, dasar cowok nyebelin. Seenaknya saja dia memasuki relung hatiku sampai membuatku gelisah seperti ini.


“Kelamaan. Kamu keburu tua kalau menunggu satu tahun lagi. Lagian tidak baik kalau kalian terlalu lama bertunangan. Niat baik itu harus segera dilaksanakan. Kamu mau menunggu apa lagi? Usia kalian sudah cukup dan kamu sudah bekerja, begitu pun Atep juga sudah bekerja dan berpenghasilan. Abah pikir dia sudah sanggup menggantikan Abah untuk menjaga dan memberi kamu makan.”


“Ih, Abah! Memangnya Lena apaan harus diberi makan segala sama orang lain. Lena bisa beli makan sendiri.”


Abah terkikik mendengar protesku.


“Abah mah nyebelin. Malah ngetawain Lena. Ya sudah setengah tahun saja.” Aku merevisi usulku.


“Masih terlalu lama,” kata Abah.


Aku mencubit lengan abah karena kesal. Bukannya kesakitan, Abah malah tertawa semakin keras.


“Ada apa Lena? Kamu tidak sreg dengan hari dan tanggal yang Aki usulkan?” tanya Aki membuatku gelagapan.


“Eh, bukannya begitu Aki. Tapi Lena pikir….


“Apa yang kamu pikirkan?”


“Satu bulan itu terlalu cepat. Lena juga butuh persiapan yang matang. Tidak bisa grasak grusuk seperti ini,” kataku mencoba meyakinkan Aki agar merubah keputusannya.


“Aki sudah tua. Entah berapa lama lagi Aki ada di dunia ini. Aki ingin menyaksikan kamu menikah. Lebih cepat lebih baik. Andaikan calon suami kamu ini sanggup menikahi kamu hari ini juga, Aki malah lebih senang. Bagaimana Atep? Apa kamu sanggup menikahi Lena hari ini juga?”


Kulihat Aki menatap Atep dengan tajam dan mengintimidasi.


Kulirik dia dan ekspresi wajahnya terlihat sumringah, sepertinya dia akan mengiyakan permintaan Aki. Gawat…


“Satu bulan lagi. Lena setuju satu bulan lagi, Aki.”


Sebelum dia menyanggupi permintaan Aki, aku langsung menyambar. Lebih baik aku menyiapkan hati selama satu bulan daripada langsung ditembak hari ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hatiku akan baik-baik saja jika hari ini aku langsung menjadi miliknya.


Kulihat dia menyunggingkan bibir. Terlihat sangat tampan. Oh, Tuhan, apakah aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya? Aku tidak pernah menyangka bahwa hatiku akan mencinta dia seperti ini.


Kalau diingat pertemuan-pertemuan awal kami yang selalu cekcok seperti Tom and Jerry, rasanya tidak percaya jika sekarang hati kami tertaut seperti ini. Aku harap dia juga mencintaiku seperti aku yang mencintainya.

__ADS_1


Kuletakkan tangan kanan di atas dada dan kurasakan detak jantungku. Ah, ritmenya tidak sekencang tadi, tapi detakannya masih terasa aneh. Rasa ini masih terasa aneh. Rasa yang selama berbulan-bulan kutepis dan kuhalau dengan sekuat tenaga dan hati tapi masih tetap bertahan dan malah menelusup dan bersemayam di hati semakin dalam.


Dasar si gondrong nyebelin. Eh, sekarang dia sudah tidak gondrong lagi. Hari ini ia tampil dengan sangat formal dan rapi. Rambutnya disisir dengan rapi dan tidak ada kesan anak berandalan yang kerap kulihat dulu ketika ia masih berstatus sebagai mahasiswaku.


Atep, kamu sudah mengambil hatiku tanpa izin. Tapi itu anggapanku dulu, sekarang sepertinya aku dengan kesadaran penuh akan menyerahkan hatiku hanya untuk kamu. Aku harap kamu tidak membuatku kecewa.


*******


Atep POV


Sudah diputuskan, satu bulan lagi kami akan menikah. Semua urusan yang berkaitan dengan pesta pernikahan sudah dikerjakan oleh Wedding Organizer yang disewa oleh Teh Iyah.


Ya, betul sekali. Teh Iyah bersikeras untuk mengurus semua detail pernikahanku dan Alena. Awalnya aku menolak karena aku tidak ingin Teh Iyah kelelahan karena mengurus acara resepsinya, tapi Teh Iyah mengancam kalau dia tidak akan mengakuiku sebagai adiknya kalau aku tidak membiarkan dia terlibat.


Aku sudah meminta pada suami Teh Iyah agar melarang istrinya tapi ternyata Teh Iyah juga mengancam suaminya kalau sampai melarang dia mengurusi pernikahan aku dan Alena.


Maka di sini lah aku setelah selesai mengurus persyaratan untuk menikah, aku duduk di depan laptopku, memeriksa semua laporan selama satu bulan. Oh iya, kami memutuskan untuk menikah di Bandung karena kebanyakan saudara dan teman-teman kami berada di kota ini.


Tempat pernikahan sudah ditentukan, Alena ingin resepsi pernikahan kami berlangsung secara sederhana saja dengan konsep pesta kebun. Daripada mencari-cari tempat lain yang kemungkinan susah untuk didapat karena terbatasnya waktu persiapan, aku mengusulkan tempat resepsinya di cafe milikku.


Cafe ini cukup luas dan bisa menampung banyak tamu. Pemandangannya pun sangat bagus. Alena pasti senang dengan usulku. Dia sudah pernah aku ajak ke cafe dan sangat menyukainya.


Dengan tidak sabar, aku langsung menghubunginya.


Panggilan pertama, dia tidak mengangkat teleponnya. Aku mengirimkan sebuah pesan menanyakan apakah dia sedang sibuk mengajar atau sedang santai.


“Ada apa?”


“Ucap salam dulu, Len.”


Eh iya, lupa. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


“Ada apa telepon?” tanyanya masih ketus. Ah, suara ketusnya akan selalu menjadi favoritku.


“Kalau calon suami telepon itu, tanyakan dulu kabarnya. Jangan langsung tanya begitu.”


“Semalam kita ketemu. Ngapain juga nanyain kabar pagi ini. Kalau seminggu tidak bertemu baru tanya kabar.”


Ah, dasar Alena. Wanitaku yang tak pernah basa basi.


“Kenapa diam? Kalau tidak ada yang dibicarakan, aku tutup saja teleponnya. Sebentar lagi aku mau ke kelas.”


“Tunggu, Len. Jangan main tutup dulu dong. Aku mau membicarakan tentang tempat resepsi pernikahan kita. Aku mengusulkan di cafe tempat kita makan siang dulu. Bagaimana? Kamu setuju?”

__ADS_1


“Setuju. Aku suka. Tempatnya cozy dan sepertinya akan bagus jika kita jadikan tempat untuk resepsi.”


“Jadi kamu suka dengan ideku?”


“Suka. Sangat suka. Sejujurnya, pertama kali aku datang ke cafe itu, aku sudah jatuh cinta dengan pemandangannya. Aku suka desain interior cafe-nya. Aku suka pemandangan yang bisa dinikmati di cafe sambil menyesap minuman hangat. Dulu aku membayangkan pernikahanku akan dilangsungkan di tempat seperti itu. Sekarang, sepertinya impianku akan terwujud.”


“Kamu suka sekali dengan cafe-nya?”


“Sangat suka.”


Aku senang karena Alena suka dengan cafe-nya. Aku berharap dia juga menyukai pemiliknya.


“Sekalian saja akadnya juga di sana. Bagaimana?” usulku.


“Aku setuju. Nanti aku bilang sama Teh Iyah kalau tempatnya fix di cafe itu. Apa nama cafe-nya? Aku lupa.”


“Namina Nyunda.”


“Oke. Habis ini aku mau langsung telepon Teh Iyah.”


“Biar aku saja yang bilang sama Teh Iyah.” Aku menawarkan diri.


“Oke. Oh iya, jangan lupa nanti siang jadwal kamu buat fitting baju pengantin.”


“Hm…Len…”


“Apa?”


“Kamu yakin dengan ini?” tanyaku ragu-ragu.


“Apa maksud dari pertanyaan kamu?”


“Hmm…kamu yakin dengan pernikahan ini? Kamu yakin mencintai aku? Kamu cinta kan sama aku?”


“Kenapa kamu bertanya seperti itu? Jangan-jangan kamu yang tidak yakin dengan rencana pernikahan kita. Apakah hati kamu sudah berpindah? Kamu jatuh cinta sama perempuan lain? Kamu ingin membatalkan rencana pernikahan kita karena perempuan itu? Kalau itu yang kamu inginkan, kita batalkan saja rencana pernikahan kita. Masalah dengan keluargaku itu urusanku. Kamu tidak usah ikut campur.”


Dia marah dan langsung menutup sambungan teleponnya. Aku hanya bisa memandang kosong layar ponsel di hadapanku.


Rencana pernikahan ku batal. Kalimat ini terus terngiang di telingaku. Aku memang bodoh. Kenapa aku mengajukan pertanyaan bodoh pada Alena? Seharusnya aku tidak bertanya seperti itu. Seharusnya aku yakin dengan karakter seperti Alena, dia tidak akan ragu jika dia sudah memutuskan.


Batal?


Tidak bisa kubiarkan hal ini terjadi. Setelah tersadar dari kebodohanku aku langsung menghubungi kembali calon istriku yang pemarah itu.


Seperti yang sudah kuduga. Dia tidak mengangkat panggilan telepon dariku. Sepertinya aku harus kembali menyusahkan Teh Iyah.

__ADS_1


******


to be continued...


__ADS_2