Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
45. Devil


__ADS_3

Atep POV


“Hai, Alena.”


“Hai, Lena.”


Aku tersenyum bahagia ketika pertama kalinya aku menyebut nama dia tanpa embel-embel Bu.


“Alena.”


“Lena.”


“Lena.”


Aku berkali-kali memanggil namanya.


“Aku suka memanggil nama kamu. Nama yang cantik, secantik pemiliknya,” ucapku tulus dari dalam hati.


“Tidak usah menggombal!” bentaknya kesal.


Aku terkekeh mendengar suaranya yang seksi. Aku sudah gila menganggap suara dia seksi. Sepertinya aku harus diruqyah untuk membersihkan pikiranku yang sudah tercemar.


“Alena Damayanti Nataprawira. Aku suka sama kamu,” ikrarku dalam hati.


Tidak sulit bagiku untuk mengingat nama lengkapnya.


Kelak aku tidak akan kesulitan saat mengucapkan nama lengkapnya yang panjang itu ketika ijab kabul. Aku kembali terkekeh saat membayangkan diriku berjabat tangan dengan ayahnya sambil mengucapkan ijab kabul.


***********


"Aku tidak menilai diri terlalu berlebihan. Aku hanya bilang kalau aku mendengar nada cemburu dari suara kamu."


"Hah, memangnya kamu ahli suara yang bisa menebak perasaan seseorang dari hanya mendengar suaranya? Dasar menyebalkan."


Ah bayangan itu muncul lagi. Bayangan dia mengenakan gaun panjang berwarna putih bersih dan kerudung dengan warna yang sama menjuntai menyelimuti tubuhnya.


“Kamu lagi membayangkan apa sambil senyum-senyum seperti itu?” tanyanya ketus.


“Membayangkan akad pernikahan kita,” jawabku jujur.


Dia mencubit keras lenganku.


“Aww…sakit Len,” protesku.


“Jangan membayangkan yang aneh-aneh. Awas kamu kalau berani membayangkan hal yang begituan lagi,” ancamnya.


“Aku kan sedang membayangkan hal yang mungkin akan terjadi di masa depan kita. Bukan hal-hal yang aneh.” jawabku.


“Gak boleh!”


“Kok gitu sih, Len?”

__ADS_1


“Lan Len Lan Len. Jangan seenaknya memanggilku Lena atau Len. Hanya keluarga, saudara dan sahabat-sahabat aku saja yang boleh manggil aku Len atau Lena. Selain itu panggil aku Alena atau Bu Alena,” tegasnya.


“Tapi aku kan calon suami kamu. Sebentar lagi juga bakal jadi keluarga kamu.”


“Belum tentu,” jawabnya ketus.


“Tapi aku suka memanggil kamu Lena…Len…Lena…”


“Gak boleh!” jeritnya tertahan.


“Lena…”


“Kamu….” dia memelototkan matanya yang terlihat sangat lucu.


“Apa, Len?” aku sangat suka menggodanya. Ini menjadi candu untukku.


“Dasar menjengkelkan.” Dia memukuli lengan dan bahuku.


Aku tertawa terbahak melihat kelakuannya yang kekanak-kanakkan.


Eh, tapi kan sikapku juga kekanak-kanakkan. Aku terus memanggil-manggil namanya walaupun itu membuatnya kesal. Tapi bagaimana lagi. Aku suka menyebut namanya.


“Kapan kamu mau aku lamar? Apa hari ini saja langsung aku lamar mumpung abah dan ibumu ada di sini?” tanyaku terdengar seperti menggoda tapi sebenarnya aku sangat serius untuk melamarnya hari ini juga. Kalaupun tidak hari ini, nanti, dalam waktu dekat aku pasti akan melamarnya.


“Jangan main-main!” bentaknya.


“Aku tidak main-main. Aku serius ingin menjadikan kamu sebagai ibu dari anak-anakku.” Aku menatapnya dan melihat raut wajah ketakutan.


“Kamu tidak mau jadi ibu dari anak-anakku?” tanyaku.


“Gak mau… eh bukannya begitu…eh…tidak mau…eh…gimana sih? Pokoknya aku gak mau menikah cepat-cepat. Aku mau fokus dengan pekerjaanku dulu setidaknya sampai usiaku 30 tahun.”


Aku tersenyum mendengar jawaban yang sedikit plin plan.


“Jadi gak mau? Bukan begitu? Tidak mau? Atau bagaimana?” godaku.


“Kita belum terlalu lama saling mengenal. Kalaupun kita saling kenal tapi setiap bertemu kita pasti selalu berdebat. Aku gak mau punya suami yang selalu mendebatku. Bagaimana bisa aku menjalani pernikahan yang di dalamnya selalu ada perdebatan. Aku takut membayangkan pernikahan yang semacam itu.” Dia mengungkapkan kekhawatirannya.


“Tapi kalau kita menikah nanti dan jadi pasangan suami istri yang sah, aku tidak akan mendebat kamu,” janjiku.


“Ah, kamu tidak bisa merubah karakter kamu semudah kamu membalikkan telapak tangan. Karakter seperti kamu itu susah berubahnya,” ujarnya terdengar meremehkan.


“Cinta akan merubah segalanya. Lihat saja kakak kamu. Memangnya dia punya sifat yang baik dan mengagumkan? Kita sama-sama mengetahui bagaimana sikap kakak kamu sebelum dia jatuh cinta sama Teh Iyah. Lalu lihat dia sekarang. Bagaimana dia memperlakukan istrinya? Bandingkan sikap kakak kamu di masa lalu dan sikapnya yang sekarang. Perlu kamu tahu kalau sifat kakak kamu itu jauh lebih buruk daripada sifatku.” Sepertinya aku memberikan contoh yang tepat. Karena dia terlihat tidak bisa membalas kata-kataku.


“Pokoknya aku tidak mau menikah sekarang,” tegasnya.


“Kamu cuma tidak mau menikah sekarang. Berarti kalau besok mau kan? Kamu tidak mengatakan kalau kamu tidak mau menikah denganku. Berarti kamu mau menikah dengan aku, kan?” tanyaku untuk menegaskan.


“Eh, aku juga tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku kenal dengan baik,” jawabnya gugup.


“Tapi kita bisa saling mengenal lebih jauh lagi. Masih ada banyak waktu untuk saling mengenal. Kamu bisa bertanya pada Teh Iyah dan ibuku tentang baik dan burukku dan aku bisa bertanya pada Teh Iyah dan kakak kamu untuk mengetahui baik dan buruk kamu. Kita juga bisa sering bertemu dan berdiskusi untuk lebih saling mengenal,” usulku.

__ADS_1


“Aku tidak mau menikah dengan ka…”


Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, aku menarik tangan dia dan menggenggamnya.


“Jangan mengatakan hal diluar kekuasaan kamu. Aku dan kamu tidak tahu dengan siapa kita berjodoh. Bisa jadi orang yang ada di hadapan kamu sekarang ini adalah jodoh dunia dan akhirat kamu.” Aku menatapnya tajam.


Dia memalingkan wajahnya ke samping tapi aku segera meraih ujung dagunya dan mengarahkan agar aku bisa menatap matanya lagi.


“Jangan halangi aku untuk bisa mengenal kamu lebih jauh,” tegasku.


Dia berusaha untuk memalingkan wajahnya kembali tapi cengkraman tanganku lebih kuat sehingga ia tidak bisa kembali memalingkan wajah.


“Lihat aku. Jangan terlalu membenci orang terlalu berlebihan karena bisa jadi besok kamu akan mencintai orang itu. Beri kesempatan kepada kita berdua untuk saling mengenal. Oke?” tanyaku tegas.


Dia mengangguk.


“Sudah selesai ngomongnya?” tanyanya.


“Hm….”


“Kalau begitu lepaskan tangan kamu dari wajahku.”


“Maaf.” Aku segera melepaskan tanganku.


Dia kembali menyandarkan tubuh di kursi lalu mengambil gelas berisi minuman, meneguknya hingga air di dalam gelas ia tandaskan. Sepertinya ia kehausan setelah berdebat denganku.


Aku teringat dengan nomor teleponku yang diblokirnya.


“Pinjam hape kamu,” pintaku.


“Buat apa?”


“Aku pinjam sebentar.” Aku mengambil ponsel yang sedang dipegangnya.


“Apaan sih?” dia mencoba merebut kembali ponselnya.


“Buka kuncinya.”


“Gak mau.”


“Kalau kamu tidak mau membukanya, aku tidak akan mengembalikannya sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” ancamku.


“Sini hapenya. Dasar menjengkelkan!” Dia membuka kunci ponsel dan aku langsung merebut dari tangannya.


Aku memijit nomor telepon dia dari ponselku lalu melihat layar ponselnya.


Devil calling….


Hah, ternyata dia menyimpan nomorku dengan nama Devil… Dasar Alena...


***********

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2