Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
33. Undangan Makan


__ADS_3

Alena POV


“Tidak perlu. Saya sudah memaafkan kamu dan berharap kalau kamu tidak akan pernah mengulangi lagi kesalahan kamu. Jangan terlalu sering meminta maaf karena permintaan maaf kamu akan tidak bernilai jika kamu terus mengulangi kesalahan yang sama terus menerus tanpa menyadari kesalahan kamu. Silahkan keluar kalau tidak ada lagi hal penting yang akan kamu sampaikan lagi.” usirku.


Sekarang, aku merasa sangat kesal dan marah. Ingin rasanya aku melemparkan barang-barang yang ada di atas meja je wajahnya yang menyebalkan. Kali ini, sikap dia benar-benar mengesalkan


“Sebentar… jangan usir saya dulu. Ada hal penting yang harus saya sampaikan.”


“Silahkan sampaikan dan jangan bertele-tele. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Aku berkata  tegas.


“Boleh kalau saya tetap meminta kamu untuk makan malam bersama saya?” Dia kukuh mengajakku untuk makan malam.


“Ish… kamu bilang mau menyampaikan hal penting. Jadi hal penting yang kamu bilang itu ajakan makan malam yang tadi sudah saya tolak? Kamu ini tidak mendengar jawaban saya tadi atau kamu pura-pura tidak mendengar, hah?” tanyaku nyaris membentak.


“Saya mendengar jawabannya tapi saya bersikukuh untuk tetap mengajak kamu untuk makan malam.” Jawaban dia makin membuatku kesal.


“Saya jarang makan malam. Makan malam itu tidak bagus untuk program diet.”


“Kenapa harus berdiet? Tubuh kamu sudah sempurna.”


“Tidak usah menggoda saya. Itu tidak sopan,” ketusku.


“Salah lagi deh,” ucapnya lirih tapi masih bisa kudengar dengan jelas.


Bibirku tersenyum melihatnya yang salah tingkah. Untungnya dia tidak melihat ke arahku sehingga dia tidak melihat aku yang tersenyum. Kalau dia melihat, bisa malu aku dibuatnya.


“Kalau tidak mau makan malam, bagaimana kalau makan siang besok? Mau kan?”


Ya ampun, kenapa sih dia terus memaksaku untuk makan bersama? Ditolak makan malam, dia menawarkan makan siang. Jangan-jangan kalau aku tolak makan siang, dia akan mengajakku untuk sarapan bersama.


“Tidak bisa karena besok saya sibuk. Jadwal mengajar saya penuh dari pagi sampai sore. Saya bukan kamu yang tidak banyak kerjaan setelah menyelesaikan sidang. Banyak hal yang harus saya kerjakan besok.” Aku memberikan alasan yang cukup logis untuk menolak undangannya.


“Walaupun sibuk, kamu harus tetap menjaga kesehatan. Jangan sampai melewatkan waktu makan karena banyak pekerjaanu” ucapnya khawatir.


Eh, apakah memang dia benar-benar merasa khawatir atau hanya anggapanku saja? Apa aku memang berharap dia mengkhawatirkan aku? Ih, bisa-bisanya aku punya harapan seperti itu.


Tidak boleh… tidak boleh… aku tidak boleh memiliki harapan seperti itu.


“Jadi bagaimana?”

__ADS_1


Pertanyaannya memutus lamunanku.


“Eh, apanya yang bagaimana?” tanyaku gugup.


“Makan siang. Kamu mau makan siang bareng saya?”


“Saya suka bawa makan siang sendiri,” jawabku asal.


Aku berharap dia tidak lagi memaksakan keinginannya untuk makan siang bersama.


“Kalau begitu, kita makan bersama di sini saja. Nanti saya juga bawa makan siang sendiri. Saya mau menemani kamu makan siang. Boleh?”


“Tidak.” jawabku tegas.


“Kenapa tidak?”


Arrrrrgh, aku kesal dengan pertanyaan-pertanyaannya yang memojokkanku. Kalau kami makan siang di ruangan dosen, bagaimana anggapan para dosen yang lain? Apa dia tidak memikirkan hal itu? Atau dia memang sengaja mau membuat skandal.


“Ya sudah, besok kita makan siang bersama di cafe yang dekat dari kampus. Saya masih ada jadwal mengajar sampai sore.”


Akhirnya aku mengalah dan mengiyakan ajakannya.


“Dasar pemaksa.” Aku menggerutu kesal.


“Kalau tidak memaksa, mana mungkin kamu setuju dan mau untuk makan siang bersama dengan saya. Kamu itu memang harus dipaksa atau kamu memang maunya dipaksa dulu, huh?”


“Sana pergi!” Aku mengusirnya.


“Besok saya jemput. Kamu harus mau saya jemput. Jangan coba-coba bersembunyi karena saya pasti akan menemukan kamu.”


“Tidak usah!” tolakku.


“Saya jemput! Kalau kamu tidak mau dijemput saya tetap memaksa untuk menjemput  kamu. Mengerti?” ucapnya memaksa.


“Terserah.”


“Bagus.” Senyuman terkembang di wajahnya.


“Menyebalkan.”

__ADS_1


“Tapi kamu suka, kan?” kekehnya.


“Never.” tegasku.


“Nanti juga kamu suka.”


“Never.”


“Saya yakin kamu pasti….”


“I said never. Kalau kamu tidak keluar sekarang. Saya jamin acara besok siang batal!” ancamku.


“Baik…baik… saya undur diri. Sampai jumpa besok Bu Alena cantik.”


"Pergi!"


Dia tersenyum dan sangat tampan. Jantungku berulah kembali.


“Terima kasih dosenku yang cantik. Besok saya jemput. Jangan lari dan bersembunyi dari saya. Assalamu’alaikum.”


Setelah mengucapkan salam, dia langsung keluar dari ruangan tanpa mendengar jawaban salam dariku.


Dasar manusia menyebalkan. Aku menggerutu tapi debaran jantungku bertalu-talu menghantam dada.


************


Jam 11 malam, aku masih saja merasa resah mengingat pertemuan kami besok. Entah mengapa aku merasa tidak tenang seperti ini. Aku sudah mencoba berbagai cara agar dapat tertidur awal tapi tetap saja tidak bisa. Kepalaku dipenuhi oleh sosoknya yang menyebalkan.


Aku sudah minum susu, berolahraga ringan, sampai membaca textbook materi perkuliahan agar tubuhku lelah dan tidur dengan cepat. Bukannya tidur cepat, aku malah melamun. Melamunkan dia dan pertemuan kami besok.


Kugelengkan kepala hingga terasa pusing. Ups, jangan sampai deh penyakit vertigoku kambuh gara-gara menggelengkan kepala. Atau... apa aku harus pura-pura sakit agar bisa menolak ajakan makan siang darinya. Ah, tapi kalau aku pura-pura sakit, aku takut kalau aku jadi betulan sakit. Lagipula besok aku memiliki jadwal mengajar di 3 kelas. Aku tidak bisa mengabaikan para mahasiswaku karena si gondrong nyebelin.


Eh, dia kan sudah tidak gondrong lagi. Sekarang penampilannya terlihat rapi. Rambutnya sudah tidak gondrong dan pakaiannya pun tidak urakan lagi. Dia sudah tidak memakai celana jeans dan jaket robek lagi. Aku rindu menyebutnya si gondrong nyebelin. Aku juga ingin melihat dia tampil urakan lagi. Dia terlihat lebih menarik saat tampil acak-acakan.


Uh, kenapa aku berpikiran aneh seperti ini sih? Sepertinya aku benar-benar sudah tidak waras. Aku tidak bisa tidur juga gara-gara dia. Kalau aku bertemu dia besok, akan aku.... ehm, aku akan apa? Aaargh... sudahlah.


Lebih baik aku baca novel yang aku pinjam dari Teh Iyah saja. Mudah-mudahan bisa mengalihkan pikiranku dari memikirkan dia terus.


Aku mulai membaca. Awal-awal membaca aku masih kesulitan berkonsentrasi dengan isi cerita novelnya. Berulang kali aku membaca halaman pertama karena wajahnya masih berseliweran di ruang kepalaku. Setelah beberapa kali membaca ulang, akhirnya aku berhasil mendapatkan konsentrasiku hingga bisa melanjutkan ke halaman selanjutnya hingga setengah dari isi novel berhasil aku baca sebelum akhirnya aku tertidur juga.

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2