Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
26. Bermalam


__ADS_3

Atep POV


Akhirnya aku bermalam juga di kediaman Bu Alena. Aku tahu seharusnya aku tidak boleh menginap tapi keadaannya darurat. Bu Alena sedang sakit dan membutuhkan pertolongan sedangkan tidak ada seorangpun yang bisa menemaninya sekarang.


Aku sudah menanyakan padanya apakah ada saudara atau siapapun yang bisa dihubungi untuk menemaninya tetapi ternyata Bu Alena terlalu keras kepala dan sok mandiri sehingga dia tidak mau merepotkan orangtua dan kakaknya yang sedang liburan.


Aku tidak tahu apakah Bu Alena berkata jujur atau mengada-ngada saja. Menurutku terlalu riskan jika dia mengorbankan kesehatan demi egonya. Mungkin dia memang berkata benar, orangtua dan kakaknya sedang liburan.


Bukannya aku tidak ikhlas menemani Bu Alena tapi aku kan laki-laki normal juga. Aku takut kalau aku khilaf. Siapa yang bisa menjamin, kan? Aku saja tidak bisa menjamin kalau aku bisa menahan diri. Bu Alena itu walaupun sangat jutek, terutama kepadaku tapi dia itu cantik dan di mataku dia cantik luar biasa..


Akhirnya, azan subuh pun berkumandang. Aku merasa lelah, baik secara raga maupun jiwa. Berlebihan? Tentu tidak berlebihan jika sepanjang malam aku tidak bisa memejamkan mata barang semenit atau dua menit. Pikiranku dipenuhi oleh sosok Bu Alena yang mungkin sedang tidur nyenyak di kamar sebelah atau mungkin dia pun tidak bisa tidur sama sepertiku. Ah, aku tidak mau berandai-andai. Bu Alena adalah perempuan yang tidak bisa aku gapai sama halnya seperti Teh Iyah.


Sebaiknya aku segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berwudu. Setelah selesai mandi dan berwudu di kamar mandi dekat dapur, pelan-pelan aku mengetuk pintu kamar Bu Alena.


Tok…tok…tok….


“Bu… Bu Alena.” Aku memanggil Bu Alena dengan suara pelan. Aku khawatir mengganggunya.


Setelah beberapa kali aku memanggil, belum ada respon dari Bu Alena. Aku mengetuk pintu sekali lagi dan agak keras.


“Bu... Bu Alena. Bu Alena sudah bangun?”


Beberapa lama kemudian, aku mendengar suara lirih dari dalam kamar.


“Ya.”


“Butuh bantuan saya?” tanyaku.


“Tidak perlu. Saya bisa sendiri.” Aku mendengar jawaban Bu Alena.


Setelah yakin Bu Alena tidak memerlukan bantuanku. Aku kembali ke kamar sebelah untuk menunaikan salat subuh.


Sepertinya aku tertidur setelah melaksanakan sholat subuh. Wajar saja jika aku tertidur setelah subuh karena semalaman aku tidak bisa tidur. Aku terbangun dua jam kemudian karena Bu Alena mengedor pintu kamar yang aku tempati dengan keras.


Dengan kepala yang terasa sangat pusing, aku membuka pintu kamar.


“Maaf, setelah subuh tadi saya ketiduran.”


“Iya, tidak apa-apa.”

__ADS_1


“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku.


“Hm... gak ada. Kamu lapar tidak?” tanya Bu Alena.


“Kamu lapar?” Aku menjawab pertanyaan Bu Alena dengan pertanyaan.


“Saya yang tanya kenapa kamu jawab dengan pertanyaan lagi?” balas Bu Alena sengit.


“Eh bukan begitu maksud saya. Kalau kamu sudah lapar, saya mau mencari makan ke bawah. Barangkali ada tukang jualan makanan yang bisa kita beli,” jelasku.


“Tidak perlu. Saya sudah pesan sarapan buat kita. Mungkin sebentar lagi sampai.”


“Duh, maafkan saya. Saya jadi merepotkan. Gara-gara saya ketiduran habis subuh, kamu jadi pesan makanan sendiri.”


“Saya bukan anak-anak. Saya juga bisa pesan makanan secara online. Bukan hanya kamu saja yang bisa!” jawab Bu Alena galak.


Duh, salah lagi deh kata-kata yang keluar dari mulutku. Kenapa sih akhir-akhir ini, kerja mulut dan isi otakku tidak selaras.


“Maksud saya bukan begitu. Saya hanya khawatir kalau kamu masih sakit.”


Aku berharap jawabanku kali ini tidak salah.


Tuh kan salah lagi.


“Kalau kamu mau bantu, siapkan saja alat-alat makannya! Kalau makanannya sampai, kita bisa langsung makan,” perintah Bu Alena.


Setelah mendengar perintah dari Bu Alena, aku langsung bergegas pergi ke dapur dan menyiapkan apa yang diminta oleh Bu Alena. Walaupun kepalaku berdenyut-denyut tapi aku melakukan apa yang diperintahkan oleh Bu Alena tanpa protes.


Sialan... Sejak kapan aku mengikuti perintah seorang perempuan selain perintah dari Ibu kandungku sendiri dan juga Teh Iyah? Sepertinya aku sudah mulai gila karena mau saja menuruti perintah dari Bu Alena. Bu Alena menjadi perempuan ketiga yang perintahnya aku ikuti tanpa banyak protes. Otakku mulai tidak beres. Eit tunggu, bukannya mulai tidak beres tapi sejak aku bertemu dengan Bu Alena, otakku memang mulai tidak beres. Bahaya!


Kami makan dalam hening. Tidak ada satupun dari kami mencoba untuk memulai percakapan. Tiga puluh menit berlalu, kami menyelesaikan sarapan. Aku membereskan sisa makanan di atas meja dan membawa piring bekas makan. Aku segera mencuci semua piring dan gelas kotor supaya tidak menumpuk.


Setelah selesai mencuci piring dan gelas, aku kembali ke ruang tengah dimana Bu Alena masih duduk dengan tenang di sofa.


“Apa ada yang bisa saya bantu lagi?”


Bu Alena menggeleng.


Cih, dasar perempuan menyebalkan. Kalau saja dia tidak sakit, ingin rasanya aku mengabaikan dia.

__ADS_1


“Kalau tidak ada lagi yang bisa saya bantu dan kamu sudah merasa baikan. Saya pamit pulang.”


“Silahkan,” jawabnya singkat.


Tuh kan, benar-benar perempuan menyebalkan yang tidak tahu terima kasih. Bukannya berterima kasih malah mengusirku secara halus. Bukannya aku tidak pamrih dan mengharapkan ucapan terima kasih. Dari kecil aku diajarkan oleh ibu kalau ada orang yang membantu dan menolong kita bukankah kita harus mengucapkan terima kasih.


“Terima kasih,” ucapnya menginterupsi pikiran burukku.


“Oh, eh, iya, sa-sama-sama.” jawabku sedikit gagap.


“Kalau begitu, saya pamit pulang.”


“Hm….”


Kulihat Bu Alena hendak berdiri dari duduknya.


“Tidak usah diantar. Kamu duduk saja di sini. Saya bisa buka pintu sendiri. Atau mau saya antar dulu ke kamar kamu?”


“Tidak usah.”


“Saya pulang. Kalau ada apa-apa atau kamu butuh bantuan saya lagi, jangan segan untuk menghubungi saya. Assalamu’alaikum…”


“Wa’alaikumsalam”


Blam…


Seiringnya dengan tertutupnya pintu di belakangku, aku menarik nafas dengan panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.


Kurasakan kerja jantungku yang tidak normal berdetak.


Eh, ada apa dengan kerja jantungku yang sedikit tidak normal ini?


Segera kutepis pikiranku yang sepertinya mulai tidak tentu arah.


Kulangkahkan kaki meninggalkan gedung tempat Bu Alena dan aku tinggal bersama selama satu hari satu malam.


***********


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2