Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
41. Kabar Bahagia


__ADS_3

Alena POV


“Insya Allah, Aras dan Aris akan punya adik dalam kurun waktu 7 bulan lagi,” kakakku mengumumkan kabar bahagia ini dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Sedangkan Teh Iyah tersenyum dengan wajah merona di samping kakakku.


Alhamdulillah.” Semua yang hadir mengucapkan syukur.


“Wow…ini sih namanya plot twist,” seru Keisha kaget mendengar berita bahagia dari kakakku.


“Ha-ha-ha. Apanya yang plot twist, Kei?” Aku dan Prita terbahak melihat ekspresi Keisha.


“Hebat A Endra udah mau punya anak lagi. Aku dan Kak Fian harus berusaha lebih keras lagi kalau begini.” Kulihat semburat kesedihan di wajah sahabatku.


“Tenang saja lah Kei. Aku saja belum ketemu sama jodoh. Kamu masih selangkah di depanku,” kekehku.


“Ha-ha-ha… Iya ya. Aku doain supaya kamu cepet ketemu sama jodoh yang emang kamu inginkan. Nanti kita hamilnya barengan aja. Makanya nanti kamu langsung terima saja adiknya Teh Iyah itu.” Keisha menggenggam tanganku erat. Sepertinya dia menguatkan diriku yang masih jomblo.


“Yah setidaknya aku bakalan dapat tambahan keponakan tahun ini walaupun belum ketemu jodoh sendiri. Mudah-mudahan anak selanjutnya cewek, biar si Ara ada saingan,” kataku sambil mencubit gemas pipi Ammara yang ada di pangkuanku.


“Single or double, Ndra?” tanya Kak Fian pada kakakku.


“Double lagi.” jawab kakakku bangga.


“Sialan… makin susah gue ngejar ketertinggalan poin,” canda Kak Fian.


Kulihat Kak Fian memeluk kakakku. Kak Fian dan kakakku adalah sahabat sejati. Mereka juga sama-sama memiliki kisah cinta yang agak rumit dan menegangkan.


“Gue yang punya adik kembar, kenapa juga malah lu yang punya anak kembar. Sekarang mau tambah, kembar juga,” protes Kak Fian.


“Insya Allah kalau sudah waktunya, lu juga bakal punya anak. Yang penting, terus berusaha. Walaupun lu udah tua tapi istri lu masih muda.”

__ADS_1


“Sialan!” Kak Fian memukul pelan bahu kakakku.


Aku mengembalikan Ammara pada ibunya dan menghampiri Teh Iyah yang sedang dikerubuti oleh sanak saudara yang lain untuk memberi ucapan selamat.


“Teteh, selamat ya.” Aku memeluk Teh Iyah dengan erat.


“Makasih, Lena sayang. Doakan Teteh dan calon anak-anaknya teteh disini sehat,” harap Teh Iyah sambil mengelus sayang perutnya yang sudah terlihat ada sedikit tonjolan.


Sudah berapa minggu?” tanyaku.


“Insya Allah masuk minggu ke-10,” jawab Teh Iyah.


“Masya Allah, kembar lagi, kan? Lena harap ponakan-ponakan Lena disini cewek.” Aku mengelus-ngelus perut Teh Iyah.


“Aa sama Teteh juga berharapnya seperti itu. Kembar selanjutnya kembar perempuan. Tapi Teteh menerima apapun yang Allah berikan. Mau perempuan atau laki-laki lagi, Teteh pasti bersyukur.”


“Mudah-mudahan kali ini cewek. Lena gak bisa bayangin bakal ada lagi cetakan yang mirip kaya Aa sama Aras. Bisa-bisa Lena mati berdiri.” Aku bergidik membayangkan hal itu. Satu Kagendra dan satu Aras sudah cukup membuatku stress dalam menghadapi manusia model mereka.


“Sakit Aa…” teriakku.


“Makanya jangan suka jelekin orang. Memangnya Aa sama Aras kenapa sampai bikin kamu mati berdiri segala?” protes kakakku.


“Aa salah dengar,” kekehku.


Aku menghambur dan memeluk kakakku dengan erat.


“Aa…Lena bahagia banget melihat Aa bahagia seperti ini. Lena gak pernah menyangka akan ada hari bahagia seperti ini kalau melihat ke masa lalu. Lena jadi saksi bagaimana menderitanya Aa dulu, dan itu membat Lena sedih. Tapi sekarang melihat kebahagiaan Aa seperti ini, Lena sangat bersyukur. Lena sayang banget sama Aa.”


Kurasakan kecupan sayang di puncak kepala.

__ADS_1


“Makasih Len. Makasih buat semua dukungan yang kamu berikan pada Aa dari dulu sampai sekarang. Aa juga sayang sekali sama kamu.”


Aku semakin mengeratkan pelukanku.


“Makanya Aa juga ingin kamu bahagia seperti bahagianya Aa. Aa ingin kamu bertemu dengan jodoh yang baik yang akan membahagiakan kamu seperti halnya Iyah yang menjadi alasan Aa bahagia.”


“Doakan Lena segera bertemu dengan jodoh Lena,” harapku.


“Makanya, ini ikhtiar Aa dan Iyah untuk mengenalkan kamu pada Atep.” ucapan kakakku membuat jantungku berdetak tidak normal.


“Apaan sih A…” rajukku manja.


Hampir saja aku melupakan salah satu alasan digelarnya acara syukuran ini.


Aku jadi bertanya-tanya kenapa dari tadi aku belum melihat batang hidung laki-laki menjengkelkan itu. Apa dia menolak untuk dikenalkan denganku sampai-sampai tidak datang ke acara syukuran yang dibuat dengan susah payah oleh Teh Iyah?.


Ah, biar saja kalau memang dia menolak. Aku malah bersyukur kalau dia menolak.


Berani-beraninya dia menolakku. Siapa dia dengan seenaknya tidak datang ke acara yang dibuat oleh Teh Iyah dengan susah payah dan dalam keadaan hamil muda pula. Dasar pria menjengkelkan.


Kulihat Teh Iyah sedang berusaha menghubungi seseorang. Sepertinya dia sedang menelepon laki-laki menyebalkan itu karena kulihat wajah Teh Iyah sedikit kecewa dan marah.


Samar-samar kudengar suara tinggi Teh Iyah yang memerintahkan agar adiknya itu cepat datang.


Huh, dasar hobi membuat jengkel orang lain. Bukan hanya aku saja yang sering dibuat jengkel, ternyata Teh Iyah juga dibuat jengkel oleh orang itu.


Awas saja kalau nanti bertemu. Akan aku berikan raut wajahku yang paling masam.


Huh…

__ADS_1


******


to be continued....


__ADS_2