Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
32. Banyak Dukungan


__ADS_3

Alena POV


“Tapi, Teh…”


“Gak ada tapi tapian! Pokoknya Teteh tidak mau mendengar alasan apapun dari kamu. Kalau kamu menolak, Teteh gak akan kasih izin kamu buat ketemu sama Aras dan Aris lagi,” ancam Teh Iyah.


“Teh Iyah tega sama Lena,” rajukku.


“Harus tega!” tegasnya.


“Lena laporin sama Abah dan Ibu,” ancamku.


“Sana… lapor saja. Pasti abah dan ibu juga gak akan dukung kamu. Teteh sudah mendapat dukungan abah dan ibu. Ha-ha-ha.”


Aku kesal melihat ekspresi puas dari wajah Teh Iyah. Dia tidak tahu kalau aku sedang berusaha untuk mengontrol detak jantungku yang tidak normal.


“Lena gak percaya.”


“Kamu harus percaya. Semua orang sudah mendukung Teteh. A Endra juga mendukung.”


“Aki belum tau kan?” Aku mencoba mencari celah.


“Salah besar. Aki juga sudah tau.”


“Lena yakin Aki tidak mendukung, Aki cuma sebatas tau kan?” harapku.


“Tetooot… Salah lagi. Aki juga mendukung Teteh. Aki ingin kamu cepat menikah. Kamu kan tahu bagaimana Aki. Aki belum merasa tenang kalau masih ada cucunya yang belum menikah, yaitu kamu.”


Tak terasa, air mataku menetes. Aki yang sudah tua renta dan sering sakit-sakitan berharap agar aku segera menikah. Aki ingin pergi dengan tenang jika sudah melihat kedua cucu-cucunya menikah. A Endra sudah menikah dan membuat aki bahagia walaupun kebahagiaan A Endra didapat dengan penuh drama. Tinggal aku yang belum membahagiakan Aki. Apakah aku akan sanggup memberikan kebahagiaan pada aki sebelum aki pergi.


Dengan segera aku menyusut air mataku dan kembali menatap layar ponsel. Aku melihat Teh Iyah sudah tak lagi tampil dilayar digantikan oleh Aris.


“Tante dateng kan?”


Aku mengangguk lemah.


“Ibu mana?” tanyaku menanyakan keberadaan Teh Iyah.


“Ibu pergi ke kamar. Mau marahin Aras.”


“Lho memangnya Aras nakal? Kenapa harus dimarahin sama Ibu?” tanyaku heran.


“Kata Ibu, tadi Aras gak sopan sama Tante, jadi mau Ibu marahin,” jelas Aris.


“Memangnya Ibu suka marah?” tanyaku lagi.


“Ibu jarang marah sih. Ibu marah kalau Aras dan Ayah nakal.”


Aku tertawa mendengar jawaban Aris yang mengatakan kalau ibunya memarahi ayahnya karena nakal.


“Memangnya Ayah suka nakal gimana?” tanyaku penasaran.

__ADS_1


“Ayah suka gangguin Ibu kalau lagi masak. Ayah juga suka isengin Ibu. Jadi Ibu paling sering marahin Ayah. Kalau Aras sih jarang Ibu marahin. Ibu marah sama Aras kalau Aras gak jawab panggilan atau pertanyaan Ibu,” jelas Aris.


“Memangnya Aris tidak pernah dimarahin sama Ibu?”


“Pernah juga sih. Kalau Aris gak mau makan atau makanan Aris gak habis, Ibu pasti marah sama Aris. Tapi Ibu jarang banget marahin Aris. Aris kan anak yang baik terus nurut juga sama Ibu. Ibu kadang-kadang saja marahin Aris kalau gak habisin makanan soalnya Aris gak suka sama makanannya.”


“Yang paling sering dimarahin sama Ibu siapa?” tanyaku iseng.


Walaupun aku sudah tahu jawabannya, tapi aku suka mendengar jawaban dari Aris yang mengatakan bahwa ayahnya lah yang paling sering kena marah.


“Juaranya ayah. Kalau ayah lagi ada di rumah pasti dimarahin sama ibu. Tapi ayah gak pernah nangis kalau dimarahin ibu.  Kalau ibu marah, ayah malah senyum-senyum, kadang ketawa-ketawa. Ayah memang aneh.”


Kulihat Aris mengeleng-gelengkan kepala. Mungkin tidak habis pikir kenapa ayahnya malah tertawa ketika kena marah.


Aku ikut bahagia melihat kebahagian kakakku. Aku yakin marahnya Teh Iyah pada kakakku yang dilihat oleh Aris bukanlah kemarahan yang sesungguhnya. Terbukti kakakku malah tertawa ketika dimarahi oleh Teh Iyah.


Tok…tok…tok…


Kudengar pintu ruangan dosen diketuk.


“Aris, vicall an-nya sudah dulu ya. Ada tamu yang mau ketemu sama Tante.”


“Iya Tante… dadaaah.”


Aku meletakkan ponsel di atas meja.


“Silahkan masuk”


“Wa’alaikumsalam,” jawabku dengan jantung yang kembali berdetak tak beraturan.


“Boleh masuk?” tanyanya sambil berdiri tegak di depanku.


“Kamu sudah masuk, kenapa masih bertanya?” jawabku ketus untuk menutupi suara debaran jantungku. Walaupun mustahil suara detak jantungku terdengar olehnya tapi konyolnya aku masih khawatir dia mendengar detak jantungku.


“Maaf.” Kulihat dia mengusap-usap tengkuknya ketika mengucapkan kata maaf.


Hal itu terlihat seksi di mataku.


Oh my God… Kenapa aku harus punya pikiran kotor seperti itu?


Kutundukkan kepala dan kupejamkan mata. Aku menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskannya dengan perlahan. Setelah merasa tenang, kuangkat kembali kepalaku dan melihat dia yang kebingungan. Dia mungkin bingung melihat apa yang kulakukan.


Kulihat raut wajahnya yang khawatir dan itu terlihat tulus.


“Kamu kenapa? Sakit kepala lagi?” tanyanya.


Oh, ternyata memang benar. Dia mengkhawatirkan aku.


“Tidak!” jawabku tegas.


“Syukurlah kalau kamu tidak sakit.”

__ADS_1


“Ada keperluan apa kamu kemari?” tanyaku nyaris membentak.


“Saya mau minta maaf sama kamu?”


“Minta maaf buat apa?”


“Sikap saya yang tidak sopan tadi.”


“Jadi sekarang kamu sudah menyadari kalau sikap kamu tadi tidak sopan.”


“Ya begitulah,” jawabnya sambil kembali mengusap-ngusap tengkuk.


Bisa tidak sih kalau kamu itu tidak mengusap-ngusap tengkuk kamu? Yang kamu lakukan itu membuat jantungku berdebar tidak karuan.


Setelah mengetahui kalau dia itu adik angkat Teh Iyah yang akan diperkenalkan dan dijodohkan denganku, jantungku semakin seenaknya berdetak tak karuan.


Aku menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir segala pemikiran aneh yang terus berseliweran di dalam kepala.


“Kamu kenapa sih? Hari ini kamu aneh sekali,” tanyanya masih terlihat khawatir.


“Eh…apa?” Aku gelagapan mendengar perkataannya.


“Kamu aneh,” ucapnya.


“Apa maksud kamu menyebut saya aneh? Ya sudah kalau kamu anggap saya aneh, pergi sana jauh-jauh dari saya! Jangan pernah lagi muncul di hadapan saya!” Aku tidak suka dia menyebutku aneh.


“Tuh kan aneh. Kamu aneh karena setiap kali ketemu sama saya, kamu pasti marah-marah.”


“Kamu yang bikin saya marah berarti itu salah kamu.” Aku berkata ketus.


“Kenapa jadi menyalahkan orang lain?”


“Sudah cukup! Kalau kamu kesini cuma mau mengajak ribut, sebaiknya kamu pergi,” usirku.


“Maaf.”


“Maaf kamu itu cuma sebatas lip service saja. Kamu tidak sungguh-sungguh menyesal.”


“Saya benar-benar minta maaf.” Dia kembali mengulang permintaan maafnya.


“Kamu sering minta maaf tapi masih saja melakukan hal yang membuat saya marah. Jadi, apa artinya permintaan maaf dari kamu?”


“Baiklah, sebagai permintaan maaf, saya akan mentraktir kamu makan malam.”


“Tidak perlu. Saya bukan anak remaja yang akan terbujuk dengan tawaran recehan seperti itu.”


“Saya tidak bermaksud membujuk kamu. Saya serius ingin mengajak kamu makan malam.”


“Tidak perlu. Saya sudah memaafkan kamu dan berharap kalau kamu tidak akan pernah mengulangi lagi kesalahan kamu. Silahkan keluar kalau tidak ada lagi hal penting yang akan kamu sampaikan lagi,” usirku.


***********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2