Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
24. Makan Berdua


__ADS_3

Atep POV


Duuuh, kenapa lagi sih dengan Bu Alena? Hobi banget bikin orang kesal sekaligus khawatir.


“Jawab dong! Kenapa kamu nangis? Apa yang dirasa sekarang? Kepalanya sakit banget?”


Aku menghampiri Bu Alena dan duduk di pinggir ranjangnya.


“Kalau kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan menangis, saya tidak mengerti. Kalau tidak mau buka matanya tidak apa-apa tapi jawab pertanyaan saya. Ini juga buat kebaikan kamu. Kalau saya tahu apa yang dirasa sama kamu kan gampang buat bantunya.”


“Kamu menyebalkan,” jawab Bu Alena disela-sela isak tangisnya.


“Lho, menyebalkan bagaimana? Saya sudah berusaha membantu kamu. Kenapa kamu bilang saya menyebalkan?” tanyaku heran.


“Kamu tidak ikhlas membantu dan menemani saya. Kalau saya tidak sakit, mana mau saya dekat-dekat sama kamu. Kamu juga tidak sopan. Dari tadi kamu menyebut saya dengan sebutan 'kamu' terus. Saya ini dosen kamu, tidak sopan menyebut ‘kamu’ sama dosen kamu.”


Ya ampun, ini perempuan memang super menyebalkan. Sudah ditolong dan ditemani tapi bahasanya masih pedas dan nyelekit.


“Kata siapa saya tidak ikhlas? Saya ikhlas menemani kamu, eh Bu Alena di sini. Tapi kan saya tidak enak karena kita bukan mahram. Takut ada setan lewat dan menggoda saya.”


Aku menggaruk-garuk tengkuk yang tidak gatal sama sekali.


“Kalau tidak ikhlas jangan bantu sekalian,” jawab Bu Alena pedas.


Aarrrgh… Aku menyugar rambutku kasar untuk meluapkan rasa kesal.


“Udah deh, mending Bu Alena tidak usah ngomong, tidak usah menjawab pertanyaan, tidak usah bicara apapun karena semua yang keluar dari mulut Bu Alena tidak enak didengar oleh kuping saya,” kataku kesal.


Isak tangis Bu Alena makin keras terdengar.


“Eeh… Kenapa nangisnya makin kencang sih? Sudah…sudah… Jangan nangis terus. Nanti kepalanya tambah pusing tambah terasa berputar.”


Suara tangis Bu Alena malah makin terdengar kencang.


“Udah tua kok cengeng sih.”


“Gara-gara kamu!” bentak Bu Alena.


“Iya, saya yang salah. Maafkan saya. Saya tidak bohong bilang saya ikhlas menemani kamu. Saya hanya tidak enak kalau bermalam di sini. Saya takut terjadi fitnah. Jadi jangan salah paham sama saya, ya.”


Mudah-mudahan tidak beredar kabar kalau aku menginap di sini menemani Bu Alena. Aku berdoa tidak ada setan yang lewat mengganggu imanku.


“Kamu lapar? Mau makan apa? Biar saya pesankan soalnya saya tidak terlalu bisa masak. Saya khawatir kamu tidak suka masakan saya. Jadi mau makan apa?” tanyaku.


“Terserah,” ucap Bu Alena memberikan jawaban paling mengerikan yang sering dikatakan oleh seorang perempuan.


“Makan yang lembek-lembek dulu. Saya pesankan nasi tim ayam. Mau?”


“Gak suka!” Sebuah jawaban yang sudah kuduga.


Perempuan paling suka menjawab terserah, tapi ‘terserah’ nya itu benar-benar abstrak. Kalau bilang terserah kan bisa makan apapun tapi ditawari nasi tim ayam bilang tidak suka.


“Sup ayam, mau?”


“Gak mau!” jawab Bu Alena enteng.


“Tadi bilangnya terserah. Saya tawari nasi tim ayam tidak mau, ditawari sup ayam juga tidak mau. Jadi maunya kamu apa? Saya jadi bingung.”

__ADS_1


Kami berdua terdiam menekuri pikiran masing-masing.


“Saya lapar. Saya mau pesan timbel lengkap. Kamu mau?” tawarku.


“Terserah.”


Lagi-lagi kata-kata terserah.


“Ya sudah, saya pesan 2 timbel lengkap. Kamu mau makan atau tidak, TERSERAH!” ucapku kesal.


“Kalau tidak ikhlas, tidak usah dipesankan.”


Aarrrgh… Dasar perempuan menyebalkan.


“Kamu memang menyebalkan.” Aku tidak peduli lagi mengatai dirinya menyebalkan.


“Kamu yang menyebalkan. Dari tadi kamu terus-terusan menyebut saya dengan sebutan 'kamu'. Tidak bisa ya bersikap sedikit saja sopan pada saya?” protes Bu Alena.


“Maaf, kebiasaan ngobrol sama teman.”


“Saya bukan teman kamu. Saya dosen kamu.”


“Dosen itu di kampus. Kalau sedang tidak berada di lingkungan kampus, kamu bukan dosen saya.”


“Tidak bisa begitu. Dimanapun kita berada, posisi kita sangat jelas. Saya dosen pembimbing kamu dan kamu adalah mahasiswa bimbingan saya.”


“Tidak bisa begitu. Siapa yang bikin aturan seperti itu?” jawabku tidak mau kalah.


“Memang seperti itu aturannya. Memang tidak ada aturan tertulis tapi ini etika. Kamu harus tahu bagaimana bersikap sopan terhadap dosen kamu.”


“Sepertinya kamu sudah mulai sembuh. Buktinya kamu sudah mulai cerewet lagi.”


“Benar kan sakit kepala kamu sudah sembuh?” tanyaku.


“Stop menyebut ‘kamu’ pada saya!”


“Tidak mau. Saya akan memanggil Bu Alena dengan sebutan kamu kalau kita sedang berduan.”


“Terserah.” Akhirnya Bu Alena menyerah juga menghadapiku yang keras kepala dan tidak tahu malu.


Setelah 30 menit menanti, pesanan kami akhirnya datang juga. Ada dua paket berisi nasi timbel dengan ayam bakar, tahu goreng, tempe goreng dan lalapan lengkap dengan sambalnya.


Aku mengetuk pintu kamar Bu Alena sebelum membuka pintunya.


“Nasinya sudah ada. Kamu mau makan di sini atau di luar?”


“Di luar saja. Kalau makan disini nanti kamar saya jadi bau makanan.”


“Ya sudah. Bisa jalan sendiri?”


“Bisa.”


Aku membantu Bu Alena bangun. Dia mengeryitkan alisnya.


“Masih pusing? Saya gendong saja.”


Aku menggendong Bu Alena keluar dari kamarnya dan menurunkannya di sofa depan televisi.

__ADS_1


“Makannya disini?.” tanyaku ketika aku sudah menurunkan Bu Alena.


“Ya.”


“Ah, lupa. Kamu belum cuci tangan. Ya sudah saya suapi saja lah biar makannya cepat.”


Aku beranjak menuju wastafel untuk mencuci tangan.


“Disini kita cuma berdua. Tidak akan ada yang melihat kalau saya menyuapi kamu.”


Aku membuka nasi timbel jatah Bu Alena dan mulai menyuapi Bu Alena.


“Buka mulutnya. Gak usah malu-malu.” perintahku.


Bu Alena mulai membuka mulut dan memakan nasi dan ayam yang aku suapkan.


“Enak?” tanyaku.


Bu Alena mengangguk dan aku lega.


“Kamu tidak makan?” tanya Bu Alena.


“Nanti setelah nyuapin kamu. Makanya kamu harus cepat makannya biar saya juga bisa makan.”


Bukannya cepat menguyah makanannya, Bu Alena malah menguyah dengan sangat perlahan padahal perutku sudah benar-benar kelaparan.


Sudahlah, aku tidak peduli lagi dengan kesopanan atau kebersihan lagi. Setelah menyuapkan nasi dengan ayam dan goreng tahu pada Bu Alena, aku menyuapkan juga nasi dengan ayam dan tempe goreng dicocol sedikit sambal ke dalam mulutku sendiri.


Bu Alena menatapku tajam.


“Jangan menatap saya seperti itu. Saya tidak punya penyakit mematikan. Gak apa-apalah kita makan dari suapan tangan yang sama. Saya sudah tidak kuat lagi menahan lapar.”


Nasi jatah Bu Alena sudah habis dimakan kami berdua. Aku membuka nasi timbel jatahku dan melanjutkan menyuapkan nasi ke dalam mulut Bu Alena dan mulutku sendiri secara bergantian. Terkadang aku sudah makan dua suapan ketika Bu Alena masih belum selesai menelan nasinya.


Akhirnya dua nasi timbel habis kami makan. Tidak ada nasi ataupun lauknya yang tersisa. Aku yakin jika Bu Alena makan sendiri, nasinya pasti tidak akan habis.


Aku menuju dapur untuk membuang sampah bungkus nasi dan mencuci tangan. Tanpa sadar ada senyum tersunging dari bibirku ketika mengingat tanganku ini yang menyuapi Bu Alena.


Kuambil gelas dari rak piring dan mengisinya dengan air dari galon.


“Minum dulu.” aku menyodorkan gelas berisi air pada Bu Alena.


Setelah Bu Alena menghabiskan airnya, aku kembali ke dapur dan mengisi kembali gelas yang kosong itu dengan air dari galon. Setelah gelasnya kembali penuh oleh air, kuhabiskan air dari gelas yang sama.


Aku minum dari gelas bekas Bu Alena tidak ada maksud apapun, aku hanya malas mencuci banyak gelas dan piring. Toh, vertigo bukan penyakit yang menular jadi tidak masalah jika kami minum dari gelas yang sama.


Aku kembali ke ruang tengah dan duduk di samping Bu Alena.


“Kamu mau disini dulu atau kembali ke kamar?”


“Disini saja dulu. Saya bosan di kamar terus.”


“Mau nonton?”


“Gak. Takut pusing lagi kalau nonton.”


“Ya sudah, duduk santai di sini saja dulu.

__ADS_1


**********


to be continued...


__ADS_2