
Alena POV
“Teh, Atep sudah bilang ke Teteh kalau kita mau akad dan resepsinya di cafe tempat dia kerja?”
“Hm sudah," jawab Teh Iyah sambil mengunyah bakwan hangat dan cabe rawit.
“Kita main ke sana yuk.”
“Atep belum bilang apa-apa sama kamu?”
“Bilang apa, Teh?” Aku heran dengan pertanyaan Teh Iyah.
“Tentang cafe.”
“Memangnya kenapa dengan cafe? Oooh, maksudnya biaya sewa cafe-nya? Nanti biar dia minta diskon sama yang punya cafe. Diskon pegawai gitu.”
“Kamu itu pelit banget sih Len. Punya abah banyak duit, punya kakak banyak duit, duit sendiri juga banyak tapi masih minta diskon. Malu-maluin abah sama kakak kamu saja.”
“Ha-ha-ha, yang namanya perempuan itu gak bisa lepas dari yang namanya diskonan atuh, Teh.”
“Iya juga sih.”
“Nanti kamu tanya ke Atep tentang cafe.”
“Iya, Teh. Lena suka sama cafenya. Indah banget. Mungkin nanti Lena bisa invest buat usaha cafe biar Atep gak kerja ke orang lagi.”
“Hm, bagus itu.” Teh Iyah mengangguk-anggukkan kepala sambil mengambil lagi gorengan yang entah sudah berapa banyak yang masuk ke dalam perutnya. Kalau A Endra tahu istrinya makan gorengan banyak-banyak, bisa ngamuk dia.
“Jam berapa perginya?” tanya Teh Iyah.
“Sekarang saja yuk. Sekalian makan siang di sana.”
“Memang hari ini kamu tidak ada kelas?”
“Ih Teteh mah baru nanyanya sekarang. Lena gak ada kelas hari ini, jadi ambil cuti saja lah sekalian mau melihat tempat akad sama resepsi.”
“He-he-he, udah telat nanyanya, ya?”
Aku memanyunkan bibir.
“Adik Teteh ini memang lucu.” Teh Iyah mencubit pipiku gemas sampai aku merasa kesakitan.
“Sakit Teeeeh…”
“Teteh bahagia melihat kamu bahagia seperti ini. Mudah-mudah kamu berjodoh dengan Atep di dunia dan di akhirat.
“Aamiiin,” ucap kami berdua.
“Lena siap-siap dulu, Teh.” Setelah pamit pada Teh Iyah, aku langsung menuju kamar untuk berganti pakaian dan memoles wajah dengan sedikit bedak dan bibir dengan lipgloss. Malu kan mau bertemu dengan calon suami dengan wajah kucel.
Tidak banyak pilihan pakaian di lemari pakaian yang ada di rumah A Endra. Sebenarnya aku tidak ada rencana untuk pergi ke cafe sehingga tidak menyiapkan pakaian.
__ADS_1
Ketika aku sedang bingung memilih pakaian, pintu kamar diketuk.
Tidak lama kemudian Teh Iyah masuk sambil membawa satu set gamis lengkap dengan kerudungnya.
“Apa ini, Teh?”
“Pakaian buat kamu. Teteh yakin kamu lagi kebingungan kan?” tanya Teh Iyah membuatku tersipu malu.
“Lena bisa pakai yang ada di sini saja. Teteh gak usah repot-repot.”
“Ah Lena, adiknya Kagendra. Teteh tahu kamu mau tampil cantik tapi bingung mau pakai apa karena pakaian yang ada di sini terbatas. Itulah kenapa Teteh kasih pakaian ini buat kamu. Bukan pakaian baru juga sih, Teteh udah pernah pakai ini tapi baru sekali jadi belum terlihat kusam.”
“Ya gak mungkin kusam lah Teh kalau baru dipakai sekali. Lagian ini pasti harganya mahal, gak mungkin warnanya langsung pudar.”
“Aa yang beli ini, tapi Teteh kurang suka sama modelnya yang terlalu banyak detil seperti ini.”
“Memangnya Aa tidak akan marah kalau pakaian yang dia beli malah Teteh kasih sama Lena.”
“Kamu itu adik kesayangannya dan gak mungkin dia marah kalau adiknya yang pakai.”
“Ah Teteh gak tau aja gimana marahnya Aa.”
“Teteh sangat tahu.” ucapTeh Iyah dengan bola mata yang membesar.
Aku cekikikan melihat ekspresi Teh Iyah.
“Makasih gamisnya Teh.”
“Hm, mau Teteh dandanin juga. Teteh lagi suka mendandani orang-orang. Mungkin karena Teteh ingin anak perempuan jadi kepengen aja dandanin orang-orang.”
“Gak tau juga nih. Pakai basic skin care saja Teteh malas sampai jerawatan begini.”
“Walau ada jerawat di sini tapi bikin Aa tidak berpaling.”
“Halah, kamu bisa saja.” Teh Iyah memukul pelan bahuku.
Setelah aku mandi dan berganti pakaian, aku membuka tas kecil berisi pelembab wajah, tabir surya, bedak dan lipgloss. Baru saja aku membuka tutup pelembab, Teh Iyah masuk ke kamarku sambil membawa tas yang cukup besar.
“Ada apa, Teh?”
“Mau dandanin kamu.”
“Gak usah, Teh. Lena cuma mau pakai pelembab saja sama bedak.”
“Teteh ngidam ngedandanin kamu,” ucap Teh Iyah tak bisa kutolak.
“Tapi, Teh….”
“Sudah, kamu duduk manis saja. Kalau kamu gak mau didandanin, Teteh lapor sama Aa.”
“Iiiih, kenapa harus main lapor segala? Dasar tukang ngadu.” Aku mencebik.
__ADS_1
Walau aku tidak mau didandani, Teh Iyah tetap memaksaku hingga aku pasrah menerima takdir.
“Kamu sudah punya wudu kan, Len?”
“Sudah, Teh.”
“Bagus, gak asyik kan kalau wajah kamu sudah full make up seperti ini, harus touch up lagi karena kena air.”
“Harusnya tadi Lena bilang kalau Lena belum wudu.”
“Awas saja kalau kamu berani bohong sama Teteh.”
Aku cekikan melihat ekspresi wajah Teh Iyah.
“Tuh lihat cermin deh. Keterampilan Teteh sangat berkembang pesat. Tadinya Teteh gak bisa dandan tapi hasilnya tidak mengecewakan.”
“Itu sih emang pada dasarnya Lena udah cantik,” kataku sedikit menyombongkan diri.
“Iya, iya… Alena Damayanti adik dari Kagendra Kamandaka memang cantik luar biasa sampai-sampai adik Teteh yang bernama Atep Dananjaya itu bertekuk lutut.”
“Teteeeeh….”
“Yuk, kita pergi sekarang!” ajak Teh Iyah.
“Teteh gak ganti baju?”
“Malas. Begini juga sudah cukup kok. Kalau Teteh berdandan cantik, bisa-bisa Aa kamu ngamuk. Kamu seperti tidak tahu saja kalau kakak kamu itu pecemburu akut.”
“Iya juga sih. Tidak dandan saja, Teteh udah cantik begini.”
“Nah kan.”
“Teteh udah mandi kan?”
“Sudah atuh Len. Masa mau pergi Teteh gak mandi dulu. Aa bisa marah-marah kalau Teteh gak mandi.”
“Aa kan lagi kerja di Jakarta.”
“Eh iya juga ya. Gak mungkin juga tahu. Eh, tapi ini sudah jadi kebiasaan saja. Walaupun ada Aa di sini ataupun tidak, Teteh merasa Aa ada.”
Aku tertawa mendengar perkataan Teh Iyah.
“Teteh merasa terpaksa tidak mengikuti kebiasaan Aa yang aneh dan terlalu disiplin itu.”
“Awalnya terpaksa karena Teteh khawatir Aa marah atau kecewa kalau Teteh tidak menurut sama dia tapi seiring dengan waktu, kebiasaan Aa jadi kebiasaan Teteh begitupun kebiasaaan Teteh jadi kebiasaan Aa juga. Itulah salah satu dinamika yang ada dalam sebuah pernikahan. Kamu harus paham dengan kebiasaan Atep begitupun Atep yang harus paham dengan kebiasaan kamu sehingga tidak terjadi kekisruhan dalam rumah tangga kamu nanti.”
“Pernikahan Aa dengan Teteh awalnya juga kisruh.”
“He-he-he iya juga ya.” Teh Iyah terkikik. “Saat itu, Teteh dan Aa belum saling mengenal. Kita tidak saling mencintai sehingga sulit bagi kita untuk mengharmoniskan setiap perbedaan. Belum lagi cinta pertamanya Aa yang datang mengganggu.”
“Maafin Aa.”
__ADS_1
***************
to be continued...