
Alena POV
Teeet… teeet… teeet….
Siapa sih yang pijit bel kaya orang kesurupan begitu?
Aku kesal karena waktu tidurku terganggu oleh bunyi bel.
Ah, pasti si kembar yang tidak sabaran memijit bel tanpa henti.
Kuseret langkah menuju pintu dan membukakan pintu untuk mereka.
Aku melihat duo krucil kesayanganku bersama ayah mereka berdiri menunggu tidak sabar di balik pintu.
“Ada apa sih, A?”
“Kamu baru bangun?”
“Heeh,” jawabku malas.
“Iyah sudah ribut dari tadi pagi, eh tersangkanya malah tenang-tenangan tidur.”
“Lena udah bilang samaTeh Iyah kalau Lena mau tidur sampai agak siang.”
“Tapi tidak sesiang ini, Lena,” kata kakakku kesal.
“Tantee… cepat mandi!” teriak Aris.
“Kita saja sudah mandi dari tadi pagi, masa Tante yang sudah besar belum mandi. Apa gak malu?” tanya Aras seenaknya.
“Iya…iya. Ini juga Tante mau mandi,” jawabku sambil masuk kembali ke kamar untuk mandi.
Tok…tok…tok…
Kudengar pintuku diketuk setelah aku keluar dari kamar mandi.
Aku membukakan pintu kamar setelah memakai bathrobe.
“Ada apa, A?”
“Ini ada titipan dari Iyah buat kamu. Katanya kamu harus pakai ini.”
Kakakku menyerahkan paper bag yang isinya pakaian baru.
“Apaan sih Teh Iyah beliin baju baru segala?” protesku setelah memastikan isi di dalam paper bag itu memang baju baru lengkap terdiri dari jilbab dan satu set pakaian gamis berwarna peach.
“Katanya wujud kasih sayang dari kakak ipar pada adik iparnya,” jawab kakakku.
“Huh, lebay,” kataku sambil mendengus.
“Eeeeh jangan ngatain istri Aa lebay!” protes kakakku.
“Biarin.” Aku langsung menutup pintu kamarku.
Kulihat isi paper bag permberian Teh Iyah. Satu set gamis berwarna peach dengan kerudung corak yang berwarna senada.
Ada apa dengan Teh Iyah sih? Kenapa harus berlebihan seperti ini? Aku juga masih punya banyak pakaian yang masih layak. Kenapa juga dia harus membelikan pakaian baru.
“Gamis dan kerudungnya sudah dicuci dan disetrika sama teteh kamu. Jadi kamu tinggal pakai saja jangan khawatir sama aroma baju barunya,” teriak kakakku dari luar.
Ehm, Teh Iyah memang detail sekali orangnya.
Sudahlah aku pakai saja baju pemberian dari Teh Iyah. Kalau aku tidak memakainya pasti dia akan kecewa.
__ADS_1
Setelah selesai berpakaian dan mengulaskan sedikit make-up, kupandangi diriku di depan kaca besar.
Gamisnya cantik dan cocok warnanya dengan warna kulitku. Teh Iyah memang terbaik dalam hal memadupadakan outfit.
Kenapa harus berdandan seperti ini?
Tiba-tiba wajahnya muncul lagi di pikiranku.
Apa aku berdandan seperti ini karena akan bertemu dengan dia?
Huh, rasanya ingin kuacak-acak lagi penampilanku yang sudah rapi ini.
Tok…tok…tok…
“Sudah selesai belum dandannya? Iyah sudah menelepon menyuruh kita bergegas.”
“Tunggu sebentar lagi, A.” Aku menjawab dengan berteriak dari dalam kamar.
Segera kulihat penampilanku untuk terakhir kalinya sebelum aku bergegas keluar kamar. Kuambil tas dari atas meja rias dan kumasukkan ponsel ke dalamnya.
“Adik Aa cantik sekali. Pasti kamu dandan kaya gini karena mau dikenalkan sama adiknya Iyah. Iya, kan?” goda kakakku.
“Apaan sih, A?” kucubit lengan kakakku untuk menutupi kegugupanku.
Apa memang benar aku berpenampilan seperti ini karena mau bertemu dengan dia? Ketika kami pergi makan siang dua hari yang lalu pun aku dibuat pusing memilih outfit pada hari itu.
Aargh…kenapa sih aku jadi seperti ini?
“Len, kenapa melamun?” Pertanyaan A Endra membuatku kaget.
“Siapa yang melamun? Enak saja menuduh.” Kupukul pelan pelan punggung kakakku beberapa kali.
“Awww…sakit Len.” Kakakku pura-pura mengaduh kesakitan. Tidak mungkin pukulan ringanku membuat dia kesakitan. Dulu saja waktu dipukulin sama Aki sampai babak belur, A Endra diam saja dan tidak mengadauh walaupun setelahnya dia sakit selama 1 minggu.
“Biarin.”
“Sejak Aa menikah sama Teh Iyah, Aa berubah jadi laki-laki yang sangat berbeda. Teh Iyah sangat luar biasa mampu membuat A Endra berubah 180 derajat, dari cowok dingin menjadi cowok lebay,” ejekku.
“The power of love. Cinta yang bikin Aa berubah seperti ini. Yang penting berubahnya ke arah yang lebih baik, kan?”
“Iya sih. Tapi jangan terlalu lebay, A. Lena jadi geli melihat kelakuan Aa sekarang,” ungkapku.
“Aa juga tidak mengerti kenapa Aa bisa begini.”
“Aris cerita kalau diantara kalian bertiga, yang paling nakal dan sering dimarahi sama ibu itu ayah. Kenapa bisa begitu sih, A?”
“Ya begitulah, Len. Aa merasa suka saja kalau menggoda kakak ipar kamu. Suka melihat dia kesal dan marah.”
“Ih, gimana kalau Teh Iyah marah beneran sama Aa. Bisa kelar tuh hidup Aa.” Aku terkekeh.
“Aa sudah paham bagaimana harus bersikap sama Iyah. Aa sudah berjanji kalau Aa tidak akan membuat Iyah sedih lagi. Kalaupun Iyah kesal dan marah itu hanya karena Aa goda saja bukan karena Aa menyakiti dia. Penjelasan A Endra membuatku semakin yakin bahwa ia telah benar-benar berubah dan sangat mencintai istrinya. Aku yakin kakakku tidak pernah lagi menyakiti istrinya.
Kekuatan cinta memang benar-benar merubah karakter seseorang. Cinta membuat kakakku yang dingin menjadi lebih hangat.
“A,” panggilku lirih.
“Hm…”
“Aa memang benar-benar cinta sama Teh Iyah, ya?” tanyaku.
“Hmm… Pertanyaan yang sudah jelas sekali jawabannya,” jawab kakakku.
“Lena bahagia melihat Aa bahagia. Lena bersyukur Teh Iyah mau memaafkan semua kesalahan Aa dan menerima kembali Aa. Aa harus bersyukur.”
__ADS_1
“Setiap hari Aa bersyukur atas kebahagian ini. Aa berharap bahwa kami berjodoh di dunia dan surga.”
“Aamin.” Aku berharap kakakku akan bahagia selamanya.
“Ayo cepat, Len. Nanti Iyah marah sama Aa kalau telat jemput kamu.”
“Ih dasar bucin,” ejekku.
“Aras, Aris… Ayo pulang! Nanti Ibu marah kalau kelamaan di sini.”
“Bentar, Yah. Bentar lagi nontonnya,” jawab Aris yang masih asyik menonton film kartun di televisi.
Aras sudah berdiri dari duduknya dan bergegas sedangkan Aris masih asyik menonton.
“Aris!” panggil kakakku tegas.
Sepertinya Aris tidak mendengar panggilan ayahnya karena dia masih asyik saja menonton.
Kakakku berjalan mendekati televisi, mengambil remote control dan langsung mematikan televisinya.
“Ah, Ayah kenapa dimatiin tipinya?” protes Aris.
“Aris dengar tidak kalau kita harus segera pulang? Ibu menunggu.”
Aris pun berdiri dan menghentakkan kakinya ke lantai tanda dia sedang kesal.
“Aris!” tegur kakakku.
Aris pun berjalan dengan muka ditekuk.
“Jangan galak-galak, A!” tegurku setelah menutup pintu unit.
Kami berempat berjalan di lorong gedung dengan Aras dan Aris berjalan di depan kami. Dengan sifatnya yang ceria, Aris sudah tidak terlihat kesal lagi. Kedua anak itu berjalan beriringan sambil sesekali saling menjahili.
“Kita tidak boleh terlalu memanjakan anak, Len. Salah satu tugas Aa sebagai seorang ayah adalah mendisiplinkan mereka,” jelas kakakku.
“Aras, Aris…jangan lari-lari!” Kakakku sedikit berteriak saat melihat Aras dan Aris yang berlarian di lorong gedung.
“Aa tidak khawatir kalau mereka benci sama Aa?” tanyaku.
“Buat apa khawatir? Aa bersikap tegas sama mereka untuk kebaikan mereka juga. Aa sayang sama mereka. Aa yakin dengan kasih sayang yang Aa berikan buat mereka, walapun Aa bersikap tegas pada mereka, Aras dan Aris akan tetap menyayangi ayah mereka.”
“Aa memang benar-benar beruntung bisa disayangi sama anak-anak Aa walaupun belum lama bertemu.”
“Untuk itu Aa benar-benar bersyukur sekaligus menyesal. Bersyukur karena Iyah dan anak-anak mau menerima Aa dan menyesal karena Aa tidak menemani Iyah ketika mengandung mereka dan ketika mereka mengucapkan kata pertama, berjalan untuk pertama kalinya dan banyak lagi hal yang Aa lewatkan dari tumbuh kembang mereka.” Kulihat wajah sedih kakakku.
“Makanya Aa harus benar-benar menyayangi mereka. Jangan membuat mereka sedih lagi. Bayar semua kesalahan Aa di masa lalu dengan curahan kasih sayang yang all out.”
“Sudah pasti, Len,” jawab kakakku yakin.
“Kalau Aa pengen merasakan itu semua, maksud Lena merasakan jadi suami yang istrinya ngidam, mendengar kata pertama, melihat pertama kali anak Aa berjalan, sebaiknya Aa dan Teh Iyah punya anak lagi.” Aku memberikam usul sekaligus menggoda kakakku.
“Hm…”
“kalau Aa sama Teh Iyah punya anak lagi, keponakan Lena akan bertambah. Ibu dan Abah juga pasti senang.” Aku terkekeh membayangkan kakakku yang kerepotan dengan banyak anak saling menggelayut manja di lengannya yang kekar itu.
“Ide yang bagus.”
“Kalau bisa kembar lagi. Biar sekaligus banyak,” usulku
“Hm…”
***********
__ADS_1
to be continued....