Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
72. Ciuman Pertama?


__ADS_3

Atep POV


“Lena….”


Aku menatap wajah calon istriku. Ada ekspresi marah di dalamnya. Matanya menyorot tajam. Tidak lebih dari lima detik, ia langsung membalikkan badan dan langsung berlari.


“Teh, ini tidak seperti yang kalian lihat”


“Kalau begitu jelaskan dengan benar!” teriak Teh Iyah marah.


Evangeline masih belum melepaskan pelukannya.


“Lepaskan!” Aku menghentakkan tangan Evangeline, tidak peduli dia akan kesakitan atau tidak. Yang kupikirkan sekarang adalah mengejar Alena.


“Atep mau kejar Lena dulu. Teteh tunggu di sini jangan kemana-mana.”


Aku langsung melesat keluar dari ruangan untuk mengejar Alena.


“Man, tahan perempuan itu.” Aku berteriak pada Firman.


Kulihat Firman mencoba menghentikan Alena tapi sepertinya Alena berhasil melepaskan diri dari Firman dan memberi hadiah tonjokan yang mengenai sudut bibirnya.


Wanitaku memang super woman.


Aku berlari secepatnya menuruni tangga. Beruntung saat ini banyak pengunjung cafe sehingga menyulitkan Alena untuk berlari dengan cepat.


Aku berhasil menangkap pergelangan tangan Alena di tempat parkir.


“Lepaskan, berengsek!” Dia berusaha memuntahkan bogemnya ke bagian wajah tapi aku berhasil menghindar.


“Tunggu Len. Dengarkan dulu baik-baik. Jangan seperti ini!”


“Dengarkan apa? Kebohongan kamu untuk menutupi kebejatan kamu.”


“Itu tidak seperti yang kamu lihat.”


“Aku melihat langsung dengan mata sendiri, bukan kata orang lain. Teh Iyah juga melihatnya. Kamu mau mengelak seperti apa lagi, hah?”


“Listen to me!” Aku sedikit berteriak agar dia mau mendengar penjelasanku.


“Aku tidak mau mendengar kebohongan.”


“Ini bukan kebohongan. Aku bisa menjelaskannya sama kamu. Sekarang kamu tenang dulu. Dinginkan kepala kamu. Jangan emosi seperti ini.”


“Kamu memang laki-laki berengsek!” sorot matanya setajam silet. Tidak ada pukulan atau cakaran seperti perempuan lain yang memergoki pasangannya yang berselingkuh.


Eh, tapi aku kan tidak berselingkuh, tapi saja dalam pandangan Alena, saat ini aku sudah berselingkuh.


“Iya, iya. Aku memang berengsek. Mau kan mendengarkan penjelasan dari laki-laki berengsek ini?”


“Tidak mau!”

__ADS_1


“Laki-laki berengsek ini juga memiliki hak untuk membela diri, kan?”


“Kamu laki-laki hidung belang, berengsek, tukang selingkuh, tukang ...”


“Iya, kamu benar aku berengsek tapi aku tidak selingkuh dan bukan laki-laki hidung belang. Lihat, memangnya hidungku belang?" Aku sedikit melemparkan lelucon untuk menurunkan suhu di antara kami yang memanas.


"Gak lucu!"


"Aku memang bukan komedian, jadi gak lucu."


"Berisik!"


"Mau dengar penjelasanku?”


Dia terdiam, tidak menjawab pertanyaanku.


“Sekarang kita kembali ke dalam. Kasihan Teh Iyah menunggu kita tanpa kepastian. Teh Iyah sedang hamil besar. Bagaimana kalau perempuan itu menyakiti Teh Iyah.”


“Oooh jadi kamu tahu sekali kalau perempuan itu masih di ruangan kamu. Menunggu kamu untuk minta maaf kepadanya.”


“Yaa Salam…Alena, bidadariku. Bisa tidak jangan berburuk sangka seperti itu?”


“Tidak usah menggombal pakai sebut bidadari segala.”


Aku menghela nafas dengan kasar mencoba untuk memanjangkan sabarku dalam menghadapi calon istri yang galak.


“Kenapa menghela nafas seperti itu? Menyesal punya calon istri galak seperti aku?”


“Kalau aku boleh memeluk untuk menenangkan emosi kamu, mungkin sudah aku peluk kamu sekarang juga.”


Sebelum pikiranku menjelajah semakin jauh, aku mengajaknya kembali ke ruanganku. “Kita balik ke dalam yuk.”


Aku menuntun tangan Alena dan bersyukur dia tidak memberontak mencoba melepaskan diri lagi.


Seperti yang sudah kuduga, perempuan itu masih berada dalam ruanganku.


“Bu Evangeline, perkenalkan ini Alena, calon istri saya.”


“Aku sudah tahu siapa dia, dan dia.” kata Evangeline sambil menunjuk Teh Iyah.


“Heh, kamu perempuan. Jangan coba-coba untuk merusak hubungan orang lain,” teriak Teh Iyah.


Tiba-tiba Evangeline tertawa terbahak-bahak.


“Hah, siapa yang merusak hubungan orang lain? Ngaca!” teriak Evangeline pada Teh Iyah.


“Terserah. Kamu tidak tahu hal yang sebenarnya tapi sok tahu,” balas Teh Iyah tak kalah ketus.


“Gara-gara kehadiran kamu, kehidupan seseorang menjadi hancur!” teriak Evangeline.


Aku bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Teh Iyah dan Evangeline.

__ADS_1


“Teteh mengenal Bu Evangeline?” tanyaku.


Kulihat Teh Iyah menggeleng.


“Perempuan ****** itu tidak mengenalku. Tapi aku tahu dia yang sudah menghancurkan hidup sepupuku.”


“Siapa kamu? Sepupu yang kamu maksud itu Natasha?” Alena pasang badan saat melihat Evangeline mulai menyerang Teh Iyah secara verbal.


“Kamu pasti adik dari Kagendra. Sepertinya kamu harus merasakan juga penderitaan yang sudah dialami oleh sepupuku. Aku akan merebut laki-laki yang kamu cintai seperti dia yang sudah merebut laki-laki yang dicintai oleh Natasha.”


“Siapa yang merebut siapa? Sepupu kamu yang sudah merusak hidup kakak dan kakak iparku. Dia yang sudah memberikan penderitaan pada kakakku dan istrinya. Enak sekali kamu memutarbalikkan fakta,” ucap Alena keras.


Aku benar-benar bingung dengan pembicaraan antar wanita ini. Apa yang mereka bicarakan? Siapa itu Natasha? Kenapa pula jadi berkaitan dengan Kagendra dan Teh Iyah.


“Kakak kamu adalah laki-laki berengsek. Meninggalkan perempuan yang sudah terpuruk begitu saja seperti habis manis sepah dibuang. Laki-laki bernama Kagendra itu memang benar-benar berengsek. Natasha memang bodoh mencintai laki-laki berengsek itu."


Tiba-tiba Evangeline mendekati Alena dan melayangkan tamparan keras di pipi Alena.


Plak…


"Itu hadiah dariku untuk adik dari laki-laki berengsek itu."


“Dasar perempuan laknat” teriak Alena.


Kulihat Alena bersiap untuk melayangkan pukulan ke arah wajah Evangeline. Dengan sigap aku menahan tangan Alena.


“Jangan bersikap gegabah.”


“Lepaskan.”


Kupegang erat pergelangan tangan Alena.


“Jadi kamu membela dan melindungi dia, hah?” Alena berteriak.


“Tidak. Aku melindungi kamu. Jangan sampai dia melapor ke polisi atas pemukulan yang kamu lakukan. Mengerti?” Aku menatap Alena tajam.


Kulihat kobaran emosi di mata Alena mulai meredup. Sepertinya dia paham dengan perkataanku.


“Kalau kamu mau, kita bisa melaporkan pemukulan yang dia lakukan terhadap kamu.”


“Hah, tidak usah. Perempuan seperti dia tidak usah kita acuhkan.”


Setelah dirasa aman, aku melepaskan tangan Alena. Kemudian dia duduk di sofa.


“Kamu tidak mengusir perempuan itu?” bentak Alena hampir berteriak.


“Bu Evangeline, sebaiknya Anda pergi dari sini. Saya akan meninjau kembali kerjasama kita. Jika memang tidak memungkinkan untuk melanjutkan kerjasama, sepertinya kita akhiri saja perjanjian kita.”


“In your dreams. Aku akan tetap meneruskan kerja sama di antara kita.”


"Ah." Tiba-tiba perempuan itu menarik tengkukku dan melabuhkan sebuah ciuman di sudut bibirku.

__ADS_1


**********


to be continued...


__ADS_2