Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
34. Cafe


__ADS_3

Atep POV


Akhirnya aku berhasil juga mengajak Bu Alena makan siang bersama. Perempuan yang satu itu memang sangat keras kepala. Sulit sekali untuk mendapatkan kata iya dari bibirnya yang seksi itu.


Sepertinya aku mulai berani memikirkan hal-hal yang lebih tentang Bu Alena. Aku terlalu membebaskan otakku untuk memikirkan apapun tentang dia.


Entah kenapa aku berani memikirkan hal-hal gila tentang Bu Alena. Pikiran yang tidak pernah aku pikirakan sebelumnya. Aku memang mencintai Teh Iyah tetapi sepertinya rasa yang aku rasakan pada Teh Iyah dan rasa yang sekarang aku rasakan pada Bu Alena sangat jauh berbeda.


Apakah rasa cintaku pada Teh Iyah bukanlah rasa cinta seorang laki-laki pada seorang perempuan? Aku mencintai Teh Iyah tapi aku tidak pernah memikirkan hal-hal gila tentang Teh Iyah. Aku menghormati dia sebagai seorang kakak perempuan wqalaupun aku juga akui kalau aku mencintai dia sebagai seorang laki-laki dewasa.


Namun perasaanku pada Bu Alena berbeda dengan perasaanku pada teh Iyah. Terhadap Bu Alena aku berani memikirkan hal-hal gila yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku. Aku pun sering memimpikan Bu Alena. Mimpi-mimpi yang mampu membuatku terbangun setiap malam dengan tubuh penuh peluh. Ah, dengan hanya memikirkannya saja sudah membuat jantungku berdetak lebih cepat.


Aku harus menata ulang isi dalam hatiku. Sekarang aku yakin bahwa rasa cintaku pada Teh Iyah hanyalah rasa cinta seorang adik laki-laki pada kakak perempuannya. Aku menyayangi Teh Iyah karena aku sudah mengenalnya sejak aku kanak-kanak. Rasa sayang seorang adik aku salah artikan sebagai rasa sayang seorang laki-laki dewasa. Aku tidak akan lagi salah mengartikan rasa cintaku sebagai laki-laki dewasa. Atep dewasa menyukai seorang Alena. Aku sangat yakin dengan perasaanku sekarang.


Besok adalah pertama kalinya aku akan berkencan dengannya. Boleh kan kalau aku menyebutnya berkencan walaupun aku belum tahu bagaimana perasaan Bu Alena terhadapku.


Drrrt…. drrrrt….


Kulihat nama Teh Iyah memanggil di layar ponselku.


“Assalamualaikum, Teh?


“Waalaikumsalam.”


“Ada apa, Teh?” tanyaku.


“Teteh hanya mau mengingatkan acara syukuran hari Sabtu nanti. Kamu harus datang. Kalau tidak datang, Teteh bakal marah sama kamu,” ancam Teh Iyah.


“Siap Kanjeng Ratu.”


“Jangan lupa juga kalau nanti Teteh akan memperkenalkan kamu dengan adiknya A Endra. Kamu tahu kan maksud Teteh memperkenalkan kalian?”


“Iya… tapi kalau kita tidak cocok jangan memaksa,” tegasku.

__ADS_1


“Teteh tidak akan pernah memaksa tapi Teteh yakin kalau kalian akan cocok. Teteh yakin kalau kamu aku suka sama dia. Dia perempuan yang baik dan salehah. Cocok dengan perempuan idaman kamu. Teteh sangat mengenal kamu luar dan dalam. Teteh tidak akan menjerumuskan kamu dengan mengenalkan perempuan yang tidak baik.” jelasTeh Iyah.


“Kita lihat saja nanti.”


“Oh iya, apa ada orang yang mau kamu undang ke acara syukuran?” tanya Teh Iyah.


“Boleh mengundang seseorang?” tanyaku ragu-ragu.


“Tentu saja boleh. Mau mengundang siapa?”


“Nanti juga teteh bakal tau.”


“Perempuan?”


“Ya.”


“Kan sudah Teteh bilang kalau Teteh mau ngenalin kamu sama adiknya A Endra. Kamu ini kenapa sih? Kamu gak mendengar apa yang tadi Teteh bilang?” Aku mendengar nada suara Teh Iyah meninggi.


“Ooh, dosen pembimbing yang kamu bilang menyebalkan itu?”


“Sekarang sudah tidak menyebalkan lagi,” belaku.


“Baiklah. Teteh juga pengen ketemu sama dosen pembimbing kamu. Seperti apa sih orangnya sampai kamu benci sama dia?”


“Sekarang sudah tidak benci lagi. Kalau masih benci tidak mungkin Atep undang.”


“Iya juga sih. Eh, adiknya A Endra juga dosen di kampus kamu. Barangkali saja dia kenal sama dosen pembimbing kamu itu.”


“Oh ya? Dosen jurusan apa?” tanyaku penasaran.


“Ibuuuuu...” kudengar suara Aras atau Aris memanggil Teh Iyah.


“Eh, sudah dulu ya Tep. Itu Aras dan Aris teriak-teriak manggil. Assalamualaikum.”

__ADS_1


Teh Iyah menutup sambungan telepon sebelum aku sempat membalas salamnya.


Aku jadi penasaran dengan adiknya Kagendra. Teh Iyah bilang kalau dia juga dosen di kampusku. Kalau memang dia dosen di kampusku, siapa dia?


Tidak banyak dosen perempuan yang masih muda di kampusku. Hanya ada dua dosen muda perempuan, yang pertama adalah Bu Syafrina dan yang kedua adalah Bu Alena. Tidak mungkin kan kalau Teh Iyah ingin mengenalkan aku dengan Bu Syafrina yang sudah menikah dan baru saja melahirkan. Bu Alena juga sepertinya tidak mungkin. Siapa dia? Apakah dia dosen dari jurusan lain?


Eh, kenapa tidak mungkin Bu Alena? Mungkin saja kan kalau adiknya Kagendra itu Bu Alena.


Ah sudahlah, di hari Sabtu aku akan mengetahui siapa perempuan yang akan diperkenalkan kepadaku. Perempuan yang mendapatkan pengakuan dan dukungan dari semua keluarga Teh Iyah dan mungkin juga Teh Iyah sudah bilang dan meminta dukungan dari ibuku.


Setelah menerima telepon dari Teh Iyah, aku lajukan motor retroku menuju cafe tempat besok aku dan Bu Alena akan makan siang.


Aku ingin mempersiapkan tempat dan makanan yang istimewa dan special untuk Bu Alena.


Cafe tempat besok kami berkencan berlokasi di utara kota Bandung dengan pemandangan pegunungan dan pusat kota Bandung yang terlihat seperti hamparan karpet berwana-warni.


Cafe itu adalah cafe yang dibangun oleh tangis dan tetes keringatku. Tiap rupiah aku kumpulkan untuk bisa membangun sebuah cafe sederhana di atas tanah warisan dari ayahku.


Walaupun terlihat sederhana tapi desain cafe ini terlihat nyaman, terutama untuk para pasangan yang memang datang ke cafe untuk menikmati suasana yang nyaman dan menenangkan.


Makanan yang dibuat di cafe ini juga berkualitas tinggi, dimasak oleh chef profesional sehingga harga tiap menunya sedikit lebih mahal dibandingkan makanan dari cafe-cafe anak muda biasanya.


Aku bersyukur pengunjung cafeku sekarang sudah mulai banyak. Mungkin karena konsep dan pemandangan yang ditawarkan oleh cafe ini berbeda dengan cafe-cafe kebanyakan. Selain mengikuti tren kekinian, aku pun berusaha mempertahankan kualitas pelayanan, makanan dan minumannya. Selain menjaga kualitas terbaik, setiap akhir pekan, cafeku menyuguhkan live music dengan musisi berkualitas tinggi secara gratis.


Jika cafe-cafe anak muda lainnya menawarkan makanan western, jepang, atau korea yang sedang kekinian, cafe disini menyediakan kuliner tradisional dari seluruh daerah di Indonesia, terutama asal bumi parahyangan yang dikemas secara kekinian.


Setiap akhir pekan, aku menyumbangkan suara emasku di atas panggung kecil yang memang disiapkan untuk siapapun yang ingin bernyanyi. Cafeku sering digunakan oleh banyak laki-laki untuk melamar pasangannya. Minggu kemarin saja, seorang laki-laki memintaku untuk bernyanyi di atas panggung sebagai backsound saat dia melawar kekasihnya.


Nanti, aku berharap bisa melamar Bu Alena di sini. Bahkan aku berharap bisa menikah dengannya dan melangsungkan resepsi secara sederhana di cafeku.


************


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2