
Alena POV
Sebentar lagi magrib, aku mencoba untuk berdiri dari sofa yang kududuki. Laki-laki itu duduk berselonjor di atas karpet dan sepertinya dia terlelap dengan kepala menyender ke sofa.
“Tep… Bangun! Sudah mau magrib.”
Aku menggoyangkan bahunya supaya dia terbangun.
Kulihat dia mengeliatkan tubuhnya. “Eh… Maaf. Saya jadi ketiduran,” ujarnya sambil mengucek-ngucek mata.
“Sudah mau magrib. Kalau kamu mau mandi, kamu bisa mandi di kamar mandi dekat dapur. Walaupun kamar mandinya kecil tapi cukuplah dipakai untuk bersih-bersih. Kalau kamu gak mau mandi di kamar mandi dekat dapur, kamu bisa mandi di kamarku,” tawarku.
“Saya mandi di kamar mandi dekat dapur saja.”
Dia beranjak menuju kamar mandi yang berada dekat dapur.
“Boleh pinjam handuk?” tanyanya.
“Kamu ambil saja sendiri di lemariku.”
“Oke. Maaf ya kalau saya gak sopan buka lemari bajunya kamu.”
“Gak apa-apa, Tep. Kan saya yang nyuruh kamu, kamu gak nyelonong main buka tanpa izin.”
“Iya memang. He-he-he,” dia terkekeh.
“Sebelum kamu ambil handuknya, bisa minta tolong buat menuntun saya masuk ke kamar dan ambil wudu? Sepertinya saya masih pusing dan belum berani jalan sendiri.”
Dengan tidak mengindahkan rasa malu, aku meminta tolong padanya.
“Siap. Apa sih yang enggak buat kamu.”
Ish… bisa-bisanya di berkata seperti itu. Bikin malu saja. Sepertinya aku sudah menyerah mempertahankan keinginanku agar sebutan ‘kamu’ tidak dia gunakan. Dia terlalu keras kepala. Daripada sakitku menjadi semakin parah karena rasa kesal, lebih baik aku ikuti saja kemauannya menyebutku dengan sebutan ‘kamu.
Aku berjalan masuk ke dalam kamar dengan bantuannya. Dia juga membantuku untuk masuk ke kamar mandi dan menungguku berwudu. Setelah selesai berwudu, dia kembali menuntunku. Dia memegang lenganku yang terbungkus piyama sehingga kami tidak bersentuhan kulit secara langsung. Aku berdoa semoga apa yang kami lakukan ini tidak termasuk ke dalam dosa.
Setelah selesai membantu, dia mengambil handuk dari lemari dan langsung keluar dari kamar.
Setelah aku selesai menunaikan salat isya, dia mengetuk kamar.
Setelah aku mempersilahkan masuk, dia berdiri di ambang pintu.
“Mau makan malam dengan apa?” tanyanya.
“Saya tidak selera untuk makan. Masih kenyang karena baru tadi sore kita makan,” jawabku.
“Eh, tidak boleh begitu. Kalau kamu tidak makan nanti sembuhnya lama. Saya pesankan nasi tim ayam saja, ya?” tawarnya.
“Yang sakit bukan masalah pencernaan sampai saya harus makan yang lembek-lembek. Saya tidak suka nasi tim,” jawabku ketus karena dia terus menawarkan nasi tim ayam padahal sudah aku bilang tadi siang kalau aku tidak suka nasi tim.
“Jadi kamu maunya makan apa?”
“Ter…”
Belum sempat aku menjawab dia sudah memotong perkataanku.
“Eit… Tidak boleh bilang terserah. Saya bingung kalau perempuan sudah bilang terserah.”
__ADS_1
Ish….
“Saya sudah lapar lagi. Mengurus kamu yang sedang sakit menghabiskan energi dengan cepat. Saya mau beli soto ayam. Kamu suka soto ayam?”
“Kalau tidak mau mengurus orang sakit ya sudah tidak usah mengurus. Sudah saya bilang kan kalau kamu bisa pergi,” jawabku kesal.
'Ya ampun...saya cuma bercanda. Saya memang suka makan. Malam ini kita makan yang ringan saja. Tidak usah makan nasi. Saya mau pesan soto ayam. Kamu mau?” tawarnya.
"Terserah."
Kemudian dia mulai mengutak ngatik ponselnya. Mungkin dia sedang memesan makanan lewat delivery order.
“30 menit lagi, makanannya sampai,” ucapnya yakin.
Aku mengangguk.
“Mau keluar?”
Aku kembali mengangguk untuk menjawab pertanyaannya dan dia langsung memapahku keluar dari kamar. Dia mendudukkan aku di atas sofa dengan posisi yang sama seperti tadi siang.
30 menit sudah berlalu, tapi makanan kami belum juga sampai.
“Sepertinya yang pesan soto ayam lagi banyak hingga antriannya panjang. Kamu sudah lapar? Mau saya belikan dulu roti di minimarket lantai bawah?”
“Tidak usah. Kita tunggu saja makanannya sampai,” jawabku.
Setelah kami menunggu lagi sekitar 15 menit, akhirnya makanan yang dia pesan tiba.
“Maaf sudah menunggu lama.”
Dia berlari kecil menuju dapur mengambilkan piring, mangkok dan sendok untuk kami makan.
“Mau makan sendiri atau disuapi lagi?” tanyanya.
“Sendiri!” jawabku tegas.
Aku juga masih punya rasa malu. Masa terus disuapi dia sih. Kakak bukan, pacar bukan, apalagi suami. Seumur-umur juga aku belum pernah disuapi sama kakak kandungku sendiri. Mana mau dia nyuapi aku.
Aku mulai menyuapkan kuah soto yang segar ke dalam mulut dan menguyahnya dengan perlahan. Kurasakan sakit di kepala ketika sedang menguyah.
Dia sudah menghabiskan sotonya. Dia juga menghabiskan satu gelas besar dalam satu kali tarikan nafas.
“Dasar unta.” rutukku dalam hati.
“Tuh kan kalau tidak disuapi makannya lama.”
Aku menatapnya kesal.
“Gak usah melotot begitu. Nanti sakit kepalanya gak sembuh-sembuh.”
“Kepalaku sakit jadi makannya lama. Kalau kamu gak mau lihat saya makan, ya sudah jangan dilihat.”
“Saya suapi saja biar makanannya cepat habis.”
Dia mengambil sendok yang sedang kupegang.
“Apa-apaan sih?” protesku.
__ADS_1
“Saya suapi. Gak usah protes dan emosi supaya cepat sembuh. Setelah makan, minum obatnya. Saya sudah tanyakan ke teman saya yang dokter dan minta resep darinya. Tadi habis magrib, sudah saya tebus resepnya.”
“Ya, terima kasih,” ucapku tulus.
Dia memang pemaksa tetapi tak kuduga kalau ternyata dia telaten juga. Dia menyuapiku sampai kuah sotonya habis tak bersisa. Padahal tadi aku sudah berencana untuk tidak menghabiskan makanku.
Setelah kuah sotonya habis, dia menyodorkan gelas berisi air. Aku hanya minum setengahnya karena kurasa perutku sudah penuh.
“Istirahat sebentar. 30 menit an lagi baru minum obatnya,” tukasnya.
“Ya.” Aku mengangguk pelan.
“Mau nonton?”
“Gak mau,” jawabku singkat.
“Ya sudah istirahat saja sambil bersandar.”
Dia menyelipkan bantal sofa untuk menopang kepalaku yang bersandar ke bagian atas sofa.
Ketika aku sedang memejamkan mataku, aku merasakan sentuhannya di pundakku.
“Kamu, tidur?” tanyanya.
“Ada apa?”
“Waktunya minum obat.”
Dia menyodorkan piring kecil berisi dua butir obat.”
“Makasih.”
Setelah aku selesai meminum obatnya, dia mencuci dan membereskan bekas makan kami.
“Mau tidur sekarang?” tanyanya.
“Ya.”
“Mau digendong?”
“Tidak usah. Sepertinya saya sudah bisa jalan sendiri.”
“Ya sudah kalau begitu. Selamat tidur. Boleh kan kalau saya tidur di sofa?”
“Kamu tidur saja di kamar sebelah, biar nyaman.” Aku menawarkan dia untuk tidur di kamar tamu. Aku tidak tega kalau dia harus tidur di sofa.
“Boleh?”
Aku mengangguk.
“Makasih. Ternyata kamu baik hati juga karena mengizinkan saya tidur di atas kasur.”
“Saya yang harusnya berterima kasih sama kamu.”
Setelah mengucapkan terima kasih, aku langsung masuk ke dalam kamar dengan tertatih.
**********
__ADS_1
to be continued...