Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 13


__ADS_3

Pergi dari kantor Mas Dirga, aku singgah ke pusat perbelanjaan untuk membeli lingerie. Setelah memastikan Mas Dirga benar-benar lembur di kantor, aku berfikir untuk tetap bersikap hangat seperti biasanya. Selagi belum melihat dengan mata kepalaku sendiri, memang tidak adil kalau aku terus berfikir buruk tentangnya sampai akhirnya membuatku jadi malas untuk bermesraan dengan Mas Dirga.


Tapi bukan berarti hal itu akan membuatku diam saja, untuk beberapa hari ke depan aku akan terus menyelidiki Mas Dirga.


Aku masuk ke salah satu toko yang khusus menjual baju-baju wanita seperti lingerie, pakaian dlm dan baju seksi lainnya.


Mengambil beberapa lingerie, aku bergegas membawanya ke kasir.


Hari sudah menjelang petang, aku memutuskan keluar dari toko untuk pulang ke rumah. Namun seketika kaki berhenti melangkah saat berpapasan dengan seorang wanita yang memiliki aroma parfum vanilla. Aroma itu membuatku ingat dengan kemeja Mas Dirga. Wanginya benar-benar mirip, bahkan sama persis. Aku mengingat aromanya dengan baik meski parfum vanilla yang di belikan Mas Dirga belum sempat aku pakai.


Aku urungkan niat keluar dari toko. Segera ku susul wanita cantik yang baru saja masuk. Diam-diam aku mengamatinya, menatap lekat wajahnya untuk di ingat.


Wanita yang datang seorang diri itu berhenti di bagian lingerie. Dadaku tiba-tiba terasa nyeri, seandainya pemilik parfum yang menempel di kemja Mas Dirga adalah wanita itu, sudah sejauh apa hubungan mereka berdua. Dia bahkan sampai membeli lingerie.


Bergegas pulang, aku tak mau membuat wanita itu menaruh curiga. Apalagi wanita itu seperti tau kalau aku memperhatikannya.


Yang terpenting aku sudah mengingat wajahnya.


Walaupun ada ketakutan besar dan firasat yang kuat, namun selalu ada harapan yang terselip. Semoga saja Mas Dirga tidak bermain dengan wanita itu, ataupun wanita manapun.


Aku tau Mas Dirga tipe pria yang setia, dia tak akan pernah mendua dan menyakiti pasangannya.


...*****...


Meski sudah berusaha untuk berfikir positif, nyatanya aku masih mengaitkan wanita itu dengan Mas Dirga. Aku tau pemilik parfum dengan aroma vanilla bukan hanya wanita itu saja, tapi entah kenapa aku sangat yakin dialah orangnya.


Suara bel rumah membuyarkan lamunanku, aku menyambar kardigan sebelum keluar untuk memabukkan pintu. Saat ini memang sudah waktunya Mas Dirga pulang, jadi aku sudah memakai lingerie. Namun seseorang yang baru saja menekan bel tidak mungkin Mas Dirga.

__ADS_1


"Mas Agam,, kenapa.?" Di tengah-tengah risaunya hati, aku mencoba mengukir senyum tipis untuk Mas Agam. Tak mau menunjukkan kerisauanku di depan orang lain.


"Apa Dirga belum pulang.?" Tanyanya. Aku menggelengkan kepala.


"Katanya sebentar lagi pulang. Terakhir bilang masih di kantor karna pekerjaannya belum selesai."


"Mas Agam ada perlu dengan,,"


Belum sempat menyelesaikan ucapanku, Mas Agam sudah lebih dulu memotongnya.


"Kamu yakin dia sedang di kantor.?" Pertanyaan yang di ajukan Mas Agam memaksaku untuk berfikir macam-macam lagi pada Mas Dirga. Tapi kenapa Mas Agam bisa bertanya seperti itu.? Apa mungkin dia tau sesuatu tentang Mas Dirga.?


"Maksudnya bagaimana Mas.? Bia nggak ngerti." Aku menatap penasaran.


"Tapi Mas Dirga benar-benar ada di kantor." Aku berucap yakin. Pasalnya aku sudah memastikannya sendiri.


Dan yang membuat dadaku semakin sesak adalah sosok wanita yang bersama Mas Dirga. Aku ingat betul siapa wanita itu. Baju yang dia pakai bahkan masih sama dengan baju yang aku lihat 2 jam yang lalu. Aku bertemu dengannya saat sedang membeli lingerie.


Lalu anak kecil itu.? Kenapa dia begitu dekat dengan Mas Dirga.? Bahkan Mas Dirga sampai menyuapinya.


Mataku terasa panas, penglihatanku mulai kabur akibat air mata yang mulai menggenang.


"Bia.? Kamu baik-baik saja.?" Aku merasakan tangan Mas Agam menahan tubuhku yang hampir ambruk. Seketika duniaku terasa gelap.


Seandainya benar Mas Dirga memiliki hubungan dengan wanita itu, tega sekali Mas Dirga mengkhianatiku dan pernikahan kami.


Kakiku tak kuasa lagi untuk menopang tubuh yang rapuh ini. Mas Agam sampai memapahku masuk ke dalam dan mendudukkanku di sofa.

__ADS_1


"Maaf Bia, aku nggak bermaksud buat kamu seperti ini. Tapi Dirga sudah keterlaluan, aku nggak sengaja liat dia di mall dan mereka sangat akrab." Suara Mas Agam penuh dengan sesal. Mungkin karna aku jadi tidak berdaya seperti ini setelah dia menunjukkan foto itu padaku.


"Bahkan ini bukan kali pertama aku melihat suami kamu pergi sama mereka."


Penuturan Mas Agam membuatku semakin yakin kalau Mas Dirga memiliki hubungan terlarang dengan wanita itu.


"Jadi Mas Agam sudah sering melihat mereka bersama.? Kenapa baru memberitahuku sekarang.?!" Ada nada kekecewaan yang keluar begitu saja. Aku tak berfikir kalau Mas Agam hanya orang lain dan sekedar tetangga yang tak mungkin terlalu jauh ikut campur urusan rumah tanggaku. Seperti aku yang tidak berani menceritakan pada Mas Agam saat melihat Mbak Karina bermesraan dengan pria lain.


Aku tersenyum miris, nasibku dan Mas Agam benar-benar serupa. Kami layaknya istri dan suami yang bodoh akibat kegilaan pasangan kami masing-masing.


"Aku pikir nggak ada hak buat ikut campur hal ini. Tapi karna terlalu sering melihatnya, aku nggak tega menutupinya dari kamu." Mas Agam menatap iba padaku. Apa semenyedihkan itu reaksiku setelah mengetahui kebusukan Mas Dirga.


Perlahan aku menarik nafas dalam dan membuangnya. Aku tidak boleh terlihat lemah dan menyedihkan di depan siapapun.


"Bia memang sudah mencurigai Mas Dirga belakangan ini. Hanya saja belum melihat secara langsung interaksi mereka."


"Untuk foto ini, Bia mohon jangan bilang sama Mas Dirga. Jangan bilang juga kalau Bia sudah tau semua ini." Aku memohon pada Mas Agam.


Dengan berpura-pura bodoh dan tidak tau apapun di depan Mas Dirga, aku ingin lihat sampai sejauh mana Mas Dirga akan mengkhianatiku.


"Kamu tengan aja, aku nggak akan bilang sama Dirga."


"Sebaiknya kamu minum dulu dan istirahat, aku harus pulang." Mas Agam mengukir senyum seraya mengusap pucuk kepalaku.


"Nggak usah menangisi suamimu, dia yang akan menangis suatu saat nanti karna sudah mengkhianati istri sebaik kamu." Ucapan Mas Agam membuatku bersemangat dan bertekad untuk tidak menangisi Mas Dirga.


Bukan salahku kalau Mas Dirga berselingkuh, karna selama ini aku sudah menjadi istri yang baik untuknya. Mas Dirga saja yang tidak bersyukur.

__ADS_1


__ADS_2