Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 50


__ADS_3

"Mas,," Aku memanggil Mas Agam yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya meski sekarang sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Hmmm,, kenapa Bi.?" Mas Agam bertanya tanpa menatap ke arah ku. Padahal aku duduk di depannya.


Entah kenapa aku merasa sikap Mas Agam berubah dingin setelah aku menerima telfon dari Mas Dirga.


"Mas marah sama Bia.?" Aku menatap lekat, berharap Mas Agam mau menjawab sambil menatap ke arahku.


"Untuk apa aku marah sama kamu.?" Nada bicara Mas Agam terdengar datar. Dia melirik sekilas dan kembali fokus pada laptopnya. Jelas sekali kalau Mas Agam sedang menghindari bertatapan denganku.


"Maaf,," Aku berucap lirih, bahkan aku tidak yakin Mas Agam mendengarnya.


Entah kenapa tiba-tiba aku merasa bersalah pada Mas Agam hingga akhirnya kata maaf keluar begitu saja dari bibirku.


Aku bingung dengan diriku bahkan dengan perasaanku sendiri.


"Minta maaf untuk apa.? Kamu merasa punya salah sama aku.?" Ucap Mas Agam yang langsung menatapku. Rupanya dia mendengar ucapan maafku.


Padahal sejak tadi aku berharap Mas Agam mau menatapku, tapi sekarang setelah dia menatapku, aku justru memilih menundukkan pandangan. Tatapan mata Mas Agam justru membuatku semakin merasa bersalah padanya.


Kami sudah berbuat terlalu jauh dan membuatnya merasa memilikiku, tapi aku malah menunjukkan pada Mas Agam kalau hubunganku dengan Mas Dirga baik-baik saja saat menerima telfon darinya.


"Ini nggak mudah buat Bia, Mas,," Dadaku sangat sesak. Aku bicara dengan suara tercekat karna menahan tangis.


"6 tahun bukan waktu yang singkat. Aku hanya menggantungkan harapan dan hidupku padanya selama ini."


"Mengetahui fakta menyakitkan itu, terkadang aku sulit percaya kalau dia tega mengkhianati ku." Meski berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis, pada akhirnya air mataku tetap luruh.


"Itu karna kamu dibutakan oleh cinta." Sahut Mas Agam dengan senyum sinis. Aku bisa melihat dia menahan sesuatu di balik senyum dan sikapnya yang santai itu.


"Kalau begitu berhenti berfikir untuk balas dendam ataupun mengakhiri pernikahan kalian. Terima kenyataan kalau Dirga memang mendua dan maafkan kesalahannya."


"Perbaiki kalau memang masih bisa di perbaiki. Maksudku, kalau memang kamu nggak bisa lepas dari Dirga." Mas Agam mengucapkan kalimat terakhir dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Dia mematikan laptop, kemudian beranjak dari sofa dan meninggalkanku begitu saja.


Aku mematung, hanya bisa diam menatap Mas Agam yang kini menghilang di balik pintu kamar mandi.


Perkataan Mas Agam menjadi tamparan keras untukku karna tak bisa mengambil keputusan untuk rumah tanggaku bersama Mas Dirga.


...*****...


Pekerjaan di kantor cabang sudah selesai.


Siang itu kami kembali ke Bandung selesai makan siang. Sepanjang perjalanan menuju Bandung, aku dan Mas Agam tidak banyak bicara. Atau lebih tepatnya Mas Agam memasang wajah dingin yang membuatku segan untuk memulai pembicaraan.


Dering ponsel milikku memecah keheningan di dalam mobil yang kami tumpangi. Aku merogoh ponsel di dalam tas, sebuah panggilan masuk dari Mas Diega membuatku reflek melirik Mas Agam. Aku ragu untuk menerima telfon itu di depan Mas Agam karna takut membuat moodnya semakin buruk.


Aku memilih mengabaikan panggilan itu setelah menekan mode silent dan memasukkan kembali ponselku ke dalam tas.


"Kenapa nggak di angkat.? Suamimu pasti mencemaskan kamu." Mas Agam berucap datar tanpa menatap ke arahku. Entah dari mana Mas Agam tau kalau panggilan telfon itu dari Mas Dirga, sedangkan sejak aku mengambil ponsel, Mas Agam sama sekali tidak melirik ponsel di tanganku.


"Mas,, aku akan mengajukan gugatan cerai pada Mas Dirga." Bukannya menjawab, aku justru mengutarakan keputusan yang semalam sudah aku pikirkan matang-matang.


Karna pada akhirnya aku dan Mas Dirga sama-sama mengkhianati pernikahan kami, jadi lebih baik mengakhiri pernikahan ini.


Tak hanya itu saja, karna sepertinya perasaanku pada Mas Agam semakin besar setelah kami melakukan hubungan terlarang itu.


Entah kenapa aku yakin akan bahagia setelah lepas dari Mas Dirga dan memulai hidup baru bersama Mas Agam.


Mas Agam melirikku sekilas, tatapan matanya seolah menunjukkan kalau dia tidak percaya dengan ucapanku.


"Sebaiknya kamu pikirkan lagi, jangan sampai kamu menyesal karna kamu masih sangat mencintainya." Ucapnya datar namun penuh penekanan.


Aku menghela nafas, memilih diam dan membuang pandangan ke luar jendela.


Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk membahas hal ini lebih jauh lagi.

__ADS_1


...******...


Dirga POV


"Hentikan Zi, jangan terus membahas kesalahan yang membuatku sangat menyesalinya.!" Amarahku mulai tidak terkendali karna Ziva terus membahas kejadian malam itu.


Kejadian yang membuatku sadar betapa bodohnya aku karna bisa melakukan hal gila itu dengan Ziva.


Aku benar-benar merasa bersalah dan berdosa pada Bianca. Entah bagaimana caranya aku menebus kesalahanku padanya. Sedangkan aku tidak berani berkata jujur pada Bianca karna takut kejujuranku akan membuat Bianca pergi dari hidupku. Membayangkan hal itu saja sudah membuatku takut.


"Aku nggak akan tinggal diam Mas.! Aku akan menemui Bianca dan mengatakan apa yang sudah terjadi di antara kita.!"


"Bianca harus tau kalau kita pernah menghabiskan malam bersama, bahkan dulu kita sering melakukannya.!"


"Aku ingin dia meninggalkan kamu, Mas.!"


Ziva mengancam penuh amarah. Aku langsung membentaknya mematikan sambungan telfonnya.


"Sh-itt.!!!" Umpatku yang nyaris membanting ponsel. Ziva benar-benar sudah berubah, dia bukan lagi gadis lugu yang dulu aku kenal.


Sejauh ini dia terus berusaha untuk menarik ku agar jatuh ke pelukannya. Aku bahkan baru sadar kalau selama ini dia menggunakan Rayyan untuk mendekatiku.


Andai saja aku tidak peduli dengan keadaan Ziva saat pertama kali di pertemukan lagi dengannya, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini.


Dan aku juga tidak akan melakukan kesalahan besar pada Bianca.


"Maafin Mas, Dek,," Aku meremas kasar rambutku.


Pikiranku semakin kacau karna aku yakin ancaman Ziva tidak main-main.


Cepat atau lambat, Bianca akan tau kesalahanku yang selama ini berusaha aku tutupi.


Kehancuranku sudah di depan mata. Kesetiaan yang lebih dari 6 tahun aku jaga untuk Bianca, pasti tidak akan berarti di mata Bianca setelah dia mengetahui semuanya.

__ADS_1


Kesalahanku cukup fatal, aku tau tidak mudah untuk di terima. Tapi aku berharap, Bianca mau memaafkan kesalahanku dan bersedia untuk tetap mempertahankan rumah tangga kami.


3 tahun menjalani pernikahan tanpa pernah sekalipun kami bertengkar. Bahkan soal belum memiliki anak tak pernah menjadi masalah. Aku pikir rumah tanggaku dengan Bianca selalu baik-baik saja hingga maut memisahkan, tapi nyatanya aku terlalu bodoh karna kini aku yang telah menciptakan kehancuran untuk rumah tanggaku sendiri.


__ADS_2