
"2 hari lagi Mas harus ke luar kota Dek, diminta ngecek perkembangan proyek baru."
Aku baru saja melupakan sejak kebohongan Mas Dirga setelah percintaan panas kami, tapi tiba-tiba di ingatkan lagi karna ucapannya barusan.
Pergi keluar kota.?
Setelah sekian lama tidak pernah di tugaskan ke luar kota, kenapa aku merasa Mas Dirga membohongiku lagi. Alih-alih pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, aku justru berfikir Mas Dirga akan pergi dengan wanita itu. Seperti kebohongan yang di lakukan oleh Mbak Karina pada Mas Agam. Berkedok urusan pekerjaan, ternyata malah bersenang-senang dengan orang lain tanpa memikirkan hati pasangannya.
"Berapa hari di luar kota.? Biar nanti aku packing baju-bajunya." Ku tanggapi dengan santai. Tak menunjukkan kesedihan ataupun kecurigaan di depannya. Biar saja, biar saja Mas Dirga puas berbuat semaunya di belakangku.
"Cuma 3 hari Dek." Mas Dirga menjawab seraya memelukku.
"Makasih ya." Sebuah kecupan mendarat di keningku. Aku memejamkan mata, kecupan yang biasanya memberikan ketenangan dan kebahagiaan, kini terasa menyakitkan.
Setiap sentuhan yang dilakukan Mas Dirga, membuatku ingat dengan wanita itu. Wanita yang membuat Mas Dirga berulah selama aku mengenalnya.
"Sama-sama Mas."
"Mau lanjut atau enggak.? Kalau nggak, aku mau tidur duluan ya." Tanyaku yang masih menawarkan diri disaat aku tau kebusukan Mas Dirga.
Matanya jelas terbuka, tapi Mas Dirga tidak bisa melihat peranku sebagai istri yang sudah berusaha keras untuk sempurna dalam mengurus dan melayaninya.
Bagaimana bisa di mencari kesenangan dengan wanita lain, disaat aku mengabdikan seluruh hidupku padanya.
"Kamu udah ngantuk ya.?" Mas Dirga bertanya lembut.
"Ngantuk plus capek,," Jawabku.
"Ya udah tidur aja. Sini biar Mas pijitin." Mas Dirga merubah posisi dengan duduk di sampingku. Dia meminta ku untuk tengkurap dan mulai memijat punggungku dengan lembut.
__ADS_1
Aku sudah menolak dan menyuruh Mas Dirga untuk ikut tidur, tapi dia bersikeras ingin memijatku.
"Kalau udah cape ngerjain pekerjaan rumah, jangan di paksain Dek."
"Cari orang saja buat bantu bersih-bersih rumah sama nyuci tiap 2 hari sekali."
Mas Dirga memang sudah sering menyarankan hal itu sejak awal pernikahan kami, tapi aku menolak karna menurutku akan lebih terasa menjadi seorang istri jika mengurus pekerjaan rumah sendiri. Lagipula rumah kami tidak terlalu besar dan kami juga belum memiliki anak, jadi sekalipun tidak di bereskan selama beberapa hari, rumah masih dalam keadaan rapi.
"Nggak usah Mas, aku masih bisa kerjain sendiri."
"Kalau nyuruh orang, terus aku ngapain aja di rumah." Aku menolaknya seperti biasa.
"Ya udah terserah kamu aja Dek. Tapi kalau udah cape langsung istirahat ya, jangan di paksain. Mas nggak mau sampai kamu sakit." Ucapnya penuh perhatian. Aku menganggukkan kepala tanpa bersuara.
Terkadang aku bingung dengan perasaan Mas Dirga padaku. Sikapnya masih perhatian dan masih penuh cinta padaku, tapi kenapa dia sampai melakukan semua ini padaku.
Sebenarnya apa yang di inginkan oleh Mas Dirga.
Mau memiliki keduanya.?
Aku tersenyum getir saat pertanyaan itu terlintas dalam benakku.
...*****...
2 hari sebelum Mas Dirga ke luar kota, aku selalu mengawasi di dekat kantornya setiap jam pulang kerja. Selama 2 hari itu aku tidak mendapati Mas Dirga pergi kemanapun meski berjam-jam menunggu di dekat kantornya.
Di saat aku ingin menangkap basah Mas Dirga dengan wanita itu, aku justru tidak mendapatkan petunjuk apapun.
Pagi ini setelah sarapan, aku mengantar Mas Dirga ke bandara. Mas Dirga sendiri yang memintaku untuk mengantarnya. Tentu saja aku menyetujuinya, dengan begitu aku bisa memastikan kalau Mas Dirga benar-benar pergi dengan teman sekantornya yang di tugaskan untuk meninjau proyek.
__ADS_1
Sampainya di bandara, aku di kenalkan Mas Dirga dengan teman kerjanya. Mas Dirga hanya pergi berdua dengan pria itu.
Aku sedikit bernafas lega mengetahui Mas Dirga benar-benar ke luar kota karna urusan pekerjaan.
"Istrinya cantik banget Mas, pantes nggak betah lama-lama di kantor." Ucapan lirih teman Mas Dirga membuatku reflek menoleh, bersamaan dengan itu Mas Dirga langsung menyikut dan menatap tak suka pada temannya.
"Nggak usah liat-liat istri gw.!" Tegur Mas Dirga ketus. Sejak dulu Mas Dirga memang posesif, dia tidak suka mengajakku bertemu dengan teman-temannya karna pasti akan ada saja teman Mas Dirga yang memuji ku. Bahkan ada yang bilang secara langsung di depan Mas Dirga kalau dia akan merebutku darinya. Meski temannya hanya bercanda, tapi Mas Dirga menanggapi serius dan dia hampir berkelahi dengan teman baiknya sendiri.
"Kamu langsung pulang aja ya Dek. Temen Mas rese, udah punya tunangan masih sempet-sempetnya muji istri orang." Mas Dirga melirik kesal pada temannya. Pria yang lebih muda dari Mas Dirga itu tampak tersenyum kikuk. Mungkin dia merasa tidak enak hati padaku, atau mungkin malu karna di tegur oleh Mas Dirga.
"Ya udah, aku pulang dulu Mas."
Aku pamit pada Mas Dirga. Dia memelukku erat, mencium kening ku bertubi-tubi. Kedua pipi dan pucuk kepala juga menjadi sasaran. Kecuali bibir, karna sejak dulu Mas Dirga paling tidak suka mencium bibirku di depan umum, katanya takut pria lain yang melihatnya akan membayangkan bibirku.
"Hati-hati di rumah ya Dek. Langsung telfon Mas kalau ada apa-apa." Aku bisa melihat kecemasan di wajah Mas Dirga. Karna kondisi sekitar di rumah kami sangat sepi, Mas Dirga jadi cemas meninggalkanku ke luar kota.
Dia bahkan sampai meminta satpam penjaga pos untuk sering berkeliling ke dalam cluster kalau malam.
"Iya Mas. Mas Dirga juga hati-hati. Kabari kalau sudah sampai." Aku meraih tangan Mas Dirga untuk mencium punggung tangannya.
"Pulangnya hati-hati Dek, pelan-pelan aja nyetirnya." Pesan Mas Dirga sebelum aku beranjak dari hadapannya untuk meninggalkan bandara.
Baru beberapa belas meter melangkahkan kaki, aku di buat berhenti karna melihat sosok yang sangat aku kenali.
Lagi-lagi aku melihat Mbak Karina bersama pria yang sama saat berada di mall waktu itu.
Mereka bergandengan mesra dengan menarik koper masing-masing.
Aku tak habis pikir, ada apa dengan orang-orang yang sudah memiliki pasangan baik dan setia tapi malah berselingkuh.
__ADS_1