Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 43


__ADS_3

"Kamu lagi ngapain Dek.?" Aku terperanjat. Seketika menutup hordeng jendela yang aku sibak untuk mengintip halaman rumah Mas Agam.


"Ii,,iitu Mas,, tadi aku kayak dengar ada orang teriak paket."


"Tapi nggak ada orang di luar, kayaknya aku salah denger." Aku langsung beranjak dari sana agar Mas Dirga tak merasa curiga.


"Mungkin kurir ke rumah sebelah." Ujarnya menanggapi.


"Udah malam, ayo tidur." Mas Dirga merangkul pinggangku dan mengajakku masuk ke kamar.


Perasaanku cemas dan tidak karuan saat ini. Bagaimana tidak, sampai detik ini Mas Agam belum pulang ke rumah.


Kau pikir dia akan langsung pulang saat keluar dari ruangan kami tadi sore. Tapi sampai detik ini, mobil Mas Agam belum juga terparkir di depan rumahnya. Bahkan rumahnya dalam keadaan gelap.


Sebenarnya kemana perginya Mas Agam.? Kenapa dia tidak pulang.? Apa mungkin ada kaitannya denganku.?


Rasanya tidak mungkin kalau Mas Agam memilih untuk tidak pulang hanya karna cemburu ataupun kesal setelah tau aku di jemput oleh Mas Dirga.


...*****...


Semalam aku sampai tidak tidur karna memikirkan Mas Agam. Apa lagi pesan beruntun yang aku kirimkan padanya tak mendapatkan respon apapun, bahkan belum dia baca sampai detik ini.


Setelah mencuci muka, aku bergegas keluar dari kamar. Meninggalkan Mas Dirga yang masih terlelap.


Buru-buru aku membuka pintu rumah hanya untuk memastikan keberadaan mobil milik Mas Agam. Sayangnya aku harus menelan kecewa karna Mas Agam belum juga kembali ke rumah.


"Kenapa aku jadi seperti ini.?" Menatap menerawang dengan berpegangan pada pintu, aku dibuat bingung dengan perasaanku sendiri.


Bingung karna aku baru menyadari bahwa perasaanku pada Mas Agam bukan hanya sekedar pelampiasan atas kekecewaanku pada Mas Dirga.


Sungguh perasaan itu datang begitu saja dengan sendirinya, meski beberapa kali aku mencoba untuk menghindar, tapi hati tak bisa menyangkal.

__ADS_1


Tak peduli walaupun salah, nyatanya perasaan itu memang ada untuk Mas Agam.


Aku beranjak untuk membuat sarapan. Lebih dari 30 menit berkutat di dapur. Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di perutku dari belakang saat aku sedang menata makanan di atas meja.


"Ini weekend Dek, tumben jam segini sudah siap sarapannya." Suara Mas Dirga terdengar serak dan berat di telingaku. Dia meletakkan dagunya di pundakku dan semakin memeluk erat.


"Kamu bangun jam berapa.?" Tanyanya.


"Belum lama Mas, mungkin 1 jam yang lalu." Aku menguar pelukan Mas Dirga dengan melepaskan kedua tangan yang melingkar di perutku.


"Ayo sarapan, aku udah laper." Mengukir senyum tipis, aku bergegas menempati salah satu kursi, di susul Mas Dirga yang langsung duduk di sebelahku.


"Kamu pengen kemana hari ini Dek.? Ayo jalan, mumpung Mas lagi senggang. Kerjaan kantor udah di selesain kemarin." Ucapnya lembut.


Sampai detik ini tak ada yang berubah dari cara bicara dan perlakuan Mas Dirga padaku. Hanya waktunya saja yang berkurang karna sudah terbagi dengan wanita lain.


Dan mungkin saja cintanya juga sudah terbagi.


"Ke mall saja Mas, aku mau beli baju kerja, sepatu sama tas." Jawabku seraya menuangkan makanan ke piring Mas Dirga.


Entah senyum palsu atau bukan, aku tidak peduli dengan hal itu.


...*****...


"Tumben kamu bisa belanja sebanyak ini Dek.?" Mas Dirga menatap heran saat aku mengambil banyak tas dan highils, karna ini pertama kalinya aku membeli barang dalam jumlah banyak dalam satu waktu. Biasanya aku hanya membeli paling banyak 2 tas dan 2 highils sekaligus. Tapi kali ini total ada 5 tas dan 4 pasang sepatu yang aku pilih.


"Tas dan sepatu yang lama udah mulai rusak Mas. Lagian sekarang aku ke kantor setiap hari, jadi harus gonta ganti tas dan sepatu." Mengukir senyum, aku tak mau membuat Mas Dirga curiga kalau sebenarnya aku sedang mencoba untuk menguras isi atmnya meski aku tau belanjaanku tidak akan sampai menghabiskan tabungannya. Tapi setidaknya aku juga kebagian uang tabungan Mas Dirga, sebelum nantinya tabungan itu di kuras habis untuk menyenangkan hati selingkuhannya.


"Mas keberatan kalau aku beli sebanyak ini.?" Tanyaku kemudian. Meski aku sudah tau jawabannya, tapi aku ingin memastikan saja. Siapa tau Mas Dirga sudah mulai perhitungan padaku.


"Nggak sama sekali. Kamu pikir selama ini Mas kerja buat siapa kalau bukan buat kamu." Jawabnya sembari terkekeh dan menarik gemas hidungku.

__ADS_1


"Cuma heran aja karna nggak biasanya kamu kaya gini." Tuturnya lembut.


Aku hanya merespon dengan senyum tipis, walaupun sebenarnya ingin berkata bullshit untuk menanggapi perkataan manis Mas Dirga.


Dia bilang uang hasil kerjanya untuk aku. Tapi dia menyembunyikan wanita lain di belakangku. Dan pergi dan jalan-jalan dengan wanita itu sudah pasti harus mengeluarkan uang.!


...*****...


Kami sampai di rumah pukul 2 siang. Mas Dirga langsung membawakan barang-barangku ke dalam rumah. Aku yang hendak menyusul ke dalam rumah, seketika menghentikan langkah saat melihat mobil Mas Agama memasuki halam rumahnya. Ada perasaan lega saat melihat Mas Agam yang akhirnya pulang ke rumah. Tapi disisi lain aku juga mencemaskan kondisinya.


"Dek,, belanjaannya Mas taruh di sofa ya. Mas mau ke kamar mandi dulu.!!" Aku terperanjat dan langsung menoleh ke dalam rumah saat mendengar teriakan Mas Dirga.


Melihat Mas Dirga yang bergegas ke dalam, membuatku berani untuk menghampiri Mas Agam.


Pria itu keluar dari mobilnya, bersamaan dengan aku yang berhenti di depannya.


"Mas Agam dari mana saja.?" Tanyaku yang tak bisa menyembunyikan kecemasanku.


Pria berbadan tegap dan tinggi itu tampak mengukir senyum tipis padaku.


"Dari rumah Papa."


"Kenapa kesini.?" Mas Agam bertanya seraya melirik ke arah pintu rumah ku yang terbuka. Aku tau apa yang ada dalam pikiran Mas Agam. Dia pasti tidak mau kalau sampai Mas Dirga tiba-tiba keluar dan memergoki kami sedang berdua.


"Kenapa chatku nggak di balas.?" Aku masih menatap cemas pada Mas Agam.


"Nggak sempat ngecek hp."


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja." Mas Agam mengusap lembut pipiku, membuat jantungku berdetak kencang dengan pipi yang mungkin bersemu merah.


"Sudah sana masuk, kita bisa bicara lagi nanti." Ucapnya dengan tatapan teduh.

__ADS_1


"Atau kamu ingin Dirga tau.? Aku nggak masalah, justru akan senang." Ledeknya dengan mengulum senyum.


Aku sedikit mencebik, lalu mengangguk dan menuruti perkataan Mas Agam dengan masuk ke dalam rumah. Meski sebenarnya ingin sekali mengobrol lebih lama, bahkan aku ingin menghambur ke pelukannya.


__ADS_2