
Agam POV
Hidung mancung, bulu mata yang lentik, bibir merah muda yang tipis, Bianca terlihat sangat sempurna dan cantik meski sedang terlelap.
Wanita berusia 28 tahun itu telah memenuhi pikiranku sejak beberapa hari dia menempati rumah sebelah.
Aku pikir awalnya hanya sebatas ketertarikan saja karna melihatnya sebagai sosok istri yang sempurna. Tapi semakin lama aku semakin menyadari bahwa ada perasaan berbeda untuknya.
Di saat sedang fokus mengagumi kecantikan Bianca, wanita itu mulai menggeliat. Bibirnya terlihat bergerak hingga membuatnya terlihat menggemaskan. Kini matanya perlahan terbuka dan mengerjap saat beradu pandang denganku.
Ekspresi wajah Bianca sangat lucu karna wanita itu tampak kebingungan. Padahal sudah beberapa kali dia melihat wajahku disaat bangun tidur, tapi masih saja bingung.
Tidak tahan melihat kegemasan Bianca, aku sontak mendaratkan kecupan singkat di bibirnya yang sedikit terbuka.
"Morning kiss Baby,," Ucapku saat melihat Bianca akan protes dengan mulut yang sudah terbuka dan mata membulat sempurna.
Tapi setelah itu pipinya tampan merona, dia mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Bia mau pulang dulu Mas,," Bianca tampak menghindar. Entah karna hal lain, atau mungkin dia sedang menahan malu di depanku dan memilih untuk beranjak.
"Siapa yang ngijinin kamu pulang hmm.?" Aku menahan tubuhnya yang hampir turun dari ranjang.
"Jangan pulang dulu, kita belum mandi bersama dan sarapan." Bisikku seraya memeluk tubuh Bianca yang sudah duduk di tepi ranjang.
Tubuhnya di balut selimut karna masih dalam keadaan polos.
"Tapi Mas, bagaimana kalau pagi ini Mas Dirga pulang.?" Aku mendadak melepaskan pelukanku karna Bianca menyebut nama Dirga. Aku tau kecemasan dan kekhawatiran Bianca, tapi jujur saja hal itu membuatku cemburu. Lucu memang, aku cemburu pada pria yang jelas-jelas masih menjadi suami Bianca.
"Pulanglah,,!" Acuhku seraya meraih celana pendekku di lantai dan memakainya.
Meski tidak rela Bianca pulang sekarang, tapi aku tidak punya hak memaksanya untuk tetap di sini.
Aku tau posisinya pasti sulit.
Aku memilih beranjak untuk pergi ke kamar mandi. Tapi baru beberapa langkah, Bianca memelukku dari belakang.
"Mas marah.?" Tanyanya cemas namun terdengar menggemaskan di telingaku. Sampai-sampai aku berfikir untuk menjahilinya.
__ADS_1
"Aku nggak mau nantinya Mas Agak ikut terseret dalam permasalahan rumah tangga ku. Itu sebabnya aku ingin kembali ke rumah sebelum Mas Dirga pulang." Bianca tampak berusaha keras untuk menjelaskannya padaku. Sebenarnya tanpa di jelaskan sekalipun, aku sudah paham akan hal itu.
"Aku tau Bia. Lagipula kamu harus menjaga perasaan dia kan." Aku berucap datar dan sengaja menyingkirkan kedua tangan Bianca yang melingkar di perutku.
"Sudah sana pulang,," Tanpa menengok kebelakang, aku kembali beranjak dari sana.
"Mas,, jangan marah,," Kali ini Bianca sedikit merengek. Dia bahkan membuntutiku, terdengar dari langkah kakinya di belakang.
"Aku nggak berhak marah Bia." Jawabku acuh. Aku bahkan pura-pura tidak peduli meski tau Bianca terus mengekori ku.
"Maaf Mas,,," Lirihnya dengan suara tercekat menahan tangis. Ah,, sial. Kalau sudah seperti itu, mana mungkin aku bisa lanjut menjahilinya.
Saat itu juga aku berbalik badan dan melihat wajah sendu Bianca dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hey,, kenapa sedih.?" Aku menangkup kedua pipinya.
"Aku nggak marah Bia," Niat hati ingin membuatnya tenang, wanita cantik itu malah meneteskan air matanya dan menghambur ke pelukanku. Tangisnya pecah, tubuhnya bergetar dalam dekapanku.
Aku terperangah dengan dada yang tiba-tiba sesak karna isak tangis Bianca terdengar memilukan. Wanita cantik itu seolah sedang meluapkan beban dan rasa sakit yang dia pendam selama ini.
Aku tau tangisan Bianca bukan sepenuhnya karna ulah jahilku. Dia pasti tidak menyangka dengan apa yang sudah terjadi pada rumah tangganya.
"Nggak akan, aku akan tetap bersamamu." Aku mengecup pucuk kepalanya dan semakin memeluknya erat. Ku biarkan Bianca menangis dalam dekapanku sampai dia merasa jauh lebih tenang.
...******...
Dirga POV
"Maaf Leo, Jesy, aku buru-buru."
"Nggak masalah kan kalau aku pulang duluan.? Lain kali saja aku ikut makan siang sama kalian." Aku beranjak dari kursi di ruang rapat di perusahaan pusat.
Kemarin kami belum bisa menyelesaikan masalah yang terjadi disini. Jadi di hari sabtu ini kami masih harus ke kantor untuk menyelesaikan semuanya. Untungnya siang ini semua permasalahan sudah bisa kami handle, jadi aku bisa kembali ke Bandung.
"Ini weekend Bro, kenapa buru-buru balik.?"
"Sayang sekali kalau nggak menikmati bonus makan siang dari Pak James." Tutur Leo. Aku tidak tergiur dengan bonus makan siang di salah satu restoran termahal, saat ini aku hanya ingin kembali ke Bandung dan bertemu Bianca untuk memohon padanya agar tidak mengajukan gugatan cerai padaku.
__ADS_1
"Istriku menunggu di rumah, kalian saja yang makan siang." Ujarku.
"Ya ampun,, Mas Dirga romantis sekali, lebih mementingkan waktu bersama istri." Jesy berucap memuji.
Aku hanya tersenyum kaku menanggapi ucapannya. Pujian itu justru membuatku ingat kesalahanku pada Bianca yang sering membohonginya demi menemui Rayyan.
Setelah pamit pada Leo dan Jesy, aku langsung meninggalkan kantor pusat untuk pulang ke Bandung.
Sejak kemarin pikiranku kacau lantaran Bianca tak mau mengangkat panggilan telfon ku dan tak membalas pesanku meski dia sudah membacanya. Bahkan ponselnya tidak bisa di hubungi lagi sampai detik ini.
Aku memarkirkan mobil di carport setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam.
Keluar dari mobil, aku bergegas masuk ke dalam rumah.
"Dek,, kamu dimana.?" Aku masuk ke dalam kamar kami dan tidak menemukan Bianca di sana.
Hampir semua ruangan di lantai satu sudah aku cek, kecuali di kamar tamu.
Aku lantas beranjak ke kamar tamu meski ragu Bianca ada di dalam.
Membuka pintu perlahan, aku sedikit terkejut melihat Bianca tengah tidur di sana. Yang membuatku lebih terkejut lagi, barang-barang pribadi Bianca juga ada di dalam kamar itu.
Apa maksudnya.? Tidak mungkin Bianca ingin pisah kamar dariku kan.?
Mendadak rasa sesak menyelimuti, nafasku tercekat.
3 tahun usia pernikahan kami tanpa pernah sekalipun kami bertengkar.
Dan 2 hari yang lalu menjadi pertengkaran pertama kami hingga Bianca memutuskan untuk tidur di kamar terpisah.
Semua ini membuatku semakin sadar betapa bodohnya aku telah menyakiti hati Bianca.
Duduk di sisi ranjang, aku diam membisu menatap lekat wajah Bianca yang tengah tertidur pulas.
Sungguh aku sangat menyesali perbuatanku yang tanpa sengaja sudah menghancurkan kebahagiaan kami.
Aku memberanikan diri mengusap pipi Bianca. Rasa rindu padanya begitu menggebu. Sudah hampir 1 minggu komunikasi kami sangat buruk karna baik aku atau Bianca jarang bertemu akibat di tugaskan ke Jakarta, dan sekarang rumah tangga ini berada di ambang kehancuran.
__ADS_1
"Mas nggak sanggup pisah dari kamu Dek." Lirih ku dengan suara tercekat menahan sesak di dada.