Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 66


__ADS_3

Agam POV


Selesai meeting, aku buru-buru pergi ke ruang kerjaku karna mendapat kabar dari Papa kalau Arumi datang ke kantor dan sudah 1 jam lalu menunggu di ruang kerjaku.


Seketika aku langsung mencemaskan Bianca, aku takut Arumi terlalu banyak bicara tentang perjodohan kami dan membuat Bianca terluka.


Perjodohan itu memang sulit untuk di batalkan selagi aku belum bisa mengenalkan Bianca pada kedua orang tuaku. Tapi aku akan berusaha untuk itu demi memperjuangkan Bianca di sisiku.


Tak peduli dengan pendapat keluarga ku ataupun keluarga Arumi, aku hanya ingin memperjuangkan orang yang aku cintai agar tetap bersamaku.


Membuka pintu dengan kasar, saat itu juga di tempat duduk yang berbeda tampak Bianca dan Arumi kompak menoleh ke arahku.


Aku tak peduli dengan Bocah ingusan itu, pandangan mataku fokus pada Bianca yang menatapku sendu. Dari tatapan matanya, aku sudah bisa menyimpulkan ada obrolan yang terjadi antara Bianca dan Arumi tentang perjodohan itu.


"Hai Om,,, dari tadi aku nungguin." Arumi beranjak dari duduknya, langkahnya begitu cepat saat menghampiriku dan kini sudah mendekap lenganku dengan erat.


"Kata Papa Airlangga, aku harus sering-sering datang ke kantor dan makan siang sama Om." Celotehnya yang membuat kedua mataku melotot sempurna. Aku berusaha menarik tanganku dari dekapan Arumi, tapi bocah menyebalkan itu semakin erat mendekap tanganku sampai lenganku bersentuhan dengan salah satu asetnya yang tak seberapa itu.


"Dasar bocah ingusan.! Lepas.!" Aku mendorong keningnya, membuat Arumi sedikit terdorong menjauh dan melepaskan tanganku.


"Percaya diri sekali kamu.! Memangnya siapa yang mau makan siang sama kamu.!" Ketusku dengan tatapan jengkel. Arumi bisa membuat suasana hati Bianca memburuk kalau masih tetap berada di ruangan ini.


"Sebaiknya kamu pulang.! Aku banyak pekerjaan dan nggak sempat makan siang.!" Meski sudah bicara ketus, bocah ingusan itu masih senyum-senyum tidak jelas.


"Maaf, permisi Pak,," Seseorang bicara setelah mengetuk pintu. Seorang OB berdiri di dekat pintu ruangan yang belum sempat aku tutup. Dia membawa paper bag yang tampak berisi makanan. Mungkin itu makan siang yang di pesan oleh Bianca.


"Ini makanan Pak,," Ucapnya seraya menyodorkan paper bag itu ke arahku. Tapi saat aku hendak mengambilnya, Arumi lebih dulu mengambil paper bag itu.


"Terimakasih Kak." Ucapnya setelah menerimanya.


"Ini pasti makan siang kita kan Om.? Jadi kita mau makan disini.?" Kini Arumi menatapku dengan mata berbinar. Aku langsung menoleh pada Bianca, wanita cantik itu tampak mengukir senyum tipis padaku dan beranjak dari meja kerjanya.

__ADS_1


Arumi langsung membawa paper bag itu ke arah sofa. Sementara aku masih berdiri mematung di tempat, menatap Bianca yang berjalan semakin dekat ke arahku. Dibalik senyum tipisnya yang manis, aku bisa melihat kesedihan di sana.


Sungguh aku tidak ingin melukai Bianca. Dia terlalu berharga untuk di sakiti.


"Sayang,, kita makan di luar saja ya." Lirihku setelah jarak kami sangat dekat. Aku sempat melirik Arumi, gadis itu sedang sibuk mengeluarkan makanan milikku dan Bianca yang dia kira makanan siangnya.


"Mas makan disini saja sama Arumi,," Jawabnya lembut.


"Bia bisa maka di kantin." Lagi-lagi Bianca tersenyum. Wanita itu lebih memilih menutupi lukanya di banding menunjukkannya padaku.


"Sayang, aku bisa jelaskan. Kamu jangan berfikir macam-macam, perjodohan itu bisa aku batalkan setelah kamu resmi berpisah dari Dirga." Aku meraih tangannya. Mengusap pelan sampai akhirnya Bianca menarik pelan tangannya.


"Ada Arumi, jangan sampai dia berfikir buruk tentangku." Ucapnya dengan ekspresi yang tampak cemas.


"It's oke Mas, kamu disini saja temani Arumi makan. Aku keluar dulu,," Bianca melangkah keluar, aku memilih mengejarnya dan tak memperdulikan Arumi yang sibuk dengan makanan itu.


"Baby pleaseee,,, ayo kembali ke ruangan, Arumi harus tau kalau aku hanya mencintai kamu." Aku menahan langkah Bianca dan menggenggam tangannya.


"Kamu tau sendiri bagaimana perasaanku, Bi. Aku cuma mau kamu,," Aku tidak bisa menahan diri sampai akhirnya memeluk erat Bianca. Tidak peduli sekalipun nanti ada orang yang Melihatnya.


Bianca memberontak, dia berusaha melepaskan diri dari dekapanku.


"Mas,, jangan seperti ini, bagaimana kalau ada yang lihat." Protesnya setelah berhasil melepaskan diri.


"Jadi kalian punya hubungan.?" Suara Arumi membuat aku dan Bianca menoleh. Bocah itu berdiri di ambang pintu dan memberikan tatapan sulit di artikan.


Duduk bertiga di ruanganku dangan pintu terkunci. Aku berhasil membujuk Bianca untuk masuk kembali meski dengan susah payah.


"Dengarkan aku baik-baik Arumi.! Aku dan Bianca sudah lama menjalin hubungan sebelum ada rencana perjodohan ini." Tegasku penuh penekanan. Aku harus berbohong agar Arumi berfikir ulang untuk menikah denganku.


"Mas,," Tegur Bianca seraya menyentuh tanganku. Aku memberikan isyarat dengan anggukan kecil, kalau semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku sangat mencintai Bianca, begitu juga sebaliknya. Kami berdua saling mencintai." Aku kembali berucap tegas dan menekankan setiap kata agar Arumi mencernanya baik-baik.


"Jadi aku mohon sama kamu, minta mereka untuk membatalkan perjodohan kita.!" Tegasku.


Bocah ingusan itu menatap tak percaya. Bibir mungilnya sedikit terbuka, tampak sekali dia terkejut mendengar pengakuanku tentang Bianca.


"Ma,,maaf Arumi, aku,,"


"Kenapa kamu harus minta maaf sayang.?" Potongku cepat. Melihat Bianca yang meminta maaf dengan raut wajah bersalah pada Arumi, tentu saja aku tidak akan tinggal diam. Ini bukan kesalahan Bianca.


"Tapi kedua orang tua kita sudah sepakat dengan perjodohan ini Om. Nggak peduli Om sudah punya kekasih atau belum, aku nggak akan batalin." Tegasnya tak mau kalah.


"Arumi.!" Sentakku yang di buat geram oleh ucapannya.


"Mas, jangan seperti ini." Bianca memohon dangan tatapan sendu.


"Kalau Om cinta sama Tante Bianca, berjuang saja sendiri. Jangan minta aku untuk membatalkan perjodohan kita."


"Om pikir cuma Om saja yang punya cinta.?! Aku juga cinta sama Om, dan nggak akan pernah lepasin Om untuk siapapun. Termasuk Tante Bianca, sekalipun dia sangat baik.!" Nada bicara Arumi meninggi. Dia menatapku tajam. Bocah ingusan itu benar-benar menguji kesabaranku. Terlebih setelah mengatakan hal yang menjengkelkan itu, Arumi dengan santainya menyantap makan siang milik Bianca.


"Dasar bocah sinting.!" Umpatku geram.


"Itu makanan milik Bianca, kenapa kamu makan.! " Aku menarik makanan itu dari hadapannya.


"Iiss,,!! Jangan ganggu orang lapar kalau Om nggak mau kena amukan.!" Arumi balik mengambil makanan dari tanganku.


"Sudah Mas, biarkan Arumi makan." Bianca mengalah. Wanita ini benar-benar semakin membuatku jatuh cinta. Bagaimana bisa aku melepaskannya.


"Kamu makan punyaku saja," Aku menyodorkan makanan milikku pada Bianca. Dia menolak dengan gelengan kepala.


"Mas saja yang makan, perutku sedikit mual." Bian menolak. Aku jadi merasa sangat bersalah padanya. Susana hatinya pasti sangat buruk saat ini dengan kedatangan Arumi.

__ADS_1


__ADS_2