
Bianca POV
"Kamu sudah yakin dengan keputusan itu.? Pikirkan baik-baik, aku nggak mau kamu menyesal nantinya." Tanya Mas Agam setelah aku menceritakan sudah membicarakan perceraian pada Mas Dirga. Aku merasa Mas Agam tak senang mendengar kabar yang seharusnya menjadi kabar baik untuk kami berdua. Mengingat hubungan kami yang sudah sangat intim.
"Apa Mas berharap Bia tetap sama Mas Dirga.?" Aku menatap intens dan sedikit menunjukkan kekesalan. Aku pikir Mas Agam akan mendukung penuh keputusanku karna beberapa waktu yang lalu dia memintaku untuk mengakhiri rasa sakit ku terhadap Mas Dirga.
"Bukan begitu Bia,," Mas Agam menarik tanganku. Dia merangkul pinggang ku, mengarahkan untuk berdiri dan pindah ke pangkuannya. Aku menurut, duduk di pangkuan Mas Agam dengan posisi miring. Kami berdua seakan lupa bahwa saat ini sedang berada di ruangan kerja, bahkan pintu tidak terkunci. Siapapun bisa saja masuk ke dalam ruangan ini, meski harus dengan ijin Mas Agam. Tapi jika seseorang yang datang adalah Pak Airlangga, maka tak perlu mendapatkan ijin dari Mas Agam untuk masuk ke ruangan kami.
Pandangan mata kami bertemu, aku menatap lekat wajah Mas Agam. Begitu juga dengan pria tampan yang memiliki sejuta pesona. Kami sama-sama hanyut dalam tatapan mata berkabut cinta yang menggebu.
Sejak awal aku tau perasaan ini salah, tapi aku tak bisa menepisnya. Apalagi saat teringat perbuatan Mas Dirga di belakangku, aku jadi berfikir untuk terus melanjutkan kekeliruan ini.
"Aku nggak mau kamu terpaksa lepas dari Dirga tapi sebenarnya masih punya perasaan padanya."
"Kamu pikir siapa yang akan terluka nantinya, hmm.?" Mas Agam mencubit gemas hidungku.
Aku langsung paham maksud Mas Agam. Dia pasti tidak ingin menjalani hubungan serius denganku jika sebagian hatiku masih terselip nama Mas Dirga.
Aku akui, saat ini memang masih ada sedikit rasa pada Mas Dirga. Bohong jika aku mengatakan tidak. 6 tahun bukan waktu yang singkat untuk mencintai Mas Dirga. Tidak mungkin aku menghapus perasaan yang telah terukir di hati selama 6 tahun ini, di hapus dengan waktu yang sangat singkat. Meski perbuatan Mas Dirga benar-benar melukai hatiku, bahkan menghancurkannya.
"Bia akui perasaan itu masih ada meski sedikit dan dibalut luka."
"Beri Bia waktu untuk menghapusnya," Aku menatap memohon, berharap Mas Agam mau mengerti kondisi ku saat ini.
"Jangan terlalu lama, aku nggak suka menunggu, Bia." Ujarnya. Tatapan Mas Agam semakin dalam, dan usapan tangan Mas Agam di punggungku makin terasa.
Detik berikutnya, kami sama-sama mendekatkan wajah. Sejurus kemudian bibir Mas Agam sudah menempel di bibirku. Ciuman yang awalnya hanya Hi Sa pan lembut, perlahan semakin menuntut dan dalam setelah aku membalasnya.
Aku mengalungkan tangan di leher Mas Agam agar pagutan bibir kami lebih leluasa. Sementara itu, tangan Mas Agam berada di tengkuk dan pinggangku dengan memberikan remasan kecil yang membuat pertukaran saliva menjadi semakin intim.
Perlahan tangan kanan Mas Agam berpindah ke depan. Dari balik kemejaku, tangannya mengusap perut dan merangkak ke atas.
Aku membulatkan mata, kaget dengan perbuatan Mas Agam yang kini sudah melepaskan satu kancing kemejaku. Aku buru-buru melepaskan pagutan bibir kami dan menahan tangan Mas Agam yang sudah tidak terkendali.
__ADS_1
"Mas,, kita di kantor." Tegur ku mengingatkan. Kalau saja ini bukan kantor, aku pasti tidak akan menghentikan kegiatan Mas Agam.
"Jadi kamu mau di rumah.? Kita bisa pulang sekarang." Mas Agam justru menggodaku dengan menaikan sebelah alisnya. Sontak aku memukul pelan dadanya.
"Jangan bercanda Mas, masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." Aku langsung turun dari pangkuan Mas Agam seraya memasang kembali kancing kemejaku yang sempat di buka olehnya.
"Pekerjaan yang satu ini juga harus di selesaikan Bia." Mas Agam menarik tanganku dan membuatku kembali duduk di pangkuannya.
Aku sempat berteriak karna kaget, tapi setelah itu Mas Agam langsung membungkam mulutku dengan ciuman lembut.
Suara ketukan pintu membuat pagutan bibir kami terlepas.
"Sh-iitt,," Umpat Mas Agam dengan raut wajah yang tidak bersahabat karna kesenangannya terpaksa harus berhenti.
Aku langsung turun dari pangkuannya dan buru-buru kembali ke meja kerja ku.
...*****...
Aku tidak bisa konsentrasi selama menyelesaikan pekerjaanku. Pikiranku terus tertuju pada Bianca dan nasib rumah tanggaku yang sedang berada di ujung tanduk.
Entah berapa kali aku merutuki kebodohanku selama beberapa bulan terakhir. Rasa iba pada Ziva dan Rayyan pada akhirnya menjerumuskan ku kedalam lubang kehancuran.
Apa yang aku perbuat di belakang Bianca, sepertinya tidak akan mudah di maafkan olehnya begitu saja.
Melihat kemarahan Bianca meledak-ledak, bahkan sampai mengabaikan ku tadi pagi, aku semakin yakin kalau Bianca mungkin tidak akan pernah memaafkan ku.
Selama 6 tahun lebih bersama Bianca, untuk pertama kalinya aku melihat amarah yang begitu besar dari sorot matanya.
Suara telfon yang berdering membuyarkan lamunan. Aku langsung mengangkat telfon di meja kerjaku.
"Dirga, cepat datang ke ruangan saya sekarang." Suara pimpinan perusahaan terdengar kalut. Sepertinya ada masalah besar yang terjadi.
"Baik Pak,," Memutuskan panggilan, aku langsung pergi ke ruangan pimpinan.
__ADS_1
Benar saja, begitu masuk ke ruangannya, pria paruh baya itu tampak gelisah.
"Ada apa Pak James.? Apa terjadi sesuatu.?" Aku berdiri di depan mejanya.
"Siang ini juga kamu harus pergi ke kantor pusat. Ada masalah besar di sana. Leo dan Jesy akan ikut denganmu untuk mengatasi masalah di sana."
Aku terpaku di tempat, pikiranku jadi semakin kalut setelah Pak James meminta ku untuk datang ke kantor pusat.
Menyelesaikan masalah di kantor pusat sudah pasti tak cukup hari ini saja.
Lalu bagaimana permasalahanku dengan Bianca yang bahkan belum bisa aku selesaikan.
Jika malam ini aku tidak pulang, Bianca pasti akan semakin membenciku.
Keluar dari ruangan Pak James dengan langkah gontai, aku tidak bisa menolak perintah dari pimpinan. Baru 6 bulan yang lalu aku di pindahkan di kantor cabang dan berikan jabatan sebagai manajer perusahaan, tidak mungkin menolak perintah pimpinan dengan alasan masalah pribadi.
Posisiku saat ini benar-benar sulit.
Aku merogoh ponsel di saku celana untuk menghubungi Bianca. Setidaknya aku harus memberitahu Bianca kalau hari ini aku tidak pulang karna di tugaskan ke kantor pusat.
Menghela nafas berat, untuk ke 4 kalinya Bianca menolak panggilan ku. Dan saat aku menelfon nya lagi, nomor Bianca tidak bisa di hubungi.
Semarah itu Bianca padaku. Aku memang bodoh karna telah melempar batu di air yang tenang.
"Maafkan Mas,, Dek." Aku hampir saja menangis, tapi tepukan Leo membuatku sadar kalau aku sedang berada di tempat umum. Dan tidak mungkin aku menangis disini.
"Ayo, kita harus ke Jakarta sekarang." Ucap Leo yang merupakan asisten pribadi Pak James.
"Nggak ada persiapan sama sekali, aku harus pulang buat ambil baju." Sahutku.
"Kalau begitu aku sama Jesy berangkat duluan, kita ketemu di kantor pusat." Leo kembali menepuk pundakku dan berlalu bersama Jesy yang baru keluar dari ruangannya.
Aku mengirimkan pesan lebih dulu pada Bianca sebelum meninggalkan kantor. Meski tidak yakin Bianca akan merespon pesan dariku, setidaknya aku sudah memberitahu dia kalau hari ini tidak pulang.
__ADS_1