Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 59


__ADS_3

Dirga POV


Duduk di depan meja makan dengan lesu. Aku hanya bisa menatap nanar pada makanan yang sejak pukul 6 pagi aku masak.


Makanan yang sengaja aku buat untuk Bianca, sedikitpun tidak di sentuh olehnya. Jangankan di sentuh, Bianca bahkan enggan melihatnya.


Dia lebih memilih untuk berangkat lebih awal dan mengabaikan ku seperti sebelumnya.


Kecewa karna di abaikan sudah pasti aku rasakan. Tapi tidak ada yang bisa aku perbuat selain menerimanya. Karna pada kenyataannya memang aku sendiri yang telah menyebabkan Bianca membenciku hingga mengabaikan semua perhatianku.


"Aku harap ada keajaiban untuk rumah tangga kita Dek,," Aku tersenyum getir meski dalam hati sangat berharap keajaiban itu datang untuk menyelamatkan keutuhan rumah tanggaku.


Tidak ada wanita lain yang aku cintai selain Bianca. Meski di pertemukan dengan Ziva dan beberapa bulan dekat dengannya, sedikitpun aku tidak pernah menaruh hati lagi padanya.


Kesalahan yang aku lakukan malam itu bukan terjadi karna aku mencintai Ziva, tapi karna situasi dan suasana yang sedang terjadi malam itu.


Seandainya bisa memutar waktu, aku tak akan melakukan hal bodoh itu.


Aku beranjak dari meja makan 10 menit setelah Bianca pergi. Tiba-tiba jadi tidak nafsu makan karna sikap Bianca yang masih ketus dan dingin padaku.


Makanan yang aku buat dengan susah payah itu hanya menjadi pajangan di meja makan tanpa ada yang menyentuhnya.


Memecah kepadatan kota Bandung di jam kerja, aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Tidak ada semangat untuk menjalani rutinitas hari ini. Aku hanya ingin memikirkan Bianca dan mencari cara bagaimana mendapatkan maaf serta kesempatan untuk memulai semuanya dari awal.


Saat sedang mengedarkan pandangan ke sisi jalan, tanpa sengaja aku melihat dua orang yang tiba-tiba menarik perhatianku.


Dari kejauhan mereka terlihat sangat dekat, menikmati sarapan di pelataran ruko.


Setelah yakin dengan apa yang aku lihat, aku memutuskan untuk menepikan mobil dan menghampiri mereka.


"Makan yang banyak Baby, kamu jadi kurus setelah sakit." Suara lembut dan penuh perhatian itu mampu membuat tubuhku mematung. Di tambah usapan pria itu di pucuk kepala Bianca.


Rasanya seperti ada ribuan duri yang menancap di hatiku.


Sejak kapan.? Sejak kapan kedekatan itu terjadi.?


Aku terlalu sibuk membantu orang lain sampai tidak tau apa yang di lakukan oleh Bianca selama ini di belakangku.

__ADS_1


Apa ini salah satu alasan Bianca yang bersikeras untuk mengakhiri pernikahan kami.?


"Kamu berlebihan Mas, berat badanku nggak turun sedikitpun." Bianca menjawab dengan suara lembut sedikit manja. Aku benar-benar cemburu mendengarnya. Harusnya hanya padaku Bianca bicara seperti.


"Benarkah.? Akan aku buktikan nanti di kantor."


"Mungkin dengan cara menggendong mu atau duduk di pangkuanku."


Seketika hatiku terasa terbakar mendengar ucapannya.


"Mas,! Jangan bicara sembarangan di tempat umum.!" Bianca mencubit pelan pinggang pria yang sangat aku kenal.


Rasanya tidak percaya Bianca sedekat itu dengan Agam.


"Permisi A, mau makan disini atau di bungkus.?"


Aku tersentak mendengar suara penjual makanan itu yang tiba-tiba menghampiri ku.


Tapi aku tidak menghiraukannya, fokus ku pada Bianca dan Agak yang saat ini sedang menoleh ke belakang dan menatapku.


Bianca tampak terkejut, tapi tidak dengan Agam yang terlihat biasa saja.


Pria itu, bisa-bisanya dia mendekati Bianca dan menjalani kedekatan seperti ini.


"Bianca sedang makan, biar aku yang akan menjelaskan padamu." Dengan tatapan sengit, Agam berdiri dari duduknya.


"Mas,," Cegah Bianca pada Agam sembari menggelengkan kepala.


"Biar Bia saja yang jelasin. Mas lanjutin makannya, Bia berangkat sama Mas Dirga." Lagi-lagi Bianca bicara sangat lembut pada Agam yang membuat hatiku semakin terbakar.


"No.! Biar aku saja, sekalian aku akan meminta kamu darinya."


Tanganku reflek mengepal kuat mendengar perkataan Agam.


"Bianca istriku. Bagaimana bisa kamu meminta istri orang lain." Geramku pelan, sebisa mungkin aku menahan amarah yang sudah berada di ubun-ubun. Aku tidak mau membuat keributan yang hanya akan mempermalukan kami bertiga.


"Ikut sama Mas, Dek. Mas butuh penjelasan,," Aku meraih tangan Bianca, dia tidak menepisnya.

__ADS_1


Justru Agam yang berniat menarik tangan Bianca dari genggamanku.


"Bia selesaikan dulu masalah ini. Jangan khawatir." Tuturnya pada Agam. Untuk kesekian kalinya ucapan Bianca membuat hatiku seolah di remas-remas.


Kami lalu meninggalkan Agam yang jelas sekali tidak terima melihat kami berdua pergi bersama.


Aku membukakan pintu mobil untuk Bianca, lalu ikut menyusulnya masuk.


"Apa Agam yang membuat kamu yakin untuk mengakhiri pernikahan kita.?" Tanyaku dengan suara yang nyaris tak terdengar. Rasa sakit ini membuatku kehilangan seluruh tenaga. Bahkan untuk sekedar bicara saja terasa sangat sulit.


"Jangan bawa-bawa Mas Agam dalam masalah kita." Sahut Bianca penuh penekanan. Jelas sekali Bianca mencoba untuk melindungi Agam agar tidak terseret dalam permasalahan kami.


"Kamu yang mulai Mas, jadi jangan menyalahkan orang lain."


"Kalau saja kamu nggak mengkhianati pernikahan kita, aku nggak akan memiliki hubungan dengan Mas Agam."


Aku tercengang. Meski dari kedekatan Bianca dan Agam sudah jelas menunjukkan jika mereka memiliki hubungan, tapi pengakuan Bianca tetap membuatku syok.


Aku membuang nafas sembari mengusap kasar wajahku.


"Sudah sejauh apa hubungan kalian.?" Aku menatap nanar dan frustasi. Sejujurnya tidak sanggup mendengar jawaban dari Bianca, tapi aku ingin tau seperti apa hubungan mereka.


"Sejauh hubungan kamu dan wanita itu Mas.!" Jawab Bianca tanpa ragu.


"Aku nggak perlu menjawab secara detail kan.? Mas pasti sudah tau maksudku."


"Dek,,," Suaraku tercekat. Sebuah fakta kembali membuat hatiku seolah dihujam benda tajam.


Rasanya tidak mungkin Bianca melakukan semua itu dengan pria lain. Aku tau betul seperti apa Bianca. Dia sangat menjaga kehormatannya. Bahkan aku baru bisa menyentuhnya lebih jauh setelah menikah.


"Kamu nggak melakukan perbuatan terlarang itu kan.?" Aku benar-benar tidak bisa mempercayai jawaban Bianca.


"1 minggu yang lalu, di hotel luxury Jakarta." Ucapnya tegas. Meski hanya menyebut waktu dan tempat tanpa memberikan keterangan, tapi aku paham dengan maksudnya.


Waktu dan tempat itu merupakan bukti jika Bianca dan Agam melakukan hubungan terlarang itu untuk pertama kalinya.


Aku tak bisa berkata apapun, pikiranku benar-benar kacau.

__ADS_1


Ada perasaan marah yang tak bisa aku luapkan karna sadar bahwa aku lebih dulu melakukan kesalahan itu, jauh sebelum Bianca melakukannya dengan Agam.


__ADS_2