
Agam Pov
"Aku sedang mengandung anak Mas Dirga." Bianca berucap lirih. Kepalanya tertunduk tak berani menatapku.
"Jangan mencari alasan untuk mengakhiri hubungan kita Bi,," Aku tersenyum kecut, tak percaya dengan pengakuan Bianca. Itu pasti hanya akal-akalan Bianca saja agar bisa mengakhiri hubungan kami.
Aku tau sudah lebih dari 3 tahun Bianca belum diberi kesempatan untuk hamil, rasanya sangat aneh kalau tiba-tiba Bianca mengatakan hamil dalam keadaan seperti ini.
"Mas,, Bia serius." Nada bicara Bianca berubah tegas. Dia mengangkat wajah, menatap dengan sorot mata dalam tanpa ada kebohongan sedikitpun.
Aku masih diam, memperhatikan gerakan tangan Bianca yang mengotak atik ponsel di tangannya.
"Usia kandunganku sudah 5 minggu,," Suara Bianca bergetar, dia menyodorkan ponselnya padaku.
Sedikit ragu, aku menerima ponsel milik Bianca dan melihat foto di layar ponsel tersebut. Pikiranku semakin kalut begitu melihat foto hasil USG di ponsel Bianca.
Tidak.! Bianca pasti mengambil foto ini dari internet, bukan miliknya sendiri.
"Nggak mungkin sayang, kamu pasti bohong." Aku tersenyum kaku, berusaha menyangkal pengakuan Bianca meski Bianca tidak terlihat sedang berbohong.
"Untuk apa Bia bohong Mas.?"
"Aku bahkan sedang mengandung anak kembar," Serunya.
"Kalau memang benar kamu hamil, kenapa kamu begitu yakin itu anak Dirga.?"
"Bagaimana kalau itu anakku.?" Desak ku yang masih berharap ada cara untuk tetap mempertahankan hubungan kami.
"Nggak mungkin," Bia menjawab cepat seraya menggeleng. Dia begitu yakin kalau anak itu bukan milikku.
"Kita belum lama melakukannya, bahkan Mas memakai pengaman. Mana mungkin mereka anak kamu, Mas.?" Elaknya.
"Nggak ada yang nggak mungkin Bi, itu bisa saja terjadi. Kita nggak tau seandainya pengaman itu bocor,," Aku masih bersikeras menganggap Bianca mengandung anakku.
__ADS_1
Bagaimana pun aku sangat mencintai Bianca, aku tidak rela jika harus kehilangan Bianca.
Jika anak itu anakku, maka akan lebih bagus karna ada alasan kuat untuk tetap bersama.
"Aku nggak yakin ini anak kamu, Mas." Jawabnya yang membuat dadaku terasa nyeri.
"Hatiku mengatakan jika mereka anak Mas Dirga. Bahkan tiba-tiba saja aku ingin selalu berada di dekat Mas Dirga."
"Lalu bagaimana mana mungkin aku harus mengakui kalau mereka anak kita.? Disaat perasaanku yang tiba-tiba kembali condong pada Mas Dirga." Bianca menatap sendu, matanya mulai berkaca-kaca.
Aku hanya bisa mengusap kasar wajahku. Kenyataan ini membuatku sangat frustasi.
Tidak mungkin aku akan diam saja dan melepaskan Bianca kembali pada Dirga.
"Aku nggak peduli mereka anakku atau anak Dirga.! Aku mau kita tetap bersama Bi.!"
"Jangan coba-coba kembali pada Dirga, aku nggak akan membiarkan itu terjadi.!" Tegasku yang mulai sulit untuk mengontrol emosi.
"Mas,, jangan egois.!" Seru Bianca dengan air mata yang sudah menetes.
"Aku akan merasa bersalah karna memutuskan hubungan seorang anak dan ayah. Dan hinaan akan semakin banyak di tuduhkan padaku." Tangis Bianca semakin pecah. Aku tau kekhawatiran Bianca, tapi aku juga tidak mau kehilangan dia.
"Kamu juga egois.! Kamu tau sendiri aku sangat mencintai kamu, Bi.!"
"Setelah aku memberikan semua hatiku, lalu kamu dengan mudahnya ingin mengakhiri hubungan kita.?!" Aku tersenyum kecut.
Bianca adalah satu-satunya wanita yang membuatku benar-benar merasa jatuh cinta. Tapi kini dia berusaha untuk mematahkan hatiku.
"Mas, ini juga nggak mudah buat aku."
"Semua ini di luar kuasaku."
"Mungkin memang kita bukan di takdir untuk bersama. Aku nggak pantas untuk mendampingi kamu yang terlalu sempurna." Ucapan Bianca semakin membuatku tersenyum kecut.
__ADS_1
"Omong kosong macam apa itu.!!" Sinisku geram.
"Mas,, Arumi jauh lebih baik dariku, dia juga berasal dari keluarga yang sebanding dengan kamu. Kamu lebih pantas bersama Arumi. Pak Airlangga juga akan tetap menganggap kamu sebagai anaknya jika menikah dengan Arumi."
"Stop Bia.!! Aku nggak peduli tentang Arumi atau siapapun.! Aku cuma mau kamu.!!" Bentak ku yang semakin di buat geram oleh Bianca karna membahas tentang Arumi.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang.!" Aku memegang pergelangan tangan Bia dan menariknya beranjak dari sofa.
"Mas, untuk apa ke rumah sakit.?" Bianca enggan beranjak, aku kembali menariknya hingga dia sedikit terhuyung dan akhirnya mengikuti langkahku.
"Aku harus memastikan mereka anak siapa. Akan lebih baik kalau mereka anakku.!" Tegas ku. Saat itu juga Bianca langsung menghentikan langkahnya dan menarik kasar tangannya dari genggamanku.
"Maksud kamu apa Mas.? Kamu mau melakukan tes DNA.?" Suara Bianca bergetar.
"Apa kamu tau dampak buruk yang akan terjadi pada kandunganku jika melakukan tes DNA pada mereka.!!"
"Aku nggak mau Mas." Bianca berlalu menuju meja kerjanya, aku tak membiarkan Bianca pergi begitu saja.
"Nggak ada cara lain Bia.! Bukankah kita bisa bersama kalau mereka anak-anakku.?" Aku kembali menggandeng tangan Bianca dan mengajaknya keluar dari tuangan. Melakukan tes DNA pada kandungan Bianca adalah salah satu suara agar aku memiliki alasan untuk tetap bersamanya, jika memang hasilnya mereka adalah anakku.
"Lepas Mas. Kamu menyakitiku." Suara Bianca bergetar, aku bergegas melepaskan tangannya. Bianca langsung mengusap pergelangan tangannya yang tampak memerah. Ternyata aku terlalu kuat mencengkram tangannya.
"Ma,,maaf Bi, aku nggak sengaja,," Aku berusaha untuk meraih tangannya, tapi Bianca menepis dan bergerak mundur.
"Sebaiknya kita bicara lagi nanti, aku takut kamu semakin lepas kendali dan menyakiti kami." Bianca bicara dengan air mata yang menetes. Dia buru-buru pergi dari hadapanku dan masuk ke ruangannya.
Aku juga memilih beranjak ke meja kerjaku karna takut kembali menyakiti Bianca tanpa sadar.
...*****...
Bianca PoV
Aku tidak menyangka Mas Agam akan semarah itu sampai lepas kendali. Beberapa kali dia mencengkram pergelangan tanganku dan menariknya. Tangan kecilku ini sudah pasti tidak sebanding dengan tangan Mas Agam yang besar. tanganku sampai memerah karna terakhir kali di cengkraman kuat olehnya.
__ADS_1
Aku tau keputusan ini berat untuk Mas Agam, tapi aku bisa apa kalau memang takdir membawaku kembali pada Mas Dirga.