
Mobil Mas Dirga kian menjauh dari pandangan mata. Aku masih berdiri di depan rumah sampai mobil itu menghilang dari pandangan.
Hari ini Mas Dirga pamit padaku untuk bertemu dengan Rehan di salah satu kafe. Di hari minggu seperti ini, Mas Dirga masih saja disibukkan dengan pekerjaan.
Kali ini aku percaya jika kepergiannya memang untuk bertemu dengan Rehan, karna pria itu sempat menelfon ke ponsel Mas Dirga dan aku yang mengangkatnya.
Tapi aku tidak tau apa yang akan di lakukan oleh Mas Dirga di luar sana setelah menyelesaikan pekerjaannya bersama Rehan. Mungkin saja setelah itu Mas Dirga datang ke rumah selingkuhannya.
"Bia,,," Suara lembut itu begitu menenangkan sekaligus mendebarkan hati. Aku menoleh, menatap pria berperawakan gagah yang baru saja memanggilku.
Duduk bersebelahan di depan meja makan, aku menemani Mas Agam yang sedang menikmati makanan buatanku.
"Enak nggak Mas.?" Tanyaku dengan antusias. Aku menatap Mas Agam, tak sabar mendengarkan komentarnya tentang makanan buatanku.
Mas Agam mengangguk tanpa ragu.
"Semua makanan yang kamu buat sudah pasti enak." Ucapnya. Hanya dengan penyampaiannya yang datar, kalimat pujian yang keluar dari bibir Mas Agam mampu membuat hati bertabur bunga.
"Enak karna tinggal makan ya Mas.?" Ledekku yang kemudian menyengir kuda.
"Itu kamu tau." Balasnya dan kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut.
"Iiihh,,, kok gitu sih.?" Sedikit protes, aku sampai mencebikkan bibir.
"Terus aku harus gimana Bia.? Kamu duluan yang bilang seperti itu." Mas Agam menjawab datar.
"Iya juga sih,," Aku kembali menyengir kuda.
Mas Agam lantas mengacak gemas pucuk kepalaku.
"Besok kita ke kantor cabang di Jakarta. Kamu sudah bilang sama Dirga.?" Tanyanya.
Tangan yang tadi digunakan untuk mengusap pucuk kepalaku, kini beralih menggenggam tanganku.
Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala karna sibuk merasakan debaran akibat genggaman tangan Mas Agam.
__ADS_1
Mas Dirga sebenarnya keberatan saat aku bilang akan pergi ke Jakarta karna urusan pekerjaan. Dia sampai bertanya dengan detail siapa saja yang pergi ke Jakarta. Dengan usaha yang tidak mudah, akhirnya Mas Dirga mau mengerti.
Lagipula kepergianku ke Jakarta memang untuk urusan pekerjaan, bukan untuk bersenang-senang seperti yang Mas Dirga lakukan dengan wanita dan anak laki-laki itu.
...*****...
"Hati-hati ya Dek, kabari Mas kalau sudah sampai. Nanti Mas telfon kamu,," Mas Dirga mengecup singkat bibirku dan menarik ku dalam dekapan. Dia mengantarku sampai di depan lobby kantor.
Karna aku harus meeting dulu sebelum berangkat ke Jakarta.
"Iya Mas." Aku melepaskan pelukannya dan bergegas pamit masuk ke dalam kantor.
Langkahku berhenti tepat di depan resepsionis saat berpapasan dengan Mas Agam.
"Pagi Pak,," Sapaku seraya membungkukan badan.
Beberapa karyawan dan resepsionis di sana juga ikut menyapa Mas Agam.
"Hmmm,," Hanya deheman tegas yang keluar dari mulut Mas Agam. Pria dengan setelan jas itu kemudian melirikku.
"Langsung ke ruang meeting saja Bianca." Ucapnya yang kemudian berlalu tanpa tanpa menungguku menjawab perintahnya.
"Baik Bu,,,"
"Terimakasih banyak. Saya ke atas dulu." Aku kemudian berjalan cepat menyusul Mas Agam. Pria itu sudah masuk ke dalam lift dengan pintu yang hampir tertutup.
Aku rasa Mas Agam seperti sengaja meninggalkanku. Berlari cepat, aku langsung masuk ke dalam lift yang hanya ada kami berdua.
"Berkasnya sudah kamu siapkan.?" Suara datar Mas Agam memecah keheningan di dalam lift.
"Sudah Pak,," Aku menjawab tanpa berani menatap mata Mas Agam. Entah kenapa aku merasa sikap Mas Agam tidak seperti biasanya. Karna sorot matanya jelas berbeda saat menatapku.
"Jam 9 kita berangkat. Meeting di Jakarta setelah makan siang." Mas Agam bicara dengan ekspresi wajah datar. Aku mengiyakan dan mengangguk paham, setelah itu tidak ada obrolan lagi sampai pintu lift terbuka dan kami keluar dari sana.
Aku mengekori Mas Agam yang berjalan ke ruang meeting.
__ADS_1
...*****...
Menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, aku dan Mas Agam sampai di Jakarta pukul 11 lewat 20 menit. Mobil yang di kemudikan oleh Mas Agam berhenti di salah satu hotel yang jaraknya dekat dengan kantor pusat.
Memasuki hotel, Mas Agam langsung meminta kunci pada resepsionis. Katanya dia sudah memesan hotel sejak 2 hari yang lalu.
Pelayan hotel membantu membawakan koper milik kami ke lantai 20.
"Kunci kamar Bia mana Mas.?" Tanyaku. Sejak tadi aku ingin menanyakan hal ini karna Mas Agam sama sekali tidak memberikan kunci padaku setelah dia mendapatkannya dari resepsionis.
"Aku cuma pesan satu kamar. Kamu nggak keberatan kan kita satu kamar.?" Pertanyaan yang keluar dari mulu Mas Agam benar-benar membuatku syok. Meski sadar kalau hubunganku dan Mas Agam bukan sekedar atasan dan bawahan, serta bukan hanya sebatas tetangga saja, tapi rasanya tetap salah kalau kami menginap di kamar hotel yang sama.
"Kalau gitu biar Bia pesan kamar sendiri aja Mas." Aku menolak halus untuk tidak tidur satu kamar dengan Mas Agam. Walaupun kami sudah pernah tidur satu kamar dan tidak melakukan hal yang lebih fatal, tapi kali ini aku takut untuk tinggal satu kamar dengan Mas Agam. Takut kami berdua tak mampu menahan diri dari gejolak yang sedang menggebu di hati masing-masing.
"Aku janji nggak akan macam-macam Bia, kecuali kalau kamu yang minta. Aku sudah pernah bilang hal ini bukan.?" Ujarnya yang tampak sedang meyakinkanku.
Memang selama ini Mas Agam tidak pernah bertindak lebih. Pria itu hanya berani mencium dan memelukku tanpa berani melakukan hal lain padaku.
Pada akhirnya aku tetap satu kamar dengan Mas Agam.
Suasana di dalam kamar cukup canggung setelah Mas Agam mengunci pintunya.
Ini benar-benar salah, tidak sepantasnya aku menginap di hotel dalam satu kamar dengan Mas Agam.
"Kenapa.?" Mas Agam mengagetkanku karna tiba-tiba memelukku dari belakang.
Detak jantung seketika bergemuruh, ada gelayar aneh dan rasa takut yang menjadi satu.
"Apa hal semacam ini sudah bisa di sebut perselingkuhan.?" Tanyaku ragu.
"Kamu bukan remaja yang baru mengenal percintaan Bia, rasanya aku nggak perlu menjelaskan padamu." Mas Agam meletakkan dagunya di pundakku. Pelukan di perutku semakin erat.
"Mau makan siang disini atau di bawah.?" Tawarnya.
"Tapi sepertinya lebih baik makan disini saja. 1 Jam lagi kita harus pergi ke kantor cabang." Mas Agam menjawab pertanyaannya sendiri seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Kalau gitu kenapa tadi nawarin,," Ujarku sembari melepaskan pelukan Mas Agam.
Pria itu hanya mengulum senyum. Senyum yang selalu menawan dan mempesona di mataku.