
Sampainya di kantor, semua karyawan yang berpapasan dengan kami, menyapa Mas Agam dan menanyakan kondisinya.
Tapi pria itu lebih banyak menjawab dengan anggukan ketimbang bersuara. Terkesan dingin dan sombong. Tapi senyum manisnya yang menawan seolah mampu menghilang image dingin dan sombongnya. Jadi mereka tak keberatan saat sapaan ramahnya hanya di jawab dengan anggukan saja.
"Kamu sudah mengundur jadwal rapat dan pertemuan dengan klien kan.?" Tanyanya saat kami sedang menunggu lift terbuka.
"Sudah Pak, tapi saya belum sempat menghubungi tamu yang akan datang siang nanti." Jawabku yang sebisa mungkin profesional saat berada di luar ruangan. Karna tak mungkin aku berbicara santai dengan Mas Agam di depan karyawannya.
"Nggak masalah, biar aku yang membatalkan janjinya nanti." Mas Agam menjawab dengan gaya bicaranya yang tenang.
Aku mengangguk paham. Kami kemudian masuk kedalam lift dengan beberapa karyawan yang juga akan bekerja di lantai atas.
"Mari Pak Agam, Bu Bia,," 3 orang karyawan itu menyapa kami sebelum keluar dari lift dan meninggalkan kami berdua di dalam, karna aku dan Mas Agam akan ke lantai 6.
Aku membalas sapaan mereka dengan ramah, sedangkan Mas Agam hanya mengangguk kecil dengan ekspresi dinginnya yang aku perhatian selalu di tunjukkan di depan semua karyawannya.
Aku yakin mereka tidak tau kalau di balik sikap dingin Mas Agam, dia adalah laki-laki yang pandai membuat hati dan pikiran seseorang jadi tidak karuan.
"Bia,," Mas Agam tiba-tiba meraih tanganku, saat itu juga tubuh ini terasa membeku. Apalagi tatapan dingin Mas Agam begitu menusuk.
"Jangan begini Pak, kita di tempat umum." Aku menarik tangan dari genggaman Mas Agam.
"Kamu lupa kemarin aku bilang apa.?" Ujarnya menegur.
"Jangan panggil Pak kalau kita sedang berdua.!" Mas Agam berucap tegas.
Kemarin Mas Agam memang memperingatkan aku untuk tidak bersikap formal jika sedang berdua, meskipun masih dalam area kantor.
"Iya Mas,," Aku langsung menuruti perkataannya, enggan membuat Mas Agam kembali menegurku.
"Aku lebih suka kamu memanggilku seperti itu." Ucapnya dengan senyum tipis yang menawan. Sebuah usapan dia berikan pada pucuk kepalaku. Aku sudah seperti anak gadisnya saja karna diperlakukan lembut seperti ini. Apa lagi dengan tinggi Mas Agam di atas 180 cm, membuatku benar-benar mungil di sampingnya meski tinggi ku 165 cm.
...*****...
2 jam lebih kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku fokus di meja kerjaku, begitu juga dengan Mas Agam. Aku bahkan tidak sempat untuk membuang pandangan karna pekerjaanku terlalu banyak.
__ADS_1
Selain itu, aku juga harus mempelajari lebih jauh tentang perusahaan ini agar ke depan kinerjaku semakin baik.
Ponsel di atas meja bergetar, sebuah chat masuk di ponselku. Aku lantas bergegas mengambilnya. Rupanya Mas Agam mengirimkan chat padaku.
Sontak aku menoleh ke arahnya sebelum membuka chat itu. Tapi pria gagah yang sedang duduk di meja kerjanya itu tak mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.
"Tolong buatkan aku teh hangat."
Seketika aku beranjak dari kursi setelah membaca pesan itu. Merapikan berkas dan menyimpan data di laptop lebih dulu sebelum keluar dari ruangan yang di pisahkan dengan dingin serta pintu kaca.
"Sebentar Mas, Bia bikin dulu tehnya." Pamit ku saat melewati meja Mas Agam. Mas Agam melirik sekilas dan menjawab dengan anggukan.
Aku rasa dia sedang tidak baik-baik saja. Wajahnya terlihat pucat, beda sekali dengan 2 jam yang lalu saat kami baru masuk ke ruangan.
Buku-buku ke pantry dan membuat secangkir teh dan kopi untukku, aku kembali masuk ke ruangan dan mengantarkan teh itu ke meja Mas Agam.
Pria itu langsung mengambil dan meneguk teh di tangannya.
"Mas Agam sakit.? Kenapa wajahnya pucat,," Aku belum beranjak dari hadapan Mas Agam. Ku amati dan menatap lekat wajahnya yang terlihat semakin pucat saat di lihat dari dekat.
"Nggak papa Bi, hanya pusing sedikit." Mas Agam menjawab lirih. setelah meletakkan cangkir, dia memijat pelan pelipisnya.
"Aku baik-baik saja Bia, nggak usah khawatir." Meski Mas Agam mengatakan baik-baik saja, tapi entah kenapa aku merasa cemas melihat kondisinya. Bahkan aku memberanikan diri mendekat dan reflek menyentuh kening Mas Agam untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Ya ampun, badannya panas banget Mas. Sebentar, Bia mau minta obat penurun panas dulu." Aku setengah berlari keluar dari ruangan, meski sempat mendengar Mas Agam melarang ku, tapi aku tak memperdulikannya.
Mana mungkin aku membiarkan Mas Agam setelah mengetahui suhu tubuhnya sangat tinggi.
"Minum dulu obatnya, pakai air putih saja minumnya." Aku menyodorkan obat penurun panas yang sudah ku buka. Dan memegang air mineral.
"Makasih Bi,," Mas Agam tempak lesu dan menyenderkan kepalanya pada senderan kursi dengan memejamkan mata.
"Apa sebaiknya Mas pulang saja.? Sepertinya Mas butuh istirahat." Aku berinisiatif berdiri di belakang kursi Mas Agam dan mulai memijat kepalanya.
"Aku nggak butuh istirahat Bia, tapi butuh istri." Aku reflek mengetuk kening Mas Agam. Bisa-bisanya masih bicara nyeleneh dalam keadaan sedang lemas seperti ini. Tubuh gagahnya bahkan tampak tak berdaya.
__ADS_1
"Aku lagi bicara serius Mas, kenapa malah bercanda." Protes ku dengan bibir mencebik.
"Aku juga serius." Sahutnya datar.
"Pijatan kamu enak banget. Agak keras lagi di bagian pelipis, rasanya pusing sekali." Pintanya tanpa membuka mata sedikitpun.
"Sepertinya aku punya 2 profesi. Sekretaris sekaligus tukang pijat." Ujarku untuk mencairkan suasana. Karna jujur sana, pujian Mas Agam membuat jantungku berdetak kencang.
"Lebih bagus lagi kalau pijat plus plus." Sahut Mas Agam dengan santai tanpa berfikir kalau ucapannya berhasil membuatku membayangkan hal aneh-aneh.
"Mas Agam kalau lagi sakit ngomongnya makin ngelantur.!" Cibirku.
Mas Agam tampak terkekeh kecil.
"Kita pulang lebih awal saja, kepalaku makin pusing." Ucapnya setelah beberapa saat kami terdiam dan Mas Agam menikmati pijatan di kepalanya.
"Kok kita sih.? Mas Agam saja yang pulang, kan bisa minta di antar sama supir kantor."
"Bia nggak mau pulang seenaknya, harus tetap ikutin jam pulang kantor." Aku menolak untuk pulang lebih awal. Sudan cukup di hari pertama kerja aku pulang lebih awal karna Mas Agam di larikan ke rumah sakit.
"Ya sudah, aku tungguin kamu sampe pulang." Mas Agam memegang tanganku dan menyingkirkan dari kepalanya.
Tanganku semakin di tarik, membuat aku bergeser ke sampingnya.
"Mas,, jangan begini." Aku berusaha menarik tangan dari genggamannya, tapi Mas Dirga semakin erat menggenggam dan menarik tanganku lagi dengan satu tangannya menarik pinggangku.
Rasa benar-benar kaget sampai kedua mataku membulat sempurna karna saat ini aku sudah duduk di pangkuan Mas Agam.
"Mas Agam.! Jangan kelewatan.!" Aku mencoba turun dari pangkuannya.
"Lebih kelewatan mana dari ciuman kemarin.?" Pertanyaan Mas Agam membuatku bungkam.
"Kamu nggak nolak waktu itu, Bia."
"Jujur saja, kamu juga menginginkan kedekatan seperti ini bukan.?" Mas Agam menatap dalam. Dia mendekap ku, meletakkan kepalanya di pundakku.
__ADS_1
"Biarkan aku memelukku seperti ini, aku jadi merasa lebih baik."
Hening, aku sibuk bergulat dengan pikiran dan hatiku. Ada perasaan takut dan bersalah pada Mas Dirga, tapi aku juga merasa nyaman dalam dekapan Mas Agam.