Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 69


__ADS_3

Karna terlalu antusias dan ingin memastikan lebih lanjut, aku dan Mas Dirga langsung pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, entah sudah berapa kali Mas Dirga mengusap perutku. Tak jarang dia menautkan jemari kami dan melirik ku dengan sorot mata berbinar.


Aku sempat bertanya pada Mas Dirga, apa dia percaya bahwa anak ini adalah darah dagingnya. Dan Mas Dirga langsung menjawab yakin.


Mungkin karna sebelumnya aku bilang padanya baru 9 hari yang lalu melakukan hubungan terlarang dengan Mas Agam, dan tentu saja dengan memakai pengaman.


Sampainya di rumah sakit, Mas Dirga membantuku turun dari mobil. Dia bahkan sampai meminta tolong pada satpam untuk mengambilkan kursi roda.


"Mas, aku masih bisa jalan." Aku menolak untuk duduk di kursi roda. Kondisi baik-baik saja dan aku tidak perlu memakai kursi roda untuk pergi ke ruang pemeriksaan.


"Untuk sementara Dek, nanti kita tanya dokter baiknya bagaimana."


"Mas nggak mau kamu dan anak kita kenapa-napa." Ucapnya lembut. Dia memintaku untuk duduk di kursi roda yang baru saja di ambilkan oleh satpam.


Rasanya sangat berlebihan, tapi aku menuruti perintah Mas Dirga.


3 tahun menunggu, tentu saja Mas Dirga akan menjaga anak ini dengan sangat baik. Begitu juga denganku.


"Kamu mau minum atau makan sesuatu Dek.?" Tawar Mas Dirga penuh perhatian, tatapan matanya selalu teduh dengan binar bahagia.


Saat ini kami sedang berada di ruang tunggu untuk menunggu giliran di panggil ke ruang pemeriksaan. Mas Dirga terus menggenggam tanganku sejak duduk di sampingku.


"Aku nggak pengen apa-apa Mas." Jawabku yang memang tidak menginginkan apapun. Aku hanya ingin buru-buru di panggil untuk giliran masuk ke ruang pemeriksaan karna sudah tidak sabar ingin melihat calon anakku melalui USG.


"Mas,," Aku membalas genggaman tangan Mas Dirga setelah namaku di panggil. Melihat kegugupan ku, Mas Dirga memberikan usapan lembut di punggung seraya tersenyum teduh.


"Nggak usah gugup Dek, Mas disini." Katanya yang kemudian berdiri dan mendorong kursi roda ku untuk masuk ke ruang pemeriksaan di antar oleh suster.


"Selamat sore Dok," Sama Mas Dirga ramah. Sedangkan aku hanya tersenyum tipis karna sangat gugup.


"Selamat sore Pak, Bu. Kehamilan pertama ya.?" Tebak Dokter laki-laki yang berusia paruh baya itu.

__ADS_1


"Iya Dok, kehamilan pertama setelah 3 tahun lebih." Mas Dirga menjawab antusias. Aku mendongak untuk menatap Mas Dirga yang kini berdiri di samping kursi rodaku. Bibirnya terus mengukir senyum lebar.


"Wah,, pasti sangat mengharukan."


"Mari naik ranjang, kita langsung USG saja ya Bu." Ucapnya yang kini menatapku. Aku mengangguk cepat.


"Sus, tolong bantu naik ke ranjang." Titahnya kemudian.


"Baik Dok." Suster itu kini mendekat ke arahku.


"Mari Bu, pelan-pelan saja." Ujarnya sembari memegangi tanganku untuk membatu berdiri.


"Maaf Bu, di buka dulu ya bajunya." Katanya setelah aku berbaring di ranjang. Dia sudah menutupi tubuh bagian bawah ku dengan selimut, lalu menaikan dress yang aku pakai hingga memperlihatkan perutku yang masih datar.


Mas Dirga berdiri di samping ranjang, tepat di sisi kepalaku dengan tangan yang mengusap lembut pucuk kepalaku. Perlahan rada gugup itu mulai memudar karna Mas Dirga selalu ada di sampingku dan memberikan usapan-usapan yang mampu membuatku tenang.


Suster mengoleskan gel di atas perutku. Ini bukan pertama kalinya aku akan di USG. Dulu aku sering melakukannya saat sedang melakukan progam hamil. Tapi kali ini rasanya berbeda. Jantungku semakin berdetak cepat.


Aku dan Mas Dirga langsung fokus menatap layar monitor di depan ranjang. Mas Dirga mulai menggenggam tanganku saat layar monitor itu menunjukkan kantung rahimku.


"Wah,, selamat Pak, Bu. Setelah 3 tahun menunggu, langsung di beri 2 baby sekaligus." Ucapan Dokter itu membuat mulukku menganga dengan mata membulat sempurna, rasanya seperti mimpi yang paling indah selama hidupku.


"A,,aapa Dok.? Babynya ada 2.? Jadi kembar Dok.?" Tanya Mas Dirga dengan suara terbata.


Aku justru tidak bisa berkata-kata, rasanya masih belum percaya dengan anugrah terindah yang hadir di dalam rahimku.


Di saat aku tidak lagi memperdulikan soal kehamilan, bahkan di saat aku sudah mendaftarkan gugatan cerai, Tuhan menganugerahkan 2 malaikat kecil di dalam rahimku.


"Iya Pak, kembar. Usia kandungan sudah 5 minggu,," Terangnya.


Aku masih belum bisa berkata apapun, hanya air mata kebahagiaan yang terus menetes tanpa henti. Mas Dirga juga sempat menangis, tapi kemudian dia menghapuskan air matanya dan bersikap lebih tenang untuk menanyakan banyak hal pada Dokter tentang kondisi ku dan bayi yang ada di dalam kandunganku.

__ADS_1


"Istri saya bekerja Dok, apa nggak akan mempengaruhi kehamilannya.?" Tanya Mas Dirga. Dia terlihat khawatir.


"Kondisi Ibu dan janinnya sehat dan baik-baik saja. Tapi kalau Pak Dirga khawatir, sementara Bu Bianca bisa berhenti bekerja dulu dan perbanyak istirahat." Jawaban dari Dokter itu membuatku berfikir untuk berhenti bekerja demi menjaga kehamilan dan baby twins yang sejak dulu sangat aku nantikan kehadirannya.


"Baik Dok. Kalau makanannya bagaimana.? Apa ada yang harus di hindari.?" Mas Dirga kembali bertanya dengan antusias. Dia bahkan mewakili apa yang ingin aku tanyakan meski aku tidak bilang padanya.


Dokter menjelaskan dengan detail, sedangkan kami menyimaknya dan mengingat baik-baik larangan serta saran dari Dokter itu.


"Ada lagi yang ingin di tanyakan.?"


"Sudah cukup Dok, penjelasan Dokter sangat rinci dan mudah di mengerti." Ucap Mas Dirga.


"Baiklah, kalau begitu."


"Ini resep vitamin dan penguat kandungan jika sewaktu-waktu merasakan sakit di bagian perut bawah."


"Pak Dirga dan Ibu Bianca bisa kembali lagi 1 bulan depan." Ujarnya seraya menyodorkan hasil pemeriksaan dan resep vitamin yang harus di ambil di bagian obat.


"Terimakasih banyak Dok, kalau begitu kami permisi." Pamit Mas Dirga. Aku juga ikut pamit dan tak lupa mengatakan terimakasih meski dengan suara lirih. Rasanya benar-benar seperti mimpi. Akhirnya setelah 3 tahun lebih, aku bisa merasakan hamil.


"Jalan saja Mas, nggak usah pakai kursi roda." Pintaku saat Mas Dirga mengarahkan ku untuk duduk di kursi roda.


"Ya sudah, tapi kalau kamu cape harus bilang sama Mas ya." Pintanya. Aku mengangguk patuh.


Sampainya di dalam mobil, aku meminta foto hasil USG di tangan Mas Dirga. Aku ingin melihat lebih dekat kedua calon anakku.


"Kita cari makan malam dulu ya Dek. Atau kamu mau makan malam di luar.?" Tawarnya.


"Makan di rumah saja Mas." Jawabku yang fokus mengambil foto USG dan menatapnya takjub.


Rasanya sangat bahagia sampai tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2