
Bianca POV
Suasana hening sepanjang perjalanan menuju kantor. Aku membuang pandangan ke luar jendela, sedangkan Mas Dirga fokus menyetir meski aku sempat melihatnya tampak gelisah dan kacau.
Mas Dirga pasti tidak menyangka kalau aku juga bisa berbuat gilas seperti dirinya. Tapi perilaku seseorang juga bisa berubah, terlebih setelah di kecewakan.
Aku melepas seatbelt setelah Mas Dirga menghentikan mobilnya di depan kantor.
"Dek,, kita bicarakan ini baik-baik ya," Pinta Mas Dirga memohon.
"Mas tunggu di rumah nanti sore." Ujarnya dengan sorot mata sendu namun penuh harap.
Aku menarik nafas dalam sebelum menanggapi ucapan Mas Dirga.
Meski sebelumnya aku sudah menegaskan ingin tetap bercerai, tapi Maa Dirga bersikeras untuk membicarakan masalah ini lagi.
"Aku akan pulang terlambat. Pekerjaan kemarin harus aku selesaikan hari ini." Jawabku tanpa menolak permintaannya. Hanya saja aku tidak tau jam berapa akan sampai di rumah.
Kemarin aku tidak masuk, otomatis pekerjaan kemarin menumpuk.
"Nggak masalah Dek, Mas akan tunggu kamu pulang." Sudut bibir Mas Dirga terangkat, dia tersenyum sangat tipis selesai bicara.
Aku hanya mengangguk kecil dan pamit keluar dari mobil. Tapi sebelum membuka pintu, Mas Dirga menahan pergelangan tanganku.
"Mas harap rumah tangga kita masih bisa diperbaiki. Cuma kamu yang Mas inginkan sejak dulu sampai detik ini."
"Cinta untuk kamu masih sama seperti dulu Dek, dan itu nggak akan berubah atau berkurang sedikitpun." Ucapnya tanpa ada kebohongan sedikitpun di matanya. Aku tentu percaya meski kecewa dan sakit hati padanya.
Tapi memang kenyataannya seperti itu yang aku lihat. Dari cara Mas Dirga bicara padaku, menatapku dan gestur tubuhnya, semuanya masih penuh dengan cinta.
Itu sebabnya aku tak habis pikir kenapa Mas Dirga bisa mengkhianati ku.
__ADS_1
"Aku sudah terlambat." Setelah menarik tangan dari genggaman Mas Dirga, aku bergegas keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam kantor.
Mas Agam belum sampai di kantor karna aku berangkat lebih dulu. Tapi dia sempat mengirimkan pesan beberapa menit yang lalu, dengan mengatakan akan membawa makanan untukku.
Aku beranjak ke meja kerjaku dan duduk disana. Sejujurnya pikirkanku kacau setelah mengakui hubungan ku dengan Mas Agam di depan Mas Dirga. Aku bahkan tidak menutupi bahwa pernah melakukan perbuatan terlarang dengannya.
Ada rasa sesal dan bersalah pada Mas Dirga. Apalagi saat melihat reaksinya yang begitu hancur mendengar kenyataan itu.
Meski Mas Dirga juga melakukan hal yang sama, aku mengakui salah karna membalas pernyataannya dengan hal serupa.
"Sayang,, are you okay.?" Suara lembut dan sentuhan di pundakku seketika membuat lamunanku buyar. Aku menatap Mas Agam yang sedang berdiri di sampingku dan entah sejak kapan dia masuk ke ruangan ini. Aku bahkan tidak mendengar suara pintu terbuka ataupun langkah kaki. Mungkin karna aku terlalu hanyut dalam lamunanku.
Aku mengangguk seraya mengukir senyum karna enggan membuat Mas Agam ikut memikirkan permasalahan ku dengan Mas Dirga.
"Apa dia memarahimu.? Dia nggak melakukan kekerasan kan.?" Mas Agam menatap cemas. Dia meletakkan makanan di meja kerjaku dan menatapku lekat dari ujung kaki sampai kepala.
"Nggak Mas, Mas Dirga sama sekali nggak marahin Bia, apalagi berbuat kekerasan." Jawabku sembari mengukir senyum untuk menunjukkan pada Mas Agam kalau aku baik-baik saja.
"Aku nggak bisa diam aja setelah dia tau semuanya Bi. Biar aku yang bicara pada Dirga agar dia mau melepaskan kamu." Mas Agam meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Dia harus tau kalau aku benar-benar serius sama kamu." Ucapnya penuh ketegasan.
"Bia nggak akan melarang Mas bicara sama Mas Dirga, tapi untuk saat ini biar Bia dulu yang menyelesaikan semuanya. Mas nggak usah khawatir,," Aku berusaha meyakinkan Mas Agam untuk tidak bicara lebih dulu dengan Mas Dirga, pasalnya inti permasalahan ini mulai dari Mas Dirga dan Aku.
"Ya sudah. Sekarang kamu makan dulu, tadi kamu hanya makan beberapa suap." Mas Agam mengeluarkan makanan dari kantong yang dia bawa tadi.
...*****...
Di rumah,,,,
Dirga POV
__ADS_1
Mengetahui kenyataan bahwa Bianca dan Agam sudah melakukan hubungan terlarang, membuatku merasa jika aku sedang mendapatkan balasan atas apa yang sudah aku lakukan di belakang Bianca.
Sampai aku tidak punya alasan untuk meluapkan amarah pada Bianca maupun Agam atas perbuatan mereka, karna pada awalnya aku yang memulai menyalakan api lebih dulu.
Senyumku merekah kalau melihat Bianca masuk ke dalam rumah. Sudah 3 jam aku menunggunya, dan Bianca baru pulang dari kantor.
"Kamu mau mandi dulu Dek.?" Tanyaku yang hanya di jawab dengan anggukan kecil. Tanpa mengatakan apapun, Bianca berlalu dari ruang tamu, meninggalkanku yang sejak tadi gelisah menunggunya.
Aku hanya bisa menatap punggung Bianca yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu kamar tamu.
Bianca keluar dari kamar setelah hampir 30 menit berada di dalam. Dia terlihat lebih segar setelah mandi.
Melihatku yang masih duduk di ruang tamu, Bianca bergegas menghampiriku dan duduk di sampingku dengan membuat sedikit jarak.
"Mas mohon akhiri hubungan kamu sama Agam, Dek. Mas juga sudah menjauhi Ziva sebelum kamu meminta pisah." Aku meraih tangan Bianca untuk menggenggam dan memohon padanya.
Wanita berparas cantik itu hanya menatap datar.
"Kita perbaiki semuanya dengan memulai dari awal dan melupakan apa yang sudah terjadi sebelumnya." Pintaku tanpa keraguan sedikitpun. Karna aku sangat mencintai Bianca dan tidak ingin berpisah darinya.
Meski semua kesalahan berawal dariku, tapi aku semua ini juga termasuk ujian untuk rumah tangga kami berdua yang selama ini baik-baik saja. Mengingat Bianca juga sudah menghabiskan waktu bersama Agam, seperti aku yang lebih dulu melakukannya dengan Bianca, aku rasa tidak ada salahnya kalau kami berdua memperbaiki rumah tangga yang sudah berlangsung selama 3 tahun lebih.
"Mas mohon beri kesempatan untuk memperbaiki semuanya Dek. Mas nggak sanggup kehilangan kamu."
Bianca menarik nafas dalam, setelah menarik tangan dari genggamanku.
"Tapi aku ingin mengakhiri pernikahan kita."
"Perbuatan kamu membuatku kecewa dan sakit hati. Jangan salahkan aku kalau sekarang aku mencintai orang lain." Ucapan Bianca membuat dadaku terasa sesak. Dia terang-terangan mengakui perasaannya pada Agam di depanku.
Apa semudah itu cinta Bianca perpaling pada Agam.
__ADS_1