
Aku menggeleng menjawab pertanyaan Mas Agam tentang apa yang aku lakukan dengan Mas Dirga tadi malam.
Sebelum pertanyaan itu terlontar dari mulut Mas Agam, aku juga tidak berniat melakukan hubungan suami istri dengan Mas Dirga. Bagiku semuanya sudah usai, aku hanya sedang memberinya kesempatan untuk merasakan saat-saat terakhir kami menjalani rumah tangga ini. Anggap saja sebagai rasa terimakasih karna selama lebih dari 6 tahun Mas Dirga sudah mengukir kebahagiaan dalam hidupku. Meski kini kebahagiaan itu telah di hancurkan sendiri olehnya.
"Bia nggak akan melakukan itu Mas. Lagipula Bia udah anggap semuanya selesai."
"Kami berdua sepakat untuk berpisah baik-baik." Jelasku yang langsung membuat wajah lesu Mas Agam sedikit berbinar.
"Jadi Dirga setuju untuk bercerai.?" Tanyanya dengan sorot mata yang tampak senang. Aku bisa mengerti, karna memang perpisahanku dengan Mas Dirga adalah harapan besar Mas Agam untuk membuat hubungan kami lebih serius lagi.
"Iya, Mas Dirga sudah setuju mengakhiri pernikahan kami." Jawabku seraya mengukir senyum tipis. Ada perasaan bahagia karna akhirnya setelah ini hubungan ku dengan Mas Agam bisa ke tahap yang lebih serius, tapi di sisi lain aku tak bisa memungkiri ada rasa sakit saat mengatakan semua ini.
Aku tau rasa sakit ini bukan karna hatiku masih mencintai Mas Dirga sepenuhnya, tapi karna terlalu banyak kebahagiaan yang sudah kami lewati bersama sejauh ini.
Bagaimanapun, Mas Dirga selalu berusaha untuk membuatku bahagia setiap hari selama kita bersama.
"Kalau begitu aku akan membantumu mengurus perceraian agar prosesnya di percepat."
"Aku nggak punya waktu lagi Bia, sebelum Papa mendesakku untuk menerima perjodohan. Kamu tau itu kan.?" Mas Agam menatap teduh. Aku bisa melihat banyak cinta dan harapan di matanya saat menatapku. Dia bersikeras menolak perjodohan itu demi aku. Lalu apa yang harus aku sedihkan untuk mengakhiri pernikahan ku dengan Mas Dirga.
"Iya Mas, Bia ngerti."
"Soal proses perceraian, Mas nggak usah khawatir. Aku yakin pengacara dan kuasa hukum ku akan membuat proses perceraian itu di percepat. Apalagi kalau Mas Dirga datang ke sidang dan menyetujui gugatanku." Tuturku yang langsung di tanggapi senyum lebar oleh Mas Agam.
"Aku jadi nggak sabar,," Mas Agam seketika menghapus jarak di antara kami. Dia menempel dan langsung melingkarkan satu tangannya di pinggang ku.
"Mas,, kamu kebiasaan. Ini masih pagi,," Aku mencoba mendorong dada Mas Agam supaya bergeser menjauh. Ucapan dan perbuatannya membuatku sulit berfikir positif. Apalagi saat menatap matanya yang tampak mulai mesum.
Pria yang satu ini memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Bukannya lebih enak kalau pagi.?" Jawabnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Benarkan dugaanku. Pria gagah ini memang sangat mesum.
Sekarang dia malah menarik ku untuk duduk di pangkuannya. Tenaganya membuatku sulit untuk melepaskan diri.
Kini senyum di wajahnya semakin merekah, sorot matanya juga bertambah mesum setelah berhasil membuatku duduk di pangkuannya dengan posisi berhadapan.
"I want you Baby,," Ucapnya berbisik. Dangan cepat aku langsung menggelengkan kepala.
Mana mungkin aku akan melakukannya di kantor. Kami bahkan baru sampai dan belum menyelesaikan pekerjaan. Bagaimana bisa lebih dulu mengerjakan urusan yang satu ini.
"No.! Kita harus menyelesaikan pekerjaan Mas." Aku hendak turun dari pangkuannya, tapi Mas Agam menahanku.
"Kamu tega sekali sayang. Apa kamu nggak merasakan sesuatu yang keras di bawah sana.?" Dengan wajah memelas, Mas Agam mengarahkan matanya ke bagian bawah tubuhnya yang sedang aku duduki. Aku tersenyum kikuk, sebenarnya sudah sejak awal aku merasakan benda itu mengeras.
"Apa di pikiran Mas cuma ada hal-hal mesum saja.?" Aku menangkup kedua pipi Mas Agam dan menekannya. Bibir yang kemerahan sedikit mengerucut akibat ulahku yang menekan pipinya.
"Aku pria dewasa Baby, setiap beberapa hari sekali pasti ada tegangan tinggi kalau nggak di keluarkan." Mas Agam melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.
"Kalau begitu keluarkan sendiri saja, bia nggak mau disini." Aku mencubit hidung mancung Mas Agam seraya tersenyum meledek, lalu buru-buru turun dari pangkuannya.
"Nggak mau." Aku kembali menolak. Wajah Mas Agam semakin lesu saja dan dia terus menempel padaku seperti balita yang tidak mau di tinggal oleh ibunya.
"Menurutmu, apa perlu aku membuat kamu hamil lebih dulu.?" Pertanyaan konyol Mas Agam membuatku reflek memukul bahunya dengan buku tebal yang ada di meja kerjaku.
"Ya ampun Mas, bicara kamu semakin nggak karuan."
"Mendingan Mas tanda tangani berkas yang menumpuk di sana." Aku mengarahkan jari telunjuk ke meja kerja Mas Agam.
"3 jam lagi bukannya ada rapat dengan klien.?" Aku mendorong tubuh Mas Agam hingga menjauh.
"Oke,, oke.!" Dengan wajah masam, dia tampak terpaksa pergi dari ruanganku.
__ADS_1
Ya ampun,, pria itu benar-benar membuatku gemas. Tingkahnya tiba-tiba seperti anak kecil.
...*****...
"Sayang,, aku ke ruang rapat dulu." Ujar Mas Agam yang kini sudah berdiri di depan meja kerjaku.
"Kamu pesan makanan saja untuk makan siang kita. Aku akan kembali 1 jam lagi."
Aku mengangguk paham. Beberapa jam yang lalu Mas Agam sudah mengisi saldoku untuk memesan makan siang kami.
Aku sempat protes karna nominal yang dia kirimkan sangat banyak untuk sekedar membeli makan siang saja.
Entah apa yang di pikirkan oleh Mas Agam sampai dia mengirim saldo yang setara dengan setengah gajiku.
Saat aku protes, dia hanya bilang untuk membeli makan siang kita berdua selama beberapa hari ke depan. Padahal uang sebanyak itu biasa untuk membeli makan siang kami selama 3 minggu.
"Siap Pak, laksanakan.!" Jawabku sembari hormat padanya.
Mas Agam tertawa renyah, dia langsung menyambar hidungku dan di tarik pelan.
Aku terpaku melihat tawanya. Mas Agam terlihat sangat bahagia, lebih bahagia dari sebelumnya. Aku bahkan baru pertama kali melihatnya tertawa lepas seperti itu.
Sepertinya setelah mendengar Mas Dirga setuju untuk bercerai denganku, mood Mas Agam jadi lebih baik.
"Kenapa makin menggemaskan,," Ucapnya.
"Aku jadi nggak sabar makan kamu,,"
Aku yang awalnya fokus menatap wajah tampannya, kini dibuat melotot dengan ucapan terakhir Mas Agam.
"Maksudku nggak sabar makan siang sama kamu Baby,," Kilahnya. Tentu saja dia bohong, karna yang benar adalah ucapan pertamanya.
__ADS_1
"Udah sana pergi, jangan buat klien menunggu." Aku mengusirnya, tapi bukannya pergi, Mas Agam malah mendekat dan langsung menyambar bibirku. Dia menciumnya dengan gerakan sangat lembut namun menye sapnya kuat. Aku tidak sempat melepaskan diri karna Mas Agam lebih dulu mengakhiri ciuman singkat itu.
"I love you Baby,," Ucapnya kemudian pergi begitu saja dari hadapanku. Aku terpaku di tempat dengan jantung yang berdetak tak karuan akibat ciuman dan ungkapan cintanya padaku.