
Dirga POV
Aku mengangguk paham saat Bianca memintaku untuk tidak mempersulit proses gugatan cerai yang akan segera dia daftarkan di pengadilan.
Ini bukan keinginanku, menyetujui permintaan Bianca tentu saja bukan hal yang mudah untuk di lakukan. Jangankan berpisah, membayangkannya saja aku tidak sanggup.
Tapi mengingat sikap Bianca yang semakin menunjukkan ketidak inginannya dalam memberiku kesempatan untuk mempertahankan rumah tangga kami, aku berfikir mungkin perpisahan ini akan menjadi yang terbaik untuk Bianca.
Karna jika memaksa Bianca tetap tinggal hanya akan membuatnya sedih, tak ada pilihan lagi selain merelakan Bianca bahagia dengan pilihannya.
"Kamu tau Dek,? Sejak pertama kali kita menjalin hubungan lebih dari 6 tahun yang lalu, Mas janji pada diri sendiri akan selalu membahagiakan kamu sepanjang hidup Mas." Aku mengukir senyum di balik hati yang teriris. Sakit sekali rasanya mencoba untuk melepaskan.
"Tapi apa yang Mas lakukan beberapa bulan lalu, membuat Mas mengingkari janji itu." Aku menatap Bianca penuh rasa bersalah. Terlebih melihat wajah sendu Bianca yang telah aku hancurkan hatinya. Aku jadi merasa menjadi suami paling buruk dan jahat di dunia ini.
Membuat istri bahagia adalah tugas dan kewajiban suami, tapi aku justru membuatnya sedih dan terluka.
Aku benar-benar gagal menjadi suami yang baik untuk Bianca sampai akhirnya dia juga melakukan kesalahan yang sama seperti ku.
Bukan salah Bianca kalau sekarang dia menjalin hubungan dengan Agam, tapi salahku yang sudah menghancurkan hatinya dan tidak bisa menjaga istri dengan baik sampai dia lebih memilih pria lain.
"Berpisah dari kamu nggak pernah Mas bayangkan sebelumnya Dek. Rasanya sangat berat dan tersiksa menunggu hari itu tiba," Suaraku tercekat, aku segera membuang pandangan ke arah lain karna hampir saja menangis di depan Bianca.
Mengatur nafas lebih dulu, aku kembali menatap Bianca setelah berhasil menahan air mataku agar tidak tumpah.
"Tapi Mas sadar, kamu nggak akan pergi kalau Mas bisa menjaga dan membahagiakan kamu."
"Mas sendiri yang menjemput kehancuran rumah tangga kita."
"Kalau memang berpisah membuat kamu lebih bahagia, Mas ikhlas Dek." Aku terdiam setelah mengatakan semua itu.
Aku menyesal telah mengatakan kalimat terakhir itu pada Bianca.
Ikhlas.? Tentu saja itu sebuah kebohongan.
__ADS_1
Mana mungkin aku ikhlas melepaskan Bianca dia saat hati ini tak pernah berpaling sedikitpun darinya.
Bianca masih diam sejak tadi. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Aku tau dia sedang mencerna kata demi kata yang keluar dari mulutku.
"Tapi sebelum kita bercerai, Mas mohon kabulkan permintaan Mas untuk terakhir kalinya." Aku menggenggam tangan Bianca dan menatap dalam.
"Berpisah dari kamu saja akan sangat menyakitkan Dek, apalagi kalau berpisah dalam keadaan buruk seperti ini."
"Mas ingin memiliki kenangan yang indah untuk terakhir kalinya sebelum kita berpisah."
Saat ini Banca pasti melihatku mengukir senyum tipis, tapi aku sedang berusaha menyembunyikan kehancuran hatiku di depan Bianca.
"Kenangan indah seperti apa.? Langsung ke intinya saja." Bianca berucap datar, perlahan dia menarik tangannya dari genggamanku.
Berulang kali mendapat penolakan dari Bianca, membuatku sadar terlalu besar luka yang sudah aku torehkan di hatinya.
"Selama 1 minggu ke depan, Mas ingin kita menjalani peran sebagai suami istri seperti sebelumnya." Ucapku yang langsung mendapatkan respon dari Bianca. Dia tampak tidak setuju mendengarnya. Terlihat dari kedua matanya yang langsung membulat sempurna.
"Dek,, Mas mohon untuk kali ini saja." Pintaku.
"Mas nggak akan meminta hak, hanya kembali tidur satu kamar dan melakukan aktifitas dan interaksi seperti biasa."
"Sarapan pagi dan makan malam bersama, berangkat dan pulang kerja bersama. Lalu pergi berdua saat weekend seperti yang sering kita lakukan."
"Cuma itu, Mas janji nggak akan meminta lebih."
"Mas juga nggak keberatan kalau kamu menolak kontak fisik. Sekalipun hanya memegang tangan."
Bianca tampak terdiam selama aku mengutarakan keinginan untuk terakhir kalinya.
Aku harap Bianca akan mengabulkan keinginanku.
__ADS_1
Sejujurnya semua aku memiliki harapan besar di balik keinginanku kali ini. Berharap selama 1 minggu kami kembali tidur dalam satu kamar dan melakukan aktifitas bersama, Bianca akan berubah pikiran untuk tidak mengakhiri pernikahan kami. Meski aku yakin kemungkinan itu sangat kecil, karna sepertinya hati Bianca hampir di penuhi oleh Agam.
"Dek,, Bagaimana.? Kamu nggak keberatan kan.??" Aku membuyarkan lamunan Bianca. Dia tampak bingung. Sepertinya ini menjadi keputusan yang sangat berat untuknya sampai sulit untuk memberikan jawaban.
...*****...
Bianca PoV
"Baiklah, aku nggak keberatan selama Mas bisa memegang ucapan."
"Hanya 1 minggu dan nggak melakukan hubungan suami istri seperti yang Mas bilang sebelumnya."
Setelah berfikir cukup lama, aku memutuskan untuk mengabulkan permintaan Mas Dirga. Sejujurnya aku enggan melakukan hal ini, tapi entah kenapa sulit untuk menolak. Terlebih saat melihat raut wajah sendu Mas Dirga yang begitu menyayat hati.
Mungkin tidak ada salahnya kami meninggalkan kesan baik sebelum berpisah, mengingat hubungan kami juga di awali dengan cara yang sangat baik.
Mas Dirga mengukir senyum lebar dengan mata yang berbinar. Dia terlihat sangat bahagia setelah aku menyetujui keinginannya.
Sepertinya tidak ada salahnya melakukan aktivitas seperti biasa sebelum kami benar-benar bercerai.
Aku juga mengakui salah dalam hal ini karena membalas perbuatan Mas Dirga dengan cara yang sama.
"Makasih banyak Dek,," Mas Dirga meneteskan air mata dan langsung memelukku erat, tapi sedetik kemudian dia melepaskan pelukannya dengan raut wajah yang tampak panik.
"Ma,,maaf Dek, Mas nggak sengaja." Ucapnya takut. Mungkin Mas Dirga takut aku berfikir macam-macam karna dia memelukku. Sedangkan tadi sudah bersedia untuk tidak melakukan kontak fisik.
"Nggak papa Mas," Aku sedikit bergeser dan membalut tubuh dengan selimut lalu menyenderkan tubuh di sofa. Hujan makin deras, hawa di dalam rumah semakin dingin.
"Kamu mau tidur Dek.? Ayo ke kamar. Kita bisa tidur satu kamar lagi mulai ini." Mas Dirga mengajakku dengan tatapan teduh. Aku sedikit ragu untuk mengiyakan, tapi besok pagi aku harus ke kantor, tidak mungkin begadang dan tidur di sofa.
Berbaring di sisi ranjang, aku sengaja membuat jarak yang cukup jauh dengan Mas Dirga. Pria yang penuh kelembutan itu hanya mengukir senyum tipis saat melihatku berbaring cukup jauh darinya. Dia tak memberikan komentar apapun, tapi terus menatap ke araku dengan tidur menyamping.
Aku memilih memunggungi Mas Dirga setelah menarik selimut hingga sebatas leher.
__ADS_1
Sejujurnya ada perasaan iba padanya setelah berulang kali dia memohon dengan sungguh-sungguh padaku. Tapi mengingat dia yang lebih dulu menghancurkan kepercayaan dan harapanku, rasa iba itu tak akan mengubah keputusan yang sudah aku buat.