Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 28


__ADS_3

Aku ke rumah Mas Agam dengan membawa lamaran yang sudah ku siapkan tadi siang.


Sengaja datang 30 menit setelah Mas Agam masuk ke dalam rumah, karna tadi Mas Agam pamit untuk mandi lebih dulu.


Tak lama setelah menekan bell, Mas Agam membukakan pintu. Saat pintu terbuka lebar, aroma sabun dan parfum maskulin yang bercampur jadi satu begitu menusuk indera penciumanku. Terasa sangat segar dan menenangkan.


"Masuk Bi,," Ajaknya sembari berjalan ke arah sofa ruang tamu.


"Di luar aja Mas, nggak enak kalo di lihat orang." Menolak dan masih berdiri di luar pintu, pikiranku masih cukup waras untuk menghindari hal-hal buruk meskipun sangat sulit menghindari pesona Mas Agam yang semakin lama malah membuatku terus memikirkannya.


“Siapa yang mau lihat.? Nggak ada orang lain disini." Berbalik menghampiriku, Mas Agam menggandeng tanganku tanpa permisi dan membawaku ke sofa ruang tamu.


"Mas, apa kita nggak kelewat batas.?" Tanyaku ragu. Ragu karna takut menyinggung perasaan Mas Agam, tapi aku juga harus menyadarkan dia kalau kedekatan kami sudah terlalu intens meski masih sebatas interaksi biasa.


"Kita udah terlalu sering berduaan di dalam rumah, Mas. Walaupun nggak berbuat yang aneh-aneh." Menundukkan pandangan, aku tak berani berlama-lama menatap wajah Mas Agam. Terlalu berkharisma dan memancarkan pesona yang sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata.


"Itu kamu tau, kita nggak ngapa-ngapain. Jadi apanya yang kelewat batas.?" Mas Agam mendudukkan diri di sofa. Di menepuk sisi kosong di sampingnya seraya menatapku. Anehnya, aku menuruti perintah Mas Agam begitu saja. Duduk di sampingnya meski membuat jarak agar tidak terlalu dekat.


"Lagian kita mau bahas soal pekerjaan. Aku juga nggak akan macem-macem, tenang aja." Ucapnya dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.


"Kecuali kamu sendiri yang minta, aku nggak akan keberatan." Imbuhnya sambil mengulum senyum.


"Mas.!!" Sontak aku langsung menegurnya dengan bibir mencebik.


"Aku cuma bercanda Bia, jangan terlalu serius." Sangkalnya. Ekspresi wajah Mas Agam tiba-tiba datar, dan tetap dengan pembawaan yang tenang.


"Sini aku lihat dulu CVnya." Mas Agam mengambil lamaran kerja dari tanganku.


Dia mengambil satu persatu persyaratan dan membacanya dengan teliti.


Untuk sementara suasana cukup hening. Aku fokus memperhatikan Mas Agam yang sedang memeriksa CV milikku.


"Jadi kamu punya pengalaman sebagai sekretaris.?" Pertanyaan lolos dari mulut Mas Agam tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.

__ADS_1


"Iya,, tapi cuma 2 tahun." Jawabku. Sebelum menikah dengan Mas Dirga, aku memang sempat menjadi sekretaris CEO di salah satu perusahaan Jakarta. Walaupun perusahaannya tidak sebesar tempat Mas Dirga bekerja. Tapi waktu itu penghasilan ku setara dengan Mas Dirga, bahkan terkadang lebih tinggi.


"Ok, kalau gitu besok kamu mulai bekerja. Sesuai pengalaman kerja kamu, jabatan di kantor nanti sebagai sekretaris juga." Ucapnya sembari membereskan CV dan memasukkannya lagi ke dalam amplop coklat.


Aku mengerutkan kening. Ini yang sejak tadi ingin aku tanyakan saat Mas Agam bilang kalau aku bisa langsung bekerja besok.


Kenapa Mas Agam yang memutuskan aku di terima, bahkan langsung bekerja tanpa perlu datang ke kantor untuk melakukan tes dan interview seperti pada umumnya.


"Tapi Mas, kenapa nggak ada tes dan interview.?"


"Memangnya boleh kalau langsung kerja.? Apalagi posisinya sebagai sekretaris."


"Mas Agam di bagian HRD atau gimana.?" Aku menatap penasaran. Sekalipun posisinya HRD, harusnya tetap ada tahap tes dan seleksi.


"Udah nggak usah bingung, pokoknya besok datang aja ke perusahaan Airlangga."


"Nanti aku kirim alamatnya ke nomor kamu." Mas Agam merogoh ponsel dari saku celana dan menyodorkannya padaku.


Aku bergegas mengetik nomor ponselku di ponsel Mas Agam dan menyodorkannya lagi padanya.


"Makasih Mas." Lirihku. Mas Agam hanya berdehem seraya mengangguk. Dia sedang sibuk menyimpan nomor ponselku.


"Ini nggak gratis Bia, kamu harus traktir aku makan malam sekarang." Pintanya.


Aku yang tadinya ingin pamit pulang, kini mengurungkan niat.


"Bia pesen aja ya Mas makanannya. Nggak perlu makan bersama di luar kan.?" Aku tidak keberatan dengan permintaan Mas Agam, lagipula dia sudah membantuku mendapatkan pekerjaan. Hanya mentraktirnya makan malam tidak akan jadi masalah.


"Aku mau makan masakan kamu. Masak disini aja, kebetulan masih ada stok daging. Kamu pasti jago kan bikin steak.?"


"Disini.?" Tanyaku memastikan. Sepertinya Mas Agam ingin mecari gara-gara dengan membiarkanku masuk ke dapurnya.


Kalau tiba-tiba Mbak Karina pulang, bisa-bisa aku di tuduh berselingkuh dengan Mas Agam.

__ADS_1


"Disini atau di rumah kamu, nggak masalah." Jawabnya santai. Mas Agam benar-benar senang mencari masalah.


"Gimana kalau Bia masak steaknya di rumah aja, nanti Bia anter ke rumah Mas Agam kalau udah mateng." Aku mengambil keputusan yang tepat demi kebaikan bersama. Sekalipun Mas Dirga akan pulang larut malam hari ini, tapi aku tidak mau membawa Mas Agam lagi ke dalam rumah.


"Bia nggak mau masak disini, apa kata Mbak Karina kalau tiba-tiba dia pulang dan lihat aku ada di sini." Ujarku lagi karna Mas Agam tak kunjung merespon ucapanku.


"Ngapain juga Karina pulang ke sini. Baju dan barang-barangnya juga udah di bawa semua sama dia."


Aku terkejut mendengar penuturan Mas Agam. Mbak Karina membawa semua baju dan barang-barangnya miliknya keluar dari rumah ini. Apa itu artinya rumah tangga mereka sudah berakhir.?


"Maksudnya gimana Mas.?" Tanyaku penasaran.


"Dia lebih memilih tinggal sama selingkuhannya." Mas Agam menjawab cepat tanpa ekspresi. Sedangkan aku justru sakit hati mendengar hal itu. Membayangkan pasangan kita lebih memilih untuk pergi dan tinggal dengan selingkuhannya, itu adalah hal yang sangat menyakitkan.


Tapi sepertinya hal itu tak berlaku untuk Mas Agam. Mungkin dia sudah berada di tahap lelah atau mengikhlaskan.


Seandainya Mas Dirga melakukan hal yang sama seperti Mbak Karina dengan memilih tinggal bersama selingkuhannya, aku tidak yakin bisa sekuat dan setegar Mas Agam.


...****...


"Iihh,, iseng banget sih.!" Aku memukul lengan Mas Agam dengan bibir mencebik. Sejak tadi pria itu mengganggu ku yang sedang sibuk memasak steak.


Aku sadar apa yang aku lakukan saat ini salah. Tapi setelah mendengar penuturan Mas Agam soal Mbak Karina, aku jadi tidak tega menolak permintaannya. Dan saat ini aku masih berada di rumah Mas Agam. Memasak steak bersama meskipun Mas Agam lebih banyak mengacaukan dari pada membantuku.


Bukannya berhenti setelah aku menegurnya, Mas Agam malah berbuat jahil lagi dengan mengacak rambutku dan membuat sebagian rambutku menutupi wajah.


"Mas Agam ya ampun.! Bia mau pulang aja kalau di gangguin terus.!" Protes ku geram. Pria itu malah terkekeh sembari meminta maaf.


"Iya maaf."


"Jangan pulang dulu, kan belum ngapa-ngapain." Ucapnya tanpa ekspresi. Sedangkan aku langsung memberikan tatapan tajam padanya.


"Maksudku belum makan." Elaknya. Dia mengulum senyum jahil karna berhasil membuatku syok degan ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2