Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 79


__ADS_3

Bianca Pov


"Terserah kamu mau percaya atau nggak.!"


"Satu hal yang harus kamu ingat Bianca.! Mas Dirga mencintaiku, itu sebabnya dia diam-diam menemui ku dan menjalan hubungan denganku di belakang kamu.!" Ziva berucap dengan penuh percaya diri.


Agaknya dia belum puas memanas-manasiku karna sejauh ini aku masih santai mendengarkan semua penuturannya. Mungkin dia berharap aku menangis dan langsung melepaskan Mas Dirga untuknya.


"Kamu salah paham Ziva, Mas Dirga menemuimu karna kasihan pada kamu dan anak kamu yang baru di tinggal pergi Papanya."


"Bukankah kamu mantan pacar Mas Dirga.? Harusnya kamu paham sifat Mas Dirga yang mudah kasihan dan suka memberikan bantuan pada siapapun yang membutuhkan. Tanpa pandang bulu dan tanpa ada perasaan apapun selain rasa kasihan dan tulus menolong.!" Aku menekankan setiap kata untuk menyadarkan Ziva.


Walaupun aku yakin kalau sebenarnya Ziva tau tentang itu, tapi dia menutup mata demi membuatku cemburu dan sakit hati.


"Aku harap kamu bisa sadar ddiri Ziva jangan berkhayal untuk memiliki Mas Dirga.!" Tegasku saat aku melihat Ziva hendak menyangkal ucapanku.


"Kau.!!" Bentak Ziva yang langsung berdiri dan hendak melayangkan tamparan padaku.


"Ada cctv, aku bisa melaporkanmu." Aku bicara tenang tanpa bergeser sedikitpun. Sedangkan Ziva kembali menurunkan tangannya dan tidak jadi menampar ku. Padahal aku berbohong soal cctv yang sebenarnya tidak ada di dalam rumah ini.


"Dasar perempuan mandul.!!" Hardiknya sinis.


"Harusnya kamu yang sadar diri.! Kamu nggak pantas menjadi istri Mas Dirga karna nggak bisa memberikan dia keturunan.!"


"Harusnya Mas Dirga menceraikan istri yang nggak berguna kaya kamu.!" Bentak Ziva yang terus mengeluarkan hinaan pedas untukku.


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi semua hinaan Ziva. Rasanya aku ingin menampar mulutnya yang begitu mudah mengeluarkan hinaan untuk seseorang yang bahkan tidak dia kenal sebelumnya. Entah bagaimana seseorang bisa dengan mudah menghina. Atau mungkin hanya orang-orang seperti Ziva saja yang tega menghina seseorang.

__ADS_1


Soal aku yang tak kunjung hamil, sungguh itu di luar kuasa ku. Jika dia tau bagaimana aku menangis hingga sulit bernafas saat berdo'a untuk diberikan kepercayaan memiliki seorang anak. Bagaimana aku berjuang keras dan harus berurusan dengan dokter setiap bulan selama 2 tahun pernikahan.


Aku yakin tidak ada seorang wanita pun yang ingin sepertiku, tak kunjung di karunia anak meski sudah bertahun-tahun menikah.


"Lalu menurutmu, kamu yang lebih pantas menjadi istri Mas Dirga.?" Aku tersenyum kecut namun masih bersikap tenang padanya. Aku tidak mau membuang-buang tenaga hanya untuk wanita seperti Ziva. Aku juga memilih bungkam tentang kehamilan ku, lebih tepatnya berjaga-jaga dari orang yang mudah emosional seperti Ziva.


Aku takut dia melakukan sesuatu jika mengetahui aku sedang hamil.


"Tentu saja.! Karna saat ini aku sedang mengandung anak Mas Dirga.!" Serunya.


Saat itu juga aku langsung membeku. Aku menatap kedua mata Ziva untuk mencari kebohongan dimatanya. Tapi sayangnya aku tidak bisa membedakan kebohongan dan kebenaran dari pengakuan Ziva melalui sorot matanya.


"Selama nggak ada bukti, aku anggap kamu berbohong." Ucapku dengan sedikit kekhawatiran. Tiba-tiba saja aku merasa kacau, takut jika ucapan Ziva adalah kenyataan.


"Ya ampun, harusnya sejak tadi aku mengatakan hal ini padamu.!" Gumamnya sinis. Ziva merogoh tasnya dan seketika tubuhku terasa kaku saat dia mengeluarkan testpack dari dalam tasnya.


Wanita itu melemparkan testpack itu hingga jatuh ke pangkuanku.


Perlahan aku mengambil testpack milik Ziva di atas pangkuanku. Aku memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya melihat testpack itu yang jelas-jelas menunjukkan garis dua.


"Kalau Mas Dirga nggak cinta sama aku, mana mungkin dia sampai menghamili ku.!"


"Aku datang kesini untuk meminta kamu melepaskan Mas Dirga. Dia akan bahagia hidup bersamaku dan anaknya." Ucap Ziva yang tampak tersenyum puas.


Tak mau percaya begitu saja dengan ucapan Ziva, aku langsung berfikir untuk membuktikannya sendiri.


"Ziva, apa kamu yakin testpack ini punya kamu.?"

__ADS_1


"Aku nggak percaya kalau hanya dengan bukti sebuah testpack yang sudah kamu siapkan dari rumah."


"Bagaimana kalau kamu testpack ulang disini agar aku percaya. Kebetulan aku ada stok testpack yang baru aku beli beberapa hari lalu."


Aku berdiri dan mengembalikan testpack itu pada Ziva. Wanita itu tampak gelagapan, matanya tidak fokus.


"Kamu pikir aku akan berbohong soal kehamilan ini.?!" Ketusnya.


"Aku benar-benar sedang hamil anak Mas Dirga.! Itu sebabnya aku datang kesini agar kamu mau melepaskan Mas Dirga untukku." Ziva menatap jengkel. Dia bicara lantang, mirip seperti orang yang ketahuan bohong tapi bersikeras untuk menyangkalnya.


"Ziva, kalau kamu memang benar-benar hamil, harusnya kamu bersedia melakukan tes ulang di depanku."


"Aku janji akan memberikan Mas Dirga untuk kamu kalau memang kamu benar-benar hamil. Tapi dengan syarat, kamu harus tes kehamilan disini.!"


"Ayo, aku antar kamu ke kamar mandi. Aku juga akan mengambilkan testpack baru untukmu." Ucapku sembari tersenyum meledek pada Ziva. Aku juga mengangkat tangan untuk menggandeng Ziva meski hanya pura-pura. Dan detik itu juga Ziva langsung menepis tanganku yang bahkan belum sempat memegang pergelangan tangannya.


"Dasar wanita sialan.!! Awas saja kamu.!!" Ziva berteriak keras tepat di depan wajahku dan sampai mengarahkan telunjuknya di wajahku.


Wanita itu terlihat sangat marah, lalu bergegas pergi dengan membanting pintu rumahku sampai tertutup rapat.


Ziva benar-benar mengerikan. Dia terlalu nekat sampai melakukan apapun untuk membuatku melepaskan Mas Dirga.


Sepertinya Ziva sangat terobsesi untuk memiliki Mas Dirga.


Aku rasa dia memiliki kenangan yang buruk dengan pasangannya. Dan ketika kembali di pertemukan dengan Mas Dirga yang dia tau sangat baik dan penuh perhatian, Ziva jadi berfikir untuk memiliki Mas Dirga sepenuhnya.


Aku kembali duduk di sofa dan bersandar dengan mata terpejam.

__ADS_1


Ziva terlalu mengerikan. Dia seperti orang yang akan melakukan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Apapun yang terjadi, Mama akan pastikan kalian baik-baik saja sampai terlahir ke dunia ini." Aku mengusap perut yang masih datar dengan perasaan yang menghangat karna bahagia.


__ADS_2