Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 57


__ADS_3

Dirga POV


Aku terkesiap melihat Bianca menggeliat. Reflek ku tarik tanganku dari pipi Bianca dan berdiri sedikit menjauh dari sisi ranjang, aku takut dia marah kalau melihatku menyentuhnya. Karna terakhir kali aku menyentuhnya, Bianca menepis kasar dan enggan untuk di sentuh.


Aku mengukir senyum saat Bianca membuka mata dan menatap ke arahku.


"Kamu ngapain Mas.?!" Bianca menyambut ku dengan pertanyaan ketus. Dia bangun merubah posisinya dengan duduk di tepi ranjang sembari menggulung asal rambut panjangnya dan menjepitnya.


Melihat sikap ketus Bianca saat menyambut ku pulang, aku merasa kalau Bianca serius dengan ucapannya untuk mengajukan gugatan cerai padaku. Sepertinya aku hanya bisa pasrah menunggu waktu itu tiba, meski aku masih ingin berusaha untuk mendapatkan maaf dari Bianca agar dia mengurungkan buat untuk mengakhiri pernikahan kami.


"Kenapa tidur disini Dek.?" Tanyaku yang memilih pura-pura tidak tau kalau sebenarnya Bianca memang ingin pisah kamar denganku.


"Mulai sekarang kita pisah kamar. Jangan khawatir, hanya untuk beberapa hari ke depan saja karena setelah itu aku akan keluar dari rumah ini." Jawabnya penuh penekanan tanpa menatapku. Bianca beranjak dan membuatku mengikuti langkahnya. Rasa sakit sudah pasti aku rasakan saat ini atas keputusan Bianca. Tapi aku tak berdaya karna semua ini adalah salahku.


"Dek,, Mas mohon bicarakan baik-baik dulu." Pintaku.


"Mas minta maaf, Mas benar-benar menyesal Dek.


Kita masih bisa memperbaiki semuanya kan.?" Tanyaku penuh harap. Aku tidak bisa merelakan rumah tangga kami berakhir begitu saja. Sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk menghancurkan rumah tangga ku sendiri.


"Memperbaiki.? Memangnya siapa yang sudah merusaknya.?" Bianca berbalik badan dan menatapku tajam. Aku bisa melihat kehancuran di matanya. Aku benar-benar bodoh telah menggoreskan luka di hati Bianca.


"Kamu yang membuat pernikahan kita jadi seperti ini Mas. Kamu sudah bermain api dan membakar kebahagiaan kita tanpa sisa." Mata Bianca berkaca-kaca, suaranya yang tercekat membuatku semakin frustasi. Entah bagaimana aku bisa tega berbuat sekeji ini pada wanita berhati lembut seperti Bianca.


"Dek,, tolong beri Mas kesempatan. Mas nggak bermaksud menghancurkan rumah tangga kita." Aku berlutut di depan Bianca.


"Dia temen Mas, dia sendirian di kota ini dengan anaknya setelah suaminya meninggal. Mas hanya berniat membantunya tanpa memiliki hubungan apapun. Maaf kalau Mas nggak jujur sama kamu." Aku kembali menjelaskan pada Bianca apa yang sebenarnya terjadi. Meski begitu, aku tak berani mengakui bahwa pernah menghabiskan malam dengan Ziva. Aku tak mau membuat Bianca semakin sakit dengan pengajuan ku. Meski aku yakin Bianca sudah berfikir sejauh itu antara aku dan Ziva, tapi aku enggan untuk memperjelas.


"Kalau begitu akan lebih baik kalau kamu tetap sama dia Mas. Kasihan, jangan biarin dia dan anaknya sendirian disini." Meski bicaranya pelan, tapi Bianca menekankan kalimatnya dengan nada sindiran.

__ADS_1


"Dek, demi apapun Mas nggak punya hubungan spesial sama dia. Mas salah karna diam-diam membantunya tanpa sepengetahuan kamu." Aku menatap sendu.


"Yakin nggak punya hubungan apa-apa.?! Kalau gitu pertemukan kami berdua. Biar aku tanya langsung dan mendengar jawaban yang sebenarnya.!" Serunya dengan sorot mata tajam.


Saat itu juga aku tak bisa menjawab. Mana mungkin aku mempertemukan Bianca dengan Ziva. Wanita itu pasti akan memperkeruh keadaan dengan pengakuan yang di lebih-lebihkan.


Terlebih Ziva terang-terangan mengatakan padaku ingin membuat rumah tangga ku degan Bianca hancur.


"Kenapa Mas.? Kamu takut mempertemukan aku sama wanita itu.?!" Bianca mengukir senyum kecut.


"Nggak perlu mengelak dan mencari pembenaran. Tanpa kamu menjawab jujur sekalipun, aku sudah tau sejauh apa hubungan kamu sama dia.!" Tegasnya dan berlalu begitu saja dari hadapanku.


...*****...


Bianca POV


Semalam aku mengurung diri di kamar tamu sejak makan malam.


Pagi ini aku keluar dari kamar selesai mandi. Sengaja aku bangun siang dan baru keluar kamar pukul 8 untuk menghindari bertatap muka lebih lama dengan Mas Dirga. Aku enggan membahas permasalahan kami lagi. Terlebih, aku sudah menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian ku dan Mas Dirga. Jadi tidak ada yang perlu di bicarakan lagi mengenai hal ini.


"Sudah bangun Dek.?" Dari arah dapur Mas Dirga menyapaku. Dia tersenyum lebar seolah tak ada masalah yang terjadi di antara kami.


"Mas nggak berani ketuk pintu kamar kamu, jadi tunggu kamu bangun."


"Ayo sarapan, Mas udah beli makanan." Anaknya antusias. Aku hanya menghela nafas tanpa memberikan jawaban apapun, tapi aku menghampirinya dengan pergi ke dapur. Tentu saja bukan untuk makan makanan yang di beli Mas Dirga, aku lebih memilih untuk membuat makanan sendiri.


"Dek,," Mas Dirga menahan tanganku saat aku mengeluarkan bahan makanan dari dalam lemari pendingin.


"Kamu boleh marah sama Mas, tapi makanan itu nggak salah." Mata Mas Dirga melirik makanan di atas meja makan. Aku ikut menatap kesana dan melihat banyak makanan sudah tertata di meja makan.

__ADS_1


"Kalau nggak mau makan satu meja, Mas bisa makan di ruang tengah." Ucapnya lembut.


Mas Dirga mengambil bahan makanan dari tanganku dan memasukkannya kembali ke dalam lemari pendingin. Aku tak mencegahnya. Aku rasa ucapan Mas Dirga memang benar.


"Kamu makan disini aja, biar Mas ke depan." Mas Dirga mengukir senyum meski sejak tadi aku tak merespon ucapannya.


Setelah mengambil makanannya, dia memintaku untuk duduk.


Aku hanya diam sampai Mas Dirga berlalu dari dapur sembari membawa makanan miliknya.


Hingga punggung Mas Dirga hilang dari pandangan mata, aku masih diam membisu di tempat.


Rasanya sulit untuk percaya bahwa pria sebaik Mas Dirga melakukan semua ini di belakangku. Tapi kenyataanya memang seperti itu.


Mas Dirga bahkan tidak menyanggupi permintaan ku untuk di pertemukan dengan wanita itu.


Sejujurnya perasaanku pada Mas Dirga sulit pudar setelah semua yang sudah aku ketahui. Tapi aku juga enggan mempertahankan pernikahan ini karna terlalu kecewa dan sakit hati atas semua perbuatannya di belakangku.


...***...


"Biar Mas aja Dek,," Tiba-tiba Mas Dirga muncul dan mengambil alih piring kotor dari tanganku.


Mas Dirga membawanya ke wastafel dan mencuci piring bekas makan kami berdua.


Aku tau Mas Dirga sedang berusaha untuk mengembalikan keadaan seperti semula.


"Apapun yang Mas lakukan sekarang nggak akan merubah apapun. Aku sudah menyuruh pengacara untuk mengurus perceraian kita." Tegas ku. Aku lihat Mas Dirga menghentikan aktivitasnya. Dia meletakkan piring di wastafel dan berbalik menatapku.


"Mas mengerti Dek." Jawabnya disertai senyum tipis. Aku tau Mas Dirga hanya memaksakan senyum. Sedangkan sorot matanya jelas menunjukkan kehancuran di dalamnya.

__ADS_1


Tapi bukankah dia sendiri yang menciptakan kehancuran itu.


__ADS_2