Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 87


__ADS_3

Dirga Pov


Siang ini suasana di rumah sangat ramai. Semalam keluarga dari Manado tiba di rumah kami.


Aku dan Bianca sampai terkejut karna awalnya mereka bilang tidak bisa hadir di acara syukuran 4 bulanan kehamilan Bianca.


Rupanya mereka sengaja memberikan kejutan untuk kami setelah lebih dari 1 tahun kami tidak berkumpul.


Acara 4 bulanan yang ada di gelar nanti sore pukul 3, sudah di persiapkan hampir 100 persen. Tenda juga sudah di pasang sejak tadi pagi.


Catering dan beberapa keperluan lainnya pun sudah tiba di rumah.


Aku bergabung di ruang keluarga setelah menyelesaikan pekerjaan yang sedang di butuhkan hari ini juga.


Suasana sangat riuh karna semua keluarga ku dan Bianca berkumpul di ruang keluarga. Termasuk Keluarga kecil Mbak Nilam, Mbak Monik dan Mbak Sita.


Mereka berbaur layaknya keluarga dekat, karna beberapa kali keluarga kami berkunjung saat kami masih tinggal di Jakarta dan mereka di kenalkan pada ketiga tetangga kami itu.


"Sudah waktunya makan siang, kenapa masih asik ngobrol." Ujarku seraya duduk di samping Bianca. Kau reflek mengusap pipi Bianca karna gemas melihatnya sedang tertawa lepas.


"Iidih,, udah tau di sini ada yang jomblo, malah pamer kemesraan." Celetuk Kaylin dengan tatapan sebal. Keponakanku yang baru saja lulus kuliah itu sampai melengos. Aku justru semakin menggodanya dengan memeluk Bianca.


"Siapa suruh jadi jomblo." Ledekku. Padahal aku sudah tau kalau Kak Arini tidak mengijinkan anak gadisnya itu pacaran sebelum bekerja. Jadi sejak dulu Kaylin tidak pernah pacaran.


"Tante,, Om Dirga meledekku.!" Adu Kaylin pada Bianca. Bianca yang sejak dulu sangat dekat dengan Kaylin dan menganggap seperti adiknya sendiri, tentu saja dia membela Kaylin.


"Iishh,, kamu itu kalau udah ketemu Kaylin jadi iseng.!" Ujar Bianca seraya mencubit perutku.


Kaylin tertawa puas melihatnya.


"Awas aja kamu, nggak bakalan Om masukin ke kantor." Ancam ku. Kaylin langsung merengek pada Kakek dan Neneknya yang tentu saja orang tua kandungku. Dia juga merengek pada Kak Arini dan meminta mereka bertiga untuk memarahiku.

__ADS_1


Walaupun usia keponakanku itu sudah 21 tahun, tapi tingkahnya masih seperti anak kecil.


Aku sampai khawatir untuk memasukan Kaylin ke perusahaan. Aku tau betul bagaimana situasi dan kondisi kantor. Hampir 80 persen karyawan laki-laki di sana suka menggoda karyawan wanita.


Membawa Kaylin bekerja di sana sama saja memberikan umpan pada mereka.


...*****...


"Selamat Pak Dirga, akhirnya sebentar lagi jadi Ayah."


"Selamat Pak, semoga anak-anaknya sehat sampai nanti Bu Bianca melahirkan."


"Selamat Pak, saya ikut bahagia Pak Dirga akan punya anak kembar."


Rentetan ucapan selamat terus di berikan padaku dan juga Bianca setelah acara syukuran 4 bulanan selesai. Hampir 80 % karyawan di kantor menyempatkan untuk hadir ke acara syukuran ini.


Mulai dari security, OB, staff, karyawan biasa dan beberapa pejabat penting di perusahaan.


Aku dan Bianca larut dalam kebahagiaan selama acara berlangsung. Terlebih acaranya berjalan dengan lancar dan penuh haru. Beberapa tamu undangan terlihat ikut menangis saat Bianca menceritakan bagaimana dia berjuang untuk bisa berada di titik saat ini, yaitu mengandung buah cinta kami.


Pukul 17.30, satu persatu tamu mulai pamit pulang. Kini hanya menyisakan keluarga besar kami.


"Do'a Mamah yang terbaik untuk kehamilan kamu nak,," Ucap Mama mertuaku yang baru saja duduk di samping Bianca. Perempuan berusia 55 tahun itu mengusap perut Bianca dengan mata berkaca-kaca. Sejak di beri kabar tentang kehamilan putrinya, Mama mertuaku itu memang gampang menangis setiap kali membicarakan soal kehamilan Bianca. Mungkin karna beliau sangat terharu dan bahagia melihat putrinya telah diberi kepercayaan untuk hamil.


"Semoga kedua cucu Mama selalu sehat sampai terlahir ke dunia." Ucapnya lagi.


Bianca mengangguk dan memeluk sang Mama.


"Dirga,," Kini Mama mertua beralih padaku.


"Terimakasih sudah bertahan dengan putri Mama. Terimakasih mau berjuang bersama."

__ADS_1


"Di saat banyak suami yang lebih meninggalkan istrinya ataupun mencari wanita lain untuk mendapatkan keturunan, kamu justru masih setia pada Bianca." Ujarnya penuh haru dan ketulusan dalam berterimakasih padaku.


Aku membisu, meski tau kalau Mama mertuaku benar-benar tulus mengatakan semua itu padaku, tapi ucapannya seperti tamparan keras untukku.


Seandainya beliau tau bahwa aku pernah melukai hati putrinya, seandainya beliau tau jika aku telah menodai pernikahan kami, mungkin beliau tidak akan berterimakasih dan mengucapkan semua itu padaku.


"Jangan berterimakasih padaku Mah, Semua ini berkat Bianca. Bianca yang membuatku mampu bertahan dalam keadaan apapun."


"Putri Mama sangat luar biasa, aku beruntung memilikinya." Aku meraih tangan Bianca dan menggenggamnya. Ku tatap dalam kedua manik mata Bianca, rasanya ingin sekali menunjukkan seluruh cintaku padanya.


"Intinya kalian berdua sama-sama luar biasa. Kalian mau berjuang bersama, saling menguatkan satu sama lain sampai akhirnya bisa berada di titik ini." Ujar Mama mertua dengan rasa haru dan bangga.


...*****...


Pukul 6 sore aku dan Bianca masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju dengan baju santai.


"Mas, dari tadi aku nggak liat Kaylin. Dia kemana ya.?" Tanya Bianca yang kini berdiri di sampingku.


"Aku mau minta foto di handphone dia. Tapi Kaylin sempat foto kita berdua." Tuturnya lagi.


"Mas juga nggak kiat Dek. Lagi di atas mungkin, di telfon aja." Jawabku yang memang tidak tau keberadaan anak itu. Bahkan aku hanya melihat Kaylin beberapa kali saja selama acara berlangsung.


"Kalau bisa di telfon, aku juga nggak bakal tanya sama kamu Mas. Dari tadi telfonku nggak di angkat. Di kamarnya juga nggak ada." Bianca tampak gusar., padahal hanya perkara ingin meminta hasil jepretan di ponsel Kaylin. Nanti malam ataupun besok juga masih bisa. Apalagi Kaylin akan tinggal bersama kami karna dia akan bekerja di kantor yang sama denganku.


"Nanti kalau Mas lihat dia, langsung Mas suruh ke sini." Ujarku agar Bianca tidak lagi menanyakan Kaylin.


"Sekarang kamu ganti baju dulu, pasti gerah dan nggak nyaman."


"Mau Mas gantiin.?" Tawarku dengan sedikit mengedipkan mata, sengaja untuk menggodanya.


"Makasih, yang ada nanti nggak selesai-selesai." Jawabnya sembari melengos dan masuk ke walk in closet.

__ADS_1


Aku terkekeh gemas melihat ekspresi wajahnya yang sedang kesal tapi terlihat lucu.


__ADS_2