
Hampir semalaman aku tidak bisa tidur. Kepalaku terasa nyeri dan badan sedikit panas. Meski selama sudah meminum obat, tapi pagi ini kondisiku masih belum fit.
Aku baru saja mengirimkan pesan pada Mas Agam untuk ijin tidak masuk ke kantor pagi ini.
Tidak mungkin aku memaksakan diri pergi ke kantor dalam keadaan lemas dan kepala yang terasa akan pecah.
Aku meletakan ponsel di nakas dan hendak keluar dari kamar untuk meminum air hangat. Tapi tiba-tiba ponselku berdering dan terlihat nama Mas Agam pada layar ponselku.
"Baby,, are you okay.? Apa perlu aku antar ke dokter.?" Serunya begitu panggilan tersambung. Suara Mas Agam terdengar cemas. Aku mengukir senyum tipis, suasana hatiku tiba-tiba menghangat setelah mendengar suara Mas Agam.
"Nggak perlu Mas, Bia cuma nggak enak badan aja kok."
"Boleh kan hari ini Bia nggak masuk.?" Tanyaku tak enak hati. Pasalnya hari ini ada rapat penting, seharusnya sebagai sekretaris Mas Agam, aku mendampinginya selama rapat berlangsung.
"Nggak masalah Bi. Tapi aku mencemaskan mu,"
"Yakin nggak perlu ke dokter.?" Tanyanya memastikan. Jelas sekali kalau Mas Agam sangat mencemaskan ku. Dan itu semakin membuatku bisa merasakan ketulusan Mas Agam padaku.
"Yakin Mas, Bia hanya perlu minum obat dan istirahat aja." Ujarku berusaha meyakinkan Mas Agam agar dia tidak terlalu mencemaskan ku. Jangan sampai pekerjaannya terganggu hanya karna memikirkan keadaanku.
"Ya sudah, kabari aku kalau kamu butuh sesuatu. Aku akan pulang lebih awal untuk menemanimu."
Mendengar hal itu, aku merasa sangat senang karna Mas Agam menjadikanku prioritasnya dengan memilih pulang lebih awal. Sedangkan aku tau pekerjaan Mas Agam hari ini sangat banyak. Dia bahkan harus bertemu dengan klien setelah rapat.
"Jangan khawatir Mas, selesaikan saja pekerjaan Mas Agam. Jangan sampai kondisiku mengganggu pekerjaan kamu Mas. Kondisiku tidak separah itu, jadi jangan cemas."
Meski sudah meyakinkan Mas Agam, tapi tetap saja pria itu bersikeras untuk pulang lebih awal demi bisa menemui ku.
Karna jika dia pulang sesuai jam kerja, sudah pasti tidak akan bisa menemui ku di rumah lantaran Mas Dirga juga pasti sudah pulang.
"Hati-hati berangkatnya Mas,," Ucapku setelah Mas Agam pamit untuk siap-siap ke kantor.
"Hmm."
"I love you Baby,," Suara deep Mas Agam membuat pipiku merona. Untung saja hanya melalui panggilan telfon. Kalau bertatap muka, pasti saat ini aku tak berani mengangkat wajahku untuk menatap Mas Agam.
"I love you too." Aku menjawab pelan karna malu.
__ADS_1
Kami mengakhiri panggilan. Aku beranjak keluar kamar untuk pergi ke dapur. seperti selain harus minum air hangat, aku harus sarapan dan minum obat agar kondisiku membaik.
Sepertinya permasalahan rumah tangga ini yang membuat kesehatanku tiba-tiba menurun.
Sejujurnya masalah ini memang mengganggu pikiranku. Itu sebabnya semalam aku kesulitan tidur.
Aku sedikit terkejut melihat Mas Dirga berdiri di depan kamarku dengan membelakangi pintu. Dia hampir saja berlalu dari sana.
"Mas,, kamu sedang apa.?" Tanyaku panik. Seandainya sejak tadi Mas Dirga berdiri di sini, pasti dia mendengarkan ucapanku saat menerima telfon dari Mas Agam.
Mas Dirga menoleh, sudut bibirnya terangkat. Dia mengukir senyum sangat tipis sebelum akhirnya berbicara denganku.
"Sudah bangun Dek.?" Tanyanya tanpa me jawab pertanyaanku lebih dulu. Jelas sekali kalau Mas Dirga berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku jadi semakin yakin kalau dia memang mendengarkan ucapanku.
"Kamu belum siap-siap.?"
"Mas udah beli sarapan. Kamu mau makan dulu atau mandi dulu.?" Dengan tatapan teduh dan suara lembut, Mas Dirga sedang berusaha menunjukkan perhatiannya padaku.
Sepertinya dia ingin membuatku luluh lagi padanya. Tapi sudah terlambat, karna saat ini hatiku lebih condong pada Mas Agam.
"Kamu sakit Dek.? Kenapa baru bilang sama Mas.?"
"Kita ke dokter sekarang ya.?" Tanyanya yang kini sudah mencegah langkahku dengan berdiri di hadapanku.
"Aku baik-baik aja Mas, nggak perlu pura-pura cemas." Aku bergeser dan melewati Mas Dirga.
"Mas nggak pura-pura Dek." Mas Dirga mencekal pergelangan tanganku.
"Badan kamu panas." Ujarnya setelah bersentuhan denganku.
"Ayo ke dokter sekarang,, muka kamu juga sedikit pucat." Bujuknya. Aku menepis pelan tangan Mas Dirga.
"Mas,, Please.!" Sentakku yang merasa lelah berhadapan dengan Mas Dirga.
"I'm fine. Biarkan aku sendiri.!" Aku mengabaikan Mas Dirga setelah mengatakan itu.
Pergi ke dapur untuk mengambil roti, buah dan air hangat serta obat, aku kembali masuk ke dalam kamar. Mas Dirga hanya diam berdiri dan menatapku pasrah tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
Aku tau dia terluka dengan sikapku. Sayangnya, aku jauh lebih terluka dengan kebohongannya.
Seandainya dia tidak menjalin hubungan dengan wanita itu, sekarang hubungan kami pasti masih baik-baik saja dan harmonis. Aku juga tidak perlu mencari kenyamanan dan kebahagiaan di tempat lain. Tapi nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi. Maka tidak perlu untuk di sesali.
...*****...
Dirga POV
Menunggu di depan pintu kamar Bianca, aku berharap dia keluar dari kamar.
Pasalnya sejak terakhir keluar dari kamar tadi pagi, Bianca terus mengurung diri di dalam sampai sekarang hampir pukul 12 siang.
Aku yang cemas dengan kondisi Bianca, memilih untuk tidak berangkat ke kantor. Untung saja Pak James memberiku ijin. Mungkin karna kemarin aku berhasil menyelesaikan permasalahan di kantor pusat.
"Dek,, buka pintunya sayang,," Setelah beberapa jam, aku memberanikan diri untuk bicara dan mengetuk pintu kamar Bianca.
Sejak tadi aku menahan diri karna takut membuat Bianca semakin marah padaku.
"Udah siang, kamu harus makan siang."
"Apa mau Mas bawakan makanannya ke kamar.?" Seruku yang tak kunjung mendapatkan jawaban darinya.
Tak lama Bianca membuka pintu. Wajahnya terlihat lebih segar, tidak pucat seperti tadi pagi.
"Mas,, please nggak usah bersikap seolah-olah kita baik-baik saja. Aku nggak menginginkan perhatian apapun lagi dari kamu Mas." Nada bicara Bianca begitu memohon. Begitu juga dengan sorot matanya yang terlihat enggan menerima perhatian lagi dariku.
Ya Tuhan,, rasanya benar-benar sesak mendengar Bianca bicara seperti itu padaku.
"Kamu benar-benar nggak bisa maafin Mas dan kasih kesempatan Dek.?"
"Mas nggak mau pisah sama kamu. Cuma kamu satu-satunya wanita yang Mas cintai Dek. Sejak 6 tahun lalu sampai detik ini." Aku berlutut di hadapan Bianca. Air mataku kembali luruh. Sejak Bianca meminta cerai, aku jadi sangat rapuh seperti ini.
"Jangan tinggalin Mas Dek, Mas mohon."
Demi apapun, kehilangan Bianca tak pernah terlintas dalam pikiranku selama ini.
Aku benar-benar menyesal telah melakukan kesalahan padanya.
__ADS_1