
Aku tersenyum kecut membaca pesan yang di kirimkan oleh Mas Dirga 5 jam lalu. Dia pikir aku akan percaya dengan ucapannya itu.!
Mungkin saja saat ini Mas Dirga sedang bersenang-senang melewati malam panas bersama selingkuhannya. Seperti beberapa waktu lalu saat Mas Dirga pamit tugas ke Jakarta, tapi nyatanya malah pergi bersama wanita itu.
Lagipula Mas Dirga mau pulang atau tidak, saat ini aku tak akan peduli lagi.
Dengan memutuskan untuk mengakhiri pernikahanku, sudah seharusnya aku tak lagi peduli pada apa yang di lakukan oleh Mas Dirga di luar sana.
Kembali mematikan ponsel dan meletakkannya di atas meja makan. Sedikitpun aku tak berniat membalas pesan dari Mas Dirga. Karena saat ini apa yang di lakukan oleh Mas Dirga di luar sana bukan lagi menjadi urusanku.
Sudah cukup beberapa minggu terakhir aku seperti orang bodoh yang menahan sakit hati karna melihat suamiku bersama wanita lain. Sudah saatnya aku melepaskan semuanya, semua beban dan rasa sakit hati yang di torehan oleh Mas Dirga padaku.
Pria yang selama lebih dari 6 tahun terakhir menjadi satu-satunya tempat untuk bergantung dan bersandar, kini telah menghancurkan kepercayaanku.
Aku mengambil 2 piring berisi makanan yang akan aku bawa ke rumah Mas Agam.
Beberapa menit yang lalu aku baru saja membuatkan makanan kesukaan Mas Agam sesuai permintaannya. Pria itu juga yang memintaku untuk makan malam bersama di rumahnya.
"Kenapa lama sekali hmm.?" Mas Agam memelukku dari belakang tanpa permisi. Untung saja aku sudah meletakkan piring di atas meja makan miliknya.
"Mas, makan dulu.!" Tegur ku. Aku mencegah tangan nakal Mas Agam yang bergerak naik.
"Oke Baby, aku akan duduk dengan tenang kali ini." Mas Agam melepaskan pelukannya dan tersenyum menggoda sebelum akhirnya menempati salah satu kursi.
Aku menyusul dengan duduk di sampingnya.
"Kamu selalu enak, aku sangat menyukainya." Ucap Mas Agam setelah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Aku melotot, menegur Mas Agam dengan melayangkan pukulan di lengannya. Ucapannya benar-benar meresahkan dan pikiranku seketika gelisah.
"Eh maaf Baby,, maksudku masakan kamu selalu enak." Ralat Mas Agam meski aku tau ucapan yang pertama memang di sengaja untuk menggodaku.
Kami melewatkan makan malam dengan menyelipkan obrolan ringan. Sesekali candaan Mas Agam membuatku terkekeh geli.
__ADS_1
Kedekatan kami yang semakin intim dan intens, membuat perasaanku pada Mas Agam semakin tidak terkendali dan menggebu.
Rasanya aku ingin buru-buru lepas dari Mas Dirga dan menata hati serta hidupku bersama Mas Agam. Menutup dan mengobati luka yang sedang menganga di dalam hati akibat kebohongan Mas Dirga di belakangku.
...*****...
"Eughh,,, Mass,,," Tubuhku menegang, hawa di dalam kamar utama ini terasa semakin panas seiring dengan gairah yang memuncak.
Aku menggigit bibir bawah untuk menahan de Sa han agar tidak terlalu memenuhi kamar.
Kedua tanganku meremas rambut dan punggung Mas Agam dengan kuat, tapi pria gagah itu seolah tidak merasakan sakit. Dia semakin menenggelamkan kepalanya di bawah sana.
Dengan posisi setengah duduk dan bersandar pada kepala ranjang, kedua manik mataku menangkap jelas apa yang sedang di lakukan oleh Mas Agam. Aku tidak tau kenapa pira itu selalu mengincar benda di bawah sana dan membuatku blingsatan tidak karuan seperti ini karna merasakan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Jangan di tahan Baby,,," Ucap Mas Agam yang kembali menggerakkan lidahnya. Satu tangannya tak tinggal diam, me re Mas dan memainkan pucuk bukit dengan sedikit kasar hingga menimbulkan sensasi yang membuatku seakan melayang tinggi.
Beberapa menit berlalu, tubuhku di buat bergetar dan melenguh panjang. Sesuatu di bawah sana di buat meledak hebat.
Nafasku terengah-engah. Aku berusaha untuk mengatur nafasku setelah mendapatkan pelepasan pertama.
"Mau minum.?" Tawarnya dengan suara lembut. Sejak tadi pria itu juga mengusap pucuk kepalaku penuh kasih sayang dan sorot mata dalam.
Aku mengangguk, Mas Agam kemudian beranjak dari ranjang dengan hanya memakai celana pendek. Dia pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.
"Kamu sangat seksi,," Aku tersipu malu mendengar Mas Agam bicara seperti itu sembari menatap ku yang tengah meneguk air mineral darinya.
Mas Agam melepaskan ****** ***** dan kain yang tersisa di tubuhnya. Melihat hal itu, aku tak tinggal diam. Kini giliranku membalas rasa nikmat yang tadi di berikan oleh Mas Agam padaku.
Mas Agam melenguh, suara de Sa hannya yang seksi dan maskulin membuat gairahku kembali memuncak.
"Aahhg,, stop it Baby. I want you." Ucap Mas Agam.
"Naik sekarang.!" Pintanya dengan suara yang semakin serak dan berat. Wajah dan sorot mata Mas Agam di penuhi kabut gairah.
__ADS_1
Aku bergerak liar di atas tubuh Mas Agam. Entah sejak kapan aku jadi wanita rendahan seperti ini bak ja lang yang sedang melayani pelanggannya.
Tapi yang jelas bayangan Mas Dirga bersama wanita itu telah menutup akal sehatku hingga aku berani berbuat sejauh ini.
Dan entah sudah berapa kali Mas Dirga meniduri selingkuhannya selama ini.
De Sa han kami saling bersautan memenuhi kamar. Membuat percintaan ini terasa semakin panas.
Mas Agam terus menatap lekat wajahku dengan penuh damba. Kedua tangannya berada di belakang punggungku, mengusap lembut dan sesekali meremasnya pelan.
Kini satu tangannya berpindah ke wajahku, mengusap lembut dan menyeka keringat yang membasahi pelipis.
Tubuhku ambruk di atas tubuh Mas Agam. Entah berapa lama kami melakukan penyatuan penuh kenikmatan itu. Mas Agam memelukku erat, membuatku semakin membenamkan wajah di dada bidangnya.
"Thank you Baby,," Bisiknya lembut.
"I love you,," Wajahku sontak merona, untung saja Mas Agam tidak bisa melihat wajahku saat ini.
"I love you too." Jawabku malu.
Aku sedikit bergeser dari atas tubuh Mas Agam karna dia akan melepaskan pelindungnya.
Untuk kedua kalinya kami melakukan perbuatan terlarang ini, dan Mas Agam selalu memakai pelindung itu.
Aku tidak bertanya kenapa Mas Agam memakai itu, tapi aku sudah bisa menemukan jawabannya sendiri.
Dengan statusku yang masih menjadi istri orang lain, tentu saja Mas Agam enggan membuatku hamil lebih dulu.
Dalam keadaan tubuh kami yang masih polos, aku memeluk Mas Agam di bawah selimut yang sama. Begitu juga dengan Mas Agam, dia mendekap ku erat dan berkali kali mengecup keningku.
"Jangan pernah akhiri kegilaan ini Bia." Pintanya memohon.
"Aku hanya menginginkan kamu saat ini dan seterusnya." Sebuah kecupan kembali mendarat di keningku. Aku mendongak untuk menatap mata Mas Agam. Pria itu sedang menatapku lekat.
__ADS_1
Kau mengiyakan permintaan Mas Agam. Sama halnya dengan Mas Agam, aku juga menginginkan hal yang sama untuk hubungan kami.
Malam ini untuk pertama kalinya aku tidur di rumah Mas Agam dan menjadi selimut terhangat nya.