Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 39


__ADS_3

Berada di dalam ruang kerja sendirian, sesekali ku lirik ke arah meja kerja Mas Agam yang kosong. Hari ini dia tidak datang ke kantor lantaran sedang menghadiri sidang perceraiannya dengan Mbak Karina. Mas Agam begitu mantap untuk menceraikan Mbak Karina, begitu juga dengan Mbak Karina yang memang terang-terangan meminta cerai dari Mas Agam.


Menurut cerita Mas Agam, rumah tangga mereka sudah renggang sejak 1 tahun yang lalu. Tepatnya setelah Mbak Karina memilih untuk berselingkuh dengan mantan kekasihnya.


Perjodohan membuat mereka tak bisa saling mencintai. Meski awalnya Mas Agam berusaha untuk membuka hati pada Mbak Karina. Sayangnya setelah mengetahui pengkhianatan Mbak Karina, Mas Agam mencabut benih cinta di hatinya yang baru saja bertunas. Jadi hampir selama 1 tahun ini mereka berdua menjalani pernikahan tanpa adanya cinta.


Terkadang aku tak habis pikir dengan rumah tangga seperti itu. Entah bagaimana mereka bisa menjalani pernikahan tanpa adanya cinta. Tapi memilih untuk tetap menjalaninya meski pada. akhirnya memang berakhir dengan perpisahan.


Getar ponsel di atas meja mengakhiri lamunanku. Senyum di bibir reflek mereka saat mendapati nama Mas Agam tertera di layar ponselku.


Tanpa pikir panjang aku langsung mengangkatnya.


"Halo Mas,,," Aku menyapanya antusias. Sepertinya akhir-akhir ini aku semakin tidak waras karna terus teringat dengan Mas Agam setiap waktu. Bahkan saat sedang bersama Mas Dirga sekalipun, bayangan wajah Mas Agam yang menawan itu muncul di kepala.


"Sidang sudah selesai. Aku akan datang ke kantor sekarang. Kamu mau di beliin apa.?" Suara lembut itu terdengar berkharisma. Jantungku sampai berdetak kencang membayangkan ekspresi Mas Agam saat bicara seperti itu.


Aku langsung meminta Mas Agam untuk membelikan minuman kesukaan ku.


"Makanannya apa.? Kalau minuman itu aku sudah beli." Ujarnya.


Aku semakin terperangkap dalam perhatian-perhatian kecil yang di berikan oleh Mas Agam padaku. Tanpa aku minta, Mas Agam sudah membelikan boba kesukaanku.


"Makanannya terserah Mas aja. Sebenernya Bia masih kenyang, tadi makan lumayan banyak pas istirahat."


Mas Agam menuruti perkataanku, lalu dia memutuskan panggilan teleponnya.


30 menit kemudian, pintu ruangan terbuka. Tampak Mas Agam masuk dengan membawa paper bag di tangannya. Setelah menutup pintu dan menguncinya, Mas Agam berjalan ke ruangan ku.

__ADS_1


"Kalau kangen peluk aja, nggak usah gengsi." Mas. Agam menyindir. Dia menarik kursi untuk duduk di sampingku.


Aku menegur dengan memukul pelan tangannya.


"Minum dulu, jangan terlalu tegang menyelesaikan pekerjaan." Mas Agam menyodorkan minuman padaku dengan sedotan yang sudah dia tancapkan.


"Makasih Mas,," Aku langsung menyeruputnya dan meletakkan di atas meja.


"Nggak tegang, cuma pusing aja karna laporannya banyak yang harus aku revisi." Keluh ku.


"Jangan khawatir, nanti aku bantu." Mas Agam mengusap lembut pucuk kepalaku. Tapi sebelah tangannya mengambil minumanku dan menyeruputnya begitu saja dengan santai.


"Kok diminum.? Itu kan bekas Bia, Mas."


"Cuma bekas bibir. Kamu lupa kita sudah sering tukar saliva." Jawabnya enteng.


Lebih dari 2 jam Mas Agam duduk di sampingku, dia benar-benar membantu menyelesaikan pekerjaanku.


Aku juga menanyakan tentang sidang perceraiannya dengan Mbak Karina. Dan saat ini Mas Agam sudah resmi menduda. Hakim langsung memutuskan mereka bercerai karna saat di persidangan tadi, Mbak Karina mengakui dirinya sedang mengandung anak dari selingkuhan. Dia juga menuturkan sudah menyiapkan pernikahan mereka. Jadi tak ada alasan untuk mediasi. Karna tidak mungkin pernikahan mereka di pertahankan dengan keadaan Mbak Karina yang mengandung anak dari laki-laki lain.


...*****...


"Maaf Dek, hari ini Mas nggak pulang karna mendadak harus pergi keluar kota, mengunjungi kantor pusat. Kemungkinan 2 hari Mas baru bisa pulang."


"Tadi Mas ke rumah cuma buat ambil baju."


Aku termangu mendengar suara Mas Dirga dari seberang sana. Sudah 3 kali dia janji akan menjemput ku saat pulang kerja, tapi selalu saja ada alasan untuk batal menjemput ku.

__ADS_1


Setelah 2 hari lalu membatalkannya dengan alasan ada masalah di kantor tapi ternyata aku malah memergokinya pergi bersama wanita itu,. sekarang menggunakan alasan akan pergi ke luar kota.


"It's oke, hati-hati jalan Mas. Maaf nggak bisa siapin keperluan kamu." Lirih ku.


"Ini mendadak sayang, nggak masalah." Sahutan Mas Dirga hanya menjadi angin lalu. Aku langsung memutuskan panggilan telfonnya.


"Kenapa.?" Suara berat Mas Agam membuatku tersentak dari lamunan penuh amarah.


"Apa tawarannya masih berlaku.?" Tanyaku. 30 menit yang lalu Mas Agam menawariku untuk pulang bersama. Tapi aku menolak karna memilih untuk di jemput oleh Mas Dirga. Tapi ternyata suamiku itu malah mendadak pergi ke luar kota.


Entah benar-benar urusan pekerjaan, atau hanya alasan palsu saja agar bisa menghabiskan waktu bersama selingkuhannya.


"Aku bilang juga apa, nggak usah berharap Dirga akan menjemput kamu.!" Nada bicara Mas Agam meninggi dan tegas. Ekspresi wajahnya tampak kesal, dan aku tidak tau apa yang membuatnya jadi seperti itu.


"Ayo pulang,," Mas Agam menggandeng tanganku, kami keluar dari ruangan dan masuk ke dalam lift untuk turun ke basement.


"Sampai kamu mau menunggu Dirga jujur.?"


"Apa bukti yang kamu dapatkan belum cukup.?"


"Memang ada kemungkinan dia akan jujur padamu, tapi mungkin saja dia akan jujur setelah mantap untuk bertahan dengan selingkuhannya."


"Kalau sampai itu terjadi, rasa sakitnya akan jauh lebih besar dari yang kamu rasakan saat ini." Mas Agam berucap tegas tanpa ekspresi. Tapi tatapan matanya sangat tajam.


Aku hanya menarik nafas dalam. Aku tau diam ku akan membuat hubunganku dan Mas Dirga semakin tak punya arah. Dan yang pasti membuatku merasa jengah menjalani hari-hariku karna harus berpura-pura tidak tau dengan kebohongan Mas Dirga di belakangku.


Bahkan setiap hari aku memendam kekecewaan dan amarah pada Mas Dirga karna tak bisa melupakannya.

__ADS_1


__ADS_2