
Bianca Pov
Aku memutuskan tetap datang ke kantor walaupun sesekali perutku terasa mual dan ingin memuntahkan isinya. Pekerjaan milikku harus segera di selesaikan, aku juga akan bicara pada Mas Agam mengenai pengunduran diriku menjadi sekretarisnya. Dan setelah itu aku harus memberi tau Mas Agam soal kehamilan ini, lalu mengakhiri hubungan yang memang tidak seharusnya di pertahankan. Kalaupun aku tidak hamil, hubunganku dengan Mas Agam pasti tidak mudah. Akan sulit bagi kami untuk mendapatkan restu dari Pak Airlangga.
"Pagi Baby,,," Aku reflek menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara maskulin yang menyapaku.
Pria dengan setelan jas itu berjalan ke arahku yang tengah merapikan berkas di atas meja kerja miliknya. Senyum Mas Agam mengembang sempurna, matanya tampak berbinar menatapku.
Sementara, aku memilih diam di tempat tanpa memberikan respon apapun. Pikiranku seketika berkecambuk, entah harus memulai dari mana untuk mengatakan semuanya pada Mas Agam. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya jika aku memintanya untuk mengakhiri hubungan kami. Aku tau dia serius dan tulus mencintaiku, pasti tidak akan mudah baginya untuk mengakhiri hubungan kami yang terlarang ini.
"Aku merindukan kamu, Bi,," Ucapnya yanga langsung menarik ku dalam dekapan. Mas Agam memelukku erat, aku tak kuasa menahan kesedihan dan rada sakit yang datang bersamaan. Ini juga akan menjadi keputusan yang berat bagiku, karna sejujurnya aku juga sangat mencintai Mas Agam.
Seolah hanyut dalam dekapan Mas Agam yang hangat dan menenangkan, aku balas memeluk Mas Agam dengan erat. Sepertinya pelukan ini akan menjadi pelukan kami yang terakhir karna setelah ini aku akan mengakhiri kekeliruan ini.
Suara gebrakan pintu yang di buka kasar, membuat kami langsung melepaskan pelukan. Aku terkejut melihat Pak Airlangga yang sudah berjalan ke arah kami. Seketika aku menundukkan wajah, tak berani menatap matanya yang begitu tajam penuh amarah.
"Jadi wanita itu yang membuat kamu bersikeras menolak Arumi.?!!" Sentaknya.
"Pah,, pelankan suaranya." Pinta Mas Agam memohon.
"Apa hebatnya wanita seperti itu.?!! Dia sudah bersuami, Agam.!!" Aku sangat terkejut dan memberanikan diri menatap ke marah Pak Airlangga. Entah dari mana dia tau kalau aku sudah bersuami, bahkan Mas Agam merahasiakan statusku saat aku di jadikan sebagai sekretarisnya.
"Kamu jangan bodoh dan tergoda dengan rayuan wanita murahan seperti itu.!!" Pak Airlangga mengarahkan telunjuknya padaku.
Perkataannya mampu mengiris hati, meski aku sadar bahwa aku memang wanita murahan. Tapi mendapatkan hinaan dari orang lain sungguh membuatku sangat hancur.
__ADS_1
"Pah,!! Jaga ucapan Papa.!! Bianca nggak seperti yang Papa pikirkan.!" Bentak Mas Agam. Dia berusaha menjaga nama baik dan kehormatanku di depan Pak Airlangga, bahkan sampai membentaknya.
"Kamu berani membentak Papa demi membela wanita itu.?!!" Tatapan Mata Pak Airlangga semakin tajam dan penuh amarah. Aku kembali menundukkan kepala dengan air mata yang sudah membanjiri pipi. Rasa sakit akibat hinaan Pak Airlangga membuatku tak bisa membendung air mata. Pak Airlangga telah menyadarkan ku begitu murahan dan hinanya aku sebagai istri yang tidak mampu menjaga kehormatannya.
"Ingat Agam.!! Wanita yang baik nggak mungkin menjalin hubungan dengan pria lain selama dia masih menjadi istri orang.!!" Sentaknya.
"Ini bukan salah Bianca Pah.!! Aku yang mendekati Bianca dan memintanya untuk menjalin hubungan denganku karna aku mencintainya.!" Mas Agam berucap tegas penuh penekanan.
"Kalau dia wanita baik-baik, dia pasti akan menolak kamu, bukan malah sebaliknya.!!"
"Omong kosong tentang cinta.!! Kamu jadi bodoh di balik kata cinta untuk wanita itu.!"
"Akhiri semuanya.!! Atau Papa tidak akan menganggap mu sebagai anak.!"
"Kamu boleh angkat kaki dari perusahaan ini dan tidak akan mendapatkan apapun.!"
"Baik.! Kalau itu yang Papa mau.!!" Jawab Mas Agam dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun. Aku menatapnya dan menggelengkan kepala, meminta Mas Agam untuk tidak melakukan hal itu. Tapi sepertinya sia-sia karna Mas Agam mengabaikanku.
"Papa pikir aku nggak bisa berdiri kaki sendiri.!!" Bentak Mas Agam lagi.
"Mas.! Hentikan." Pintaku memohon. Air mataku semakin deras, rasa bersalah semakin menyelimuti.
Mas Agam satu-satunya anak Pak Airlangga, aku tidak mungkin membuat orang tua kehilangan anak satu-satunya.
"Kau lihat.!! Putraku sampai berubah jadi anak yang tidak tau diri gara-gara kamu.!" Seru Pak Airlangga dengan sorot mata penuh amarah dan kekecewaan.
__ADS_1
Detik itu juga aku langsung berlutut di depan Pak Airlangga dan meminta maaf padanya.
"Maafkan saya Pak."
"Bia,, apa yang kamu lakukan,," Mas Agam berusaha menarik ku untuk berdiri, tapi aku tetap bersimpuh di kaki Pak Airlangga.
"Saya akan mengakhiri hubungan dengan Pak Agam dan akan mengundurkan diri dari perusahaan ini. Saya bersumpah tidak akan pernah muncul di hadapannya lagi."
"Saya sadar apa yang kami lakukan salah, itu sebabnya detik ini juga kami akan mengakhiri semuanya." Ucapku di tengah isak tangis yang semakin pilu dan menyakitkan.
Keputusan ini memang tepat dan akan menjadi yang terbaik untuk kami berdua, tapi aku tidak bisa memungkiri bahwa hatiku terluka dan hancur.
"Bagus, memang seharusnya seperti itu.! Kamu harus sadar diri, tidak sepantasnya wanita yang sudah beristri bersanding dengan anak saya.!" Respon Pak Airlangga membuat hatiku kembali diremas.
"Nggak Bi, aku nggak akan mengakhiri hubungan kita.!" Pekik Mas Agam dan dengan paksa memintaku untuk berdiri. Dia bahkan menghapus air mataku dan hampir membawaku dalam dekapannya, tapi bergeser menjauh, tidak mau membuat Pak Airlangga semakin menjadi-jadi.
"Sejak awal hubungan kita sudah salah Mas. Aku memang sudah berencana untuk mengakhiri hubungan kita. Aku juga akan mengundurkan diri." Ucapanku membuat Mas Agam menggeleng cepat. Dia terlihat kaget mendengar keputusanku.
"Aku nggak akan lepasin kamu Bi.!" Tegas Mas Agam dengan tatapan menusuk.
"Papa nggak mau tau Gam.!! Kamu harus mengakhiri hubungan dengan wanita ini dan menikah dengan Arumi.! Atau angkat kaki dari perusahaan ini dan jangan pernah menampakkan wajah di depan Papa ataupun Mama mu.!" Setelah mengatakan semua itu, Pak Airlangga berlalu dari ruangan kami dan menutup pintu dengan kasar.
Mas Agam mengusap kasar wajahnya. Dia tampak frustasi dan kacau.
Duduk bersebelahan di kursi, kami saling diam beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Aku sedang mengandung anak Mas Dirga." Lirihku. Pada akhirnya aku mengatakan apa yang sejak tadi ingin aku sampaikan pada Mas Agam. Dia harus tau kenapa aku bersikeras untuk mengakhiri hubungan kami.