Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 68


__ADS_3

Aku berjalan menghampiri mobil Mas Dirga yang terparkir di depan kantor. Pria itu berdiri di samping mobil dan menatap lurus ke arahku Dengan sorot mata dalam.


"Maaf agak telak Dek, tadi macet." Tuturnya meski aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.


Aku menganggukkan kepala sebagai respon.


"Ayo masuk Dek,," Dengan senyum yang merekah sempurna, Mas Dirga membukakan pintu mobil untukku.


Bergegas naik, aku hanya mengukir senyum tipis saat itu. Meski Mas Dirga memperlakukan ku dengan penuh kelembutan dan perhatian, tapi tak bisa di pungkiri perasaanku tak lagi sama seperti dulu saat menerima bentuk perhatian darinya.


Jika dulu aku merasa sangat bahagia dan merasa menjadi istri paling beruntung karna memliki suami yang penuh perhatian dan selalu memperlakukanku dengan lembut, kali ini tidak lagi. Karna semua perhatian dan kelembutan yang di miliki oleh Mas Dirga bukan hanya untukku saja.


"Apa kamu mau makan sesuatu Dek.?"


"Bagaimana kalau mampir sebentar ke kafe.?" Tawarnya setelah ikut masuk ke dalam mobil.


Mas Dirga tampak sedang berusaha untuk membalikkan keadaan agar seperti semula, atau mungkin memang murni untuk menciptakan kenangan manis sebelum berpisah.


Aku menolak dengan gelengan kepala.


"Langsung pulang saja, perutku sedikit nggak nyaman." Jawabku seraya menyenderkan badan di jok mobil.


Pikiranku kacau semenjak kedatangan Arumi. Kondisi perutku yang sedikit mual sepertinya akibat aku terlalu memikirkan kelanjutan hubunganku dengan Mas Agam.


"Kamu sakit.?Atau mau datang bulan.?" Mas Dirga menoleh dengan ekspresi cemas.


Aku reflek menggeleng, tapi kemudian terkejut setelah mengingat jadwal tamu bulananku.


"Ya ampun,,!" Pekikku yang buru-buru mengambil ponsel di dalam tas untuk membuka aplikasi kalender menstruasi.


Sekarang sudah tanggal 12, kalau tidak salah menstruasi terakhirku tanggal 5 di bulan lalu. itu artinya aku sudah telat selama 1 minggu.


"Dek.? Kamu kenapa.? Ada yang ketinggalan di kantor.?" Pertanyaan Mas Dirga masih bisa aku dengar, tapi karna sibuk membuka aplikasi untuk memastikan, aku jadi tidak menanggapi ucapannya.


Tanganku bergetar melihat kalender menstruasi di ponselku. Ada perasaan bahagia yang tiba-tiba menyelimuti, entah kenapa aku sangat yakin jika saat ini aku sedang hamil. Karna selama ini aku selalu haid dengan teratur.

__ADS_1


"Dek, kamu kenapa.? Jangan bikin Mas khawatir." Tanyanya Mas Dirga lagi. Kali ini aku menoleh, dan baru sadar kalau mobil sudah tidak bergerak lagi karna Mas Dirga menepikan mobilnya.


"Mas,, bisa mampir sebentar ke apotik.?" Tanyaku dengan suara bergetar. Perasaanku benar-benar bercampur aduk, padahal belum memastikan dugaanku.


"Mau beli apa Dek.? Kalau mau beli obat, sebaiknya langsung ke dokter saja." Ujarnya yang masih mengira kalau aku sedang sakit dan ingin membeli obat di apotik.


"Bukan beli obat, aku cuma mau beli sesuatu." Jawabku yang langsung mendapatkan persetujuan dari Mas Dirga. Dia kembali melajukan mobilnya dan berhenti di apotik terdekat.


"Mas tunggu disini saja, aku cuma sebentar." Cegah ku saat melihat Mas Dirga melepas seatbelt dan hendak membuka pintu.


"Tapi Dek,,,"


"Sebentar Mas, nggak sampai 5 menit." Tegas ku kemudian buru-buru keluar dan masuk ke dalam apotik.


"Terimakasih Teh,," Ucapku setelah menerima bungkusan kecil berisi testpack digital dan uang kembalian.


Tidak sampai 5 menit, aku sudah kembali ke mobil. Mas Dirga tampak menatap penasaran. Sedangkan aku sudah memasukan testpack itu ke dalam tas.


"Kamu beli apa Dek.?" Tanyanya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, jantungku terus berdetak kencang. Aku sudah tidak sabar untuk mencelupkan testpack itu ke dalam urine ku. Lebih dari 3 tahun menunggu, tentu saja aku tidak sabar untuk melakukan tes kehamilan ini.


Dulu di awal pernikahan sampai usia pernikahan 1 tahun, hampir setiap bulan aku melakukan tes sekalipun belum tanggalnya kedatangan tamu bulanan. Karna terlalu berharap dan ingin secepatnya memiliki anak.


Kini setelah 2 tahun berlalu, aku akan melakukan tes lagi untuk pertama kalinya.


Begitu Mas Dirga memarkirkan mobil di carport, aku langsung turun tanpa mengatakan apapun dan bergegas membuka pintu rumah.


"Tunggu Dek,, kenapa buru-buru.?" Mas Dirga mengejar langkahku.


"Sebenarnya ada apa.? Jangan bikin Mas khawatir seperti ini." Mas Dirga memegang pergelangan tanganku dan menatap cemas.


"Nanti aku kasih tau, sekarang aku mau ke kamar mandi dulu," Aku mengulas tersenyum dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Mas Dirga terdengar memanggilku, tapi aku langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Aku meletakkan gelas kecil berisi urine di atas wastafel. Tanganku sampai gemetar saat mengeluarkan alat tes kehamilan dari wadahnya.

__ADS_1


Beberapa kali melakukan tes kehamilan, baru kali ini aku merasa sangat gugup sampai gemetar.


"Semoga saja ini nyata,," Gumamku lirih, berharap bukan hanya sekedar perasaanku saja.


Perlahan aku mulai mencelupkan ujung testpack ke dalam gelas. Setelah beberapa detik, aku mengambil dan menutup ujung testpack.


Detak jantung semakin berpacu cepat, aku menatap lekat alat tes kehamilan itu di tanganku.


Rasanya sangat lama menunggu gambar hati muncul di alat tes kehamilan ini.


"Mas,,,!!!" Aku reflek berteriak, mataku membulat sempurna melihat gambar hati pada alat tes kehamilan di tanganku. Tanpa sadar aku meneteskan air mata karna sangat bahagia dan terharu.


"Dek,,!! Buka pintunya sayang, kamu kenapa.?!!" Teriakan Mas Dirga membuatku sadar kalau aku masih di dalam kamar mandi dengan pintu kamar yang terkunci.


Aku buru-buru keluar dari kamar mandi dan membuka pintu kamar. Mas Dirga terlihat sangat panik saat melihatku keluar dalam keadaan menangis. Dia reflek memelukku.


"Ada apa.? Jangan membuatku takut,," Ucapnya sendu. Bukannya berhenti, tangisku malah semakin pecah. Aku balas memeluk Mas Dirga dan membenamkan wajah di dadanya. Sedangkan alat tes kehamilan itu masih aku genggam.


Ini yang aku dan Mas Dirga harapkan selama 3 tahun pernikahan kami. Dia pasti akan bahagia jika mengetahui aku sedang mengandung anaknya.


Ya, tentu saja ini anak Mas Dirga. Karna aku dan Mas Agam baru melakukan 9 hari yang lalu, bahkan dia memakai pengaman.


Mas Dirga melepaskan pelukannya setelah tangisku reda. Dia menangkup wajahku dan mengusap air mata di pipiku.


"Are you okay." Tanyanya penuh kelembutan.


Aku menganggukkan kepala, perlahan menyodorkan alat tes kehamilan itu pada Mas Dirga.


"Dek, ini, ,?" Tanya Mas Dirga seraya menerimanya. Dia menatapku bingung saat melihatku memberikan testpack padanya.


Mas Dirga menatap testpack itu beberapa saat, sampai akhirnya dia kembali menatapku dengan mata yang berbinar.


"Dek,,, ini beneran.?" Suara Mas Dirga bergetar. Air matanya luruh tak terbendung.


Aku hanya bisa mengangguk kecil karna sulit untuk berkata-kata. Rasanya masih tidak percaya dengan semua ini.

__ADS_1


Mas Dirga kembali memelukku, kali ini tangisnya yang pecah.


__ADS_2