
Aku langsung memesan makanan lewat aplikasi setelah Mas Agam keluar dari ruangan. Masih dengan senyum tipis yang mengembang, pikiranku terus di penuhi oleh tingkah mesum Mas Agam dan ucapannya yang suka nyeleneh. Hingga membuat pikiran melayang-layang tidak karuan.
Sepertinya aku benar-benar mencintai Mas Agam. Bukan hanya sekedar mengagumi ataupun menjadikan dia sebagai pelampiasan atas rasa sakit ku terhadap Mas Dirga.
Meskipun Mas Agam hadir di saat hatiku sedang terluka, tapi aku bisa memastikan bahwa perasaan cinta ini bukan terbentuk dari rasa sakit.
Dengan kesempurnaan dan sikap Mas Agam yang penuh perhatian, wanita mana yang tidak akan jatuh cinta padanya.
Kalaupun ada yang tidak mencintai Mas Agam, itu hanya Mbak Karina saja. Aku bahkan bingung dengan jalan pikiran Mbak Karina. Bagaimana bisa dia menyia-nyiakan suami sebaik dan sesempurna Mas Agam. Bahkan di saat tau istrinya selingkuh, Mas Agam tidak membalasnya dengan cara yang sama seperti yang sedang aku lakukan saat ini.
Bukankah pria seperti Mas Agam sangat jarang di temui.?
Kalaupun dia mengencani istri orang lain, itu karna aku sendiri yang membuka hati dan mau menjalani hubungan terlarang ini.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan. Aku bergegas dari meja kerjaku untuk membukakan pintu.
"Siang Tante,," Seorang gadis cantik langsung melambaikan tangan padaku dengan senyum lebar saat aku membukakan pintu untuknya.
Aku menautkan alis, menatap bingung pada sosok gadis yang memakai seragam putih abu-abu.
"Siang. Cari siapa Dek.?" Sebisa mungkin aku bicara lembut dan ramah, takut gadis remaja ini merupakan salah satu kerabat Mas Agam.
"Aku di suruh Papa Airlangga untuk menunggu Om Agam di ruangan ini." Jawabnya dengan suara ceria yang khas.
"Papa.? Om.?" Aku semakin bingung dengan sosok remaja di hadapanku ini. Bagaimana bisa dia memanggil Pak Airlangga dengan sebutan Papa, tapi memanggil Mas Agam dengan sebutan Om. Bukankah itu sangat membingungkan.?
"Tante bingung ya.?" Ujarnya yang kemudian terkekeh kecil hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
__ADS_1
"Aku boleh masuk dulu kan Tan.? Nanti aku jelasin di dalam." Katanya dan langsung menyelonong masuk ke dalam ruangan ini. Aku menutup pintu, mengikuti langkah remaja itu yang kini mendudukan diri di sofa.
Kedua manik matanya tampak sedang mengamati semua sudut ruangan. Tak terkecuali meja kerjaku dan meja kerja Mas Agam yang saling berhadapan namun dengan jarak yang lumayan jauh dan di beri pembatas dinding serta pintu kaca.
"Om Agam dan Tante kerja di ruangan yang sama ya.?" Dia berkomentar setelah mengamati meja kerja kami. Aku mengangguk, lalu duduk di hadapannya.
"Apa kamu keponakan Pak Agam.?" Tanyaku. Aku di buat penasaran, sedangkan gadis itu tidak menyebutkan siapa dirinya dan apa hubungan dengan keluarga Mas Agam.
Dia menjawab dengan gelengan kepala, setelah itu menyodorkan tangannya di hadapanku.
"Kenalin, aku Arumi. Calon istrinya Om Agam." Ucapnya dengan senyum yang merekah. Wajahnya menunjukkan binar bahagia. Sedangkan aku.? Aku membisu dengan pikiran yang kacau tak menentu.
Aku bahkan mengabaikan Arumi yang ingin berjabat tangan denganku.
Aku cemburu, aku merasakan sakit di dada yang sulit untuk di ungkapkan dengan kata. Tapi hang jelas, Ini adalah perasaan seseorang yang patah hati.
Aku ingat sangat Pak Airlangga menyebutkan nama Arumi beberapa waktu lalu. Bahkan saat itu aku sudah merasakan cemburu hanya dengan mendengar namanya. Dan kini gadis itu ada di hadapanku.
"Ah,, maaf,," Tersenyum kaku, aku mengulurkan tangan padanya dan langsung di sambut oleh Arumi.
"Salam kenal Arumi, saya Bianca. Sekretaris Pak Agam." Ucapku memperkenalkan diri seperti yang di lakukan olehnya.
"I know. Papa Airlangga udah bilang barusan." Sahutnya seraya tersenyum ramah.
"Tante nggak keganggu kan kalau aku tunggu disini.? Katanya Om Agam hanya meeting sebentar." Tuturnya. Aku langsung menganggukkan kepala dan menjawab tidak masalah.
"Apa Tante betah kerja sama Om Agam.? Dia itu sangat galak dan menyebalkan bukan.?" Tanyanya. Arumi menatap ku intens. Sepertinya dia sangat penasaran dan ingin mencari tau lebih jauh tentang Mas Agam padaku. Atau mungkin hanya ingin membandingkan sikap Mas Agam saat dengannya dan saat berada di kantor.
__ADS_1
"Galak.? Memangnya galak seperti apa.?" Aku tak berencana untuk menjawabnya, justru aku yang lebih tertarik untuk mencari tau interaksi seperti apa yang terjadi di antara mereka berdua.
"Ck,," Arumi berdecak pelan dengan bibir mencebik. Dia menyilangkan kedua tangan di dada dan menunjukkan kekesalan pada sosok yang sedang kami bicarakan.
"Apa tante tau, dia selalu membentakku setiap kali aku bicara ataupun bertanya."
"Bukan cuma itu saja, Om Agam juga menyebutku bocah ingusan. Menyebalkan sekali kan.?!" Arumi mengadu penuh kekesalan. Dia sangat ekspresif, berbagai ekspresi yang berbeda di tunjukkan dalam beberapa detik saja. Entah aku harus tertawa atau menangis.
"Tapi kenapa kamu ingin menikah dengan Pak Agam.?" Tanyaku. Arumi tampak meluapkan kekesalan saat mengadukan sikap Mas Agam, tapi dia baru saja memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Mas Agam. Itu artinya dia setuju dengan perjodohan itu.
"Kenapa Tante bisa tau.?" Tanya dengan ekspresi polos tapi juga sorot mata penuh selidik. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu.
"Tadi kamu memperkenalkan diri sebagai calon istri Pak Agam." Jelasku mengingatkan. Gadis itu malah terkekeh dan menepuk keningnya sendiri.
"Aku mau menikah sama Om Agam karna dia tampan dan,," Gadis itu membuatku penasaran karna menggantungkan ucapannya.
"Dan apa.?" Tanyaku reflek.
"Eumm,, aku malu ngomongnya," Jawabnya sambil mengulum senyum dan pipi yang merona. Aku jadi semakin dibuat penasaran olehnya. pikiranku juga melayang kemana-mana. Rasanya ingin sekali mendesak Arumi agar mengatakannya, tapi aku merasa tak memiliki hak untuk bertanya lebih jauh.
"Tante Bianca nggak lanjut kerja.? Aku nggak masalah menunggu sendirian disini." Ucapnya. Aku rasa Arumi berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku mengangguk dan pamit ke meja kerjaku, meski sebenarnya masih ingin berbicara dengan Arumi untuk mencari tau sudah sejauh apa perjodohan mereka berdua.
Menarik nafas dalam, aku mengambil oksigen banyak-banyak untuk melebarkan dadaku yang terasa sangat sejak dan penuh. Pikiranku kacau, aku tidak bisa konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Berbagai pertanyaan buruk terlintas dalam benakku.
Bagaimana jika seandainya perjodohan Mas Agam dan Arumi tidak bisa di batalkan.?
__ADS_1
saat itu aku pasti akan menjadi orang yang sangat patah hati.
Tapi kemudian aku ingat dengan keseriusan Mas Agam. Aku yakin Mas Agam tidak akan mengecewakan, apalagi menyakitiku.