
Aku masih diam di tempat meski Bianca sudah keluar dari ruangan ini. Harusnya aku menahan Bianca dan meminta maaf lebih banyak lagi padanya. Namun lidah terasa kelu untuk sekedar menahan langkah Bianca.
Aku baru saja menyadari kesalahan terbesarku pada Bianca.
Tidak seharusnya aku memperlakukan Bianca dengan buruk layaknya wanita penghibur yang telah menghabiskan waktu denganku.
Wajar bila Bianca bersikap seperti tadi, dia pasti sangat terluka dengan ucapan dan perlakuanku padanya.
Kekecewaan dan rasa sakit hati membuatku gelap mata. Aku tidak bisa menerima kekalahan ini dengan membiarkan hubungan kami berakhir begitu saja setelah apa yang sudah kami lalui.
Membayangkan Bianca kembali bersama Dirga dan hidup bahagia, rasanya seperti ada kobaran api yang membakar hatiku.
Selangkah lagi aku bisa memiliki Bianca, tapi kehamilan itu mengacaukan semuanya.
Beberapa saat terdiam, aku bergegas pergi dari ruangan ini setelah menyadari Bianca benar-benar sudah menghilang dari pandangan mataku.
Aku mengejar langkah Bianca yang baru saja masuk ke dalam ruanganku.
Saat aku masuk, Bianca sudah membawa box kecil dalam dekapannya dan bersiap keluar lagi dari ruangan ku.
"Bi,, aku benar-benar minta maaf." Aku langsung menghalangi langkah Bianca dengan berdiri di ambang pintu agar dia tidak bisa keluar begitu saja dari ruanganku.
"Sudah aku maafkan. Tolong minggir dan biarkan aku keluar dari sini." Pintanya tanpa menatap mataku.
"Bianca, aku serius." Ucapku sedikit kesal.
"Bahkan aku nggak pernah bercanda, Mas." Tegasnya.
"Lupakan saja apa baru saja terjadi, bila perlu lupakan semua yang sudah terjadi di antara kita." Ucap Bianca dengan begitu mudah tanpa memikirkan bagaimana perasaanku saat ini yang masih belum bisa menerima perpisahan kami.
"Semudah itu kamu minta aku lupain semuanya.?" Aku tersenyum kecut, ucapan Bianca membuatku geram.
"Kamu bahkan begitu mudah merendahkan ku, sampai aku menyesali kedekatan kita dan ingin melupakan semuanya." Suara Bianca bergetar dengan mata yang berkaca-kaca. Dia menatapku penuh kekecewaan.
"Permisi,," Bianca sedikit mendorongku ke samping dan dia keluar begitu saja dari ruanganku dengan kepala tertunduk.
Aku meraih vas bunga di atas nakas dan melemparnya.
__ADS_1
"Br*ngs*k,,!!"
"Ya ampun Pak Agam,, Anda baik-baik saja.?" Wanita yang aku suruh untuk menjadi sekretaris palsuku tiba-tiba menghampiri dan menyentuh tanganku. Dia justru membuatku semakin geram.
"Keluar.!!!" Bentak ku sambil menepis kasar tangannya.
"Tapi Pak,,"
"Apa kau tuli.!!! Cepat pergi dari hadapanku.!!"
"I,,iyaa Pak, saya akan keluar."
Aku membanting pintu begitu wanita itu keluar dari ruanganku.
"Sh itt.!!"
Keputusan Bianca tidak bisa aku terima begitu saja. Selama ini aku sudah berusaha menarik perhatian Bianca dan perlahan mendekatinya dengan berbagai cara, tapi pada akhirnya dia tetap kembali pada Dirga.
Kalau saja Bianca tidak hamil, aku pasti bisa memiliki Bianca dengan segala kesempurnaan yang ada dalam dirinya.
...*****...
Rasanya masih belum percaya Mas Agam bisa memperlakukanku serendah itu. Entah itu watak aslinya atau hanya karna emosi sesaat. Tapi yang jelas perkataan dan perbuatannya berhasil menggoreskan luka tersendiri di hatiku.
"Maaf Neng, barang kali butuh tisu." Driver taksi online menyodorkan tisu ke belakang.
"Makasih,," Lirih ku tanpa berani mengangkat wajah. Bahkan dia tau kalau aku sedang menangis, padahal sejak tadi aku terus menundukkan wajah. Sengaja agar dia tidak melihatku menangis.
Suara dering ponsel membuatku berhenti menyeka air mata. Aku mengambil ponsel dari dalam tas dan menerima panggilan telfon dari Mas Dirga.
"Halo Dek, kamu baik-baik aja kan.? Kenapa chatnya nggak di bales."
"Mas mau nawarin kamu makan siang. Nanti Mas pesanin dari sini dan dikirim ke kantor kamu."
Mas Dirga bicara panjang lebar dengan nada bicara yang tampak khawatir.
"Nggak usah Mas, aku dalam perjalanan pulang. Hari ini aku sudah berhenti bekerja."
__ADS_1
Mas Dirga sedikit terkejut, dia bertanya kenapa aku bisa berhenti bekerja begitu saja. Sedangkan dia tau kalau keluar dari perusahaan dengan jabatan sekretaris seperti ku tidak bisa berhenti begitu saja. Mas Dirga juga tau kalau aku belum membuat surat pengunduran diri.
"Nnti saja aku ceritain di rumah." Jawabku yang enggan membicarakan permasalahan ini lewat telfon. Lagipula aku harus jujur pada Mas Dirga kalau sebenarnya Mas Agam pemimpin di perusahaan itu dan aku bekerja menjadi sekretarisnya. Karna sejauh ini Mas Dirga belum tau tentang hal itu.
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan."
"Nggak usah masak makan siang, nanti Mas pesanin buat kamu. Jangan lupa nanti minum susu sama vitaminnya. Siang ini Mas sibuk, ada rapat penting." Ucapnya lembut.
Aku hanya mengiyakan saja, karna sejujurnya sedang tidak ingin banyak bicara dalam suasana hati yang kacau seperti ini.
"Bilangin sama twins, Papa kangen sama mereka dan Mamanya." Ucapnya saat aku pamit untuk mematikan sambungan telfon.
Aku mengukir senyum tipis meski Mas Dirga tidak melihat.
"Iya, nanti aku bilangin."
...*****...
Dirga Pov
"Pak Dirga kenapa senyum-senyum sendiri.?" Tegur seorang OB yang sedang membersihkan ruanganku. Aku menatap ke arahnya dan semakin tersenyum lebar.
"Lagi liatin hasil USG anak-anak saya Bang." Jawabku seraya mematikan ponsel dan meletakkannya di atas meja. Aku baru saja memandangi hasil USG yang sengaja aku abadikan di ponselku, agar sewaktu-waktu aku bisa melihatnya saat sedang berada di kantor.
"Wah,, istri Pak Dirga lagi hamil.?" OB berusia 40 tahun itu menghentikan aktivitasnya dan kini berjalan ke arahku dengan raut wajah antusias.
Dia pasti kaget mengetahui istriku sedang hamil, karna aku bercerita banyak hal pada Bang Arman mengenai kondisi rumah tanggaku yang belum dikaruniai anak.
"Iya Bang, hamil kembar" Jawabku bangga sekaligus haru.
"Alhamdulillah,, Tuhan nggak tidur Pak Dirga. Orang baik seperti Pak Dirga sudah seharusnya merasakan kebahagiaan dengan hadirnya anak-anak."
"Selamat ya Pak, semoga kehamilannya sehat dan lancar sampai waktunya melahirkan. Salam juga buat istrinya." Bang Arman mengulurkan tangan untuk menjabat ku.
"Makasih Bang,, mungkin ini juga berkat do'a dari Bang Arman." Kataku seraya menepuk bahunya setelah membalas jabatan tangan Bang Arman.
"Bukan berkata do'a saya Pak, tapi karna kebaikan Pak Dirga pada keluarga saya." Jawab Pak Arman yang tampak terharu.
__ADS_1
"Kalau itu sudah kewajiban saya untuk saling membantu sesama Bang." Jawabku dan kembali menepuk pundaknya.