
Bianca POV
Kedatangan Arumi ke kantor ini membuatku sadar bahwa tidak mudah untuk menjadi istri Mas Agam. Mengingat Pak Airlangga sudah menjodohkan Mas Agan dengan Arumi dan hubungan calon menantu serta calon mertua itu juga sepertinya sangat dekat. Terbukti dari panggilan Arumi pada Pak Airlangga yang menyebutnya Papa.
Tak hanya itu saja, Arumi juga menegaskan jika dirinya enggan membatalkan perjodohan itu. Bahkan Arumi terang-terangan mengungkapkan perasaannya pada Mas Agam di depanku.
Dengan penuh ketegasan, Arumi juga mengatakan bahwa dirinya tidak akan melepaskan Mas Agam untuk siapapun, termasuk untukku.
Disini aku merasa sangat kecil dan tidak memiliki kekuatan apapun untuk memperjuangkan Mas Agam. Aku hanya seorang sekretaris, berbeda dengan Arumi yang merupakan anak dari seorang pengusaha. Tentunya sederajat dengan keluarga Mas Agam.
"Haruskah aku menyerah.?"
Seketika rasa sakit menggerogoti hati hingga tak terasa setetes buliran bening membasahi pipiku.
Aku terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan mengusap air mata di pipiku. Entah sejak kapan Mas Agam masuk ke ruangan ini, setelah tadi pamit keluar untuk mengantar Arumi sampai di lobby.
"Jangan seperti ini sayang, semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku." Mas Agam menangkup pipiku, kemudian mendekatkan wajah dan menempelkan kening kami.
"Aku nggak akan diam saja, kita akan berjuang sama-sama." Ucapnya lembut. Sekilas ucapan Mas Agam mampu membuat suasana hatiku sedikit tenang dan lega. Aku yakin Mas Agam pasti akan memperjuangkan ku, tapi aku ragu jika takdir akan berpihak pada kami.
Aku memaksakan senyum lebar, enggan membuat Mas Agam terbebani karna melihatku menangis.
"I'm fine,," Bersikap seolah baik-baik saja nyatanya tidak mudah. Tersenyum di balik hati yang terluka rasanya sangat menyiksa.
"Soal hubungan kita, Bia akan pasrah kemana takdir akan membawanya." Tuturku.
Mas Agam tak menjawab, dia justru mengecup singkat bibirku.
"Aku bisa saja mengenalkan kamu pada Papa saat ini juga, tapi bagaimana tanggapan Papa padamu kalau tau kamu masih menjadi istri orang lain."
"Bukan hal sulit bagi Papa untuk mencari tau tentang kamu."
"Aku nggak mau nantinya Papa mengatakan sesuatu yang akan menyakiti perasaan kamu."
__ADS_1
"Jadi bersabarlah sebentar lagi." Pintanya memohon.
Aku tersenyum lebar, kali ini bukan senyum yang di paksakan. Tapi karna tiba-tiba Mas Agam berubah serius dan manis saat berbicara. Biasanya pria itu lebih suka mengatakan hal membuatku tersipu malu ataupun membuatku berfikir yang tidak-tidak dengan ucapan mesumnya.
"Aku rasa ini bukan Mas Agam." Ucapku meledek. Aku balas menangkup pipinya karna dia juga masih menangkup pipiku.
"Kamu meledek ku, hmm,,?" Mas Agam mencubit pelan hidungku. Perlahan aku melihat sorot mata Mas Agam mulai berubah.
"Aku habis makan dan lupa minum, apa aku boleh minum susu dari sumbernya yang masih fresh agar pikiranku jadi jernih." Godanya dengan mengedipkan sebelah mata.
Sontak aku melayangkan pukulan di dada bidang Mas Agam.
"Ini baru Mas Agam yang mesum." Cibirku sambil menggeser kursi kebelakang untuk membuat jarak dari Mas Agam yang terlalu dekat.
"Lebih baik habiskan minuman di meja itu saja." Aku menunjuk meja yang tadi di pakai untuk makan siang kami. Di sana masih ada minuman milik Mas Agam yang belum di sentuh.
"Sebelum kita bisa memastikan hubungan ini, aku nggak mau kita berbuat lebih jauh lagi."
"Apa Mas tau.? Aku merasa jadi wanita murahan akhir-akhir ini, karna kita,,,"
"Jangan coba-coba berfikir seburuk itu.! Kamu sangat berharga Bia."
"Maaf kalau perbuatanku membuat kamu merasa seperti itu. Tapi aku nggak pernah berfikir buruk tentang kamu." Mas Agam menatap dalam, tatapan matanya yang teduh dan penuh cinta berhasil membuatku menahan tangis hingga mataku berkaca-kaca.
Aku sangat terharu dan merasa di hargai oleh Mas Agam.
...***...
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas setelah membaca dan membalas pesan dari Mas Dirga.
Pria itu sedang dalam perjalanan menuju kantor untuk menjemputku.
"Kamu tetap pulang sama dia.?" Suara datar Mas Agam terdengar penuh penekanan. Aku mendongak untuk menatap pria bertubuh tinggi yang kini berdiri di depan meja kerjaku.
__ADS_1
Menjawab dengan anggukan kecil, aku tersenyum tipis padanya. Aku tau Mas Agam cemburu dan tidak suka kalau aku pulang dengan Mas Agam. Tadinya dia malah ingin mengajakku pergi ke suatu tempat, tapi aku bilang padanya kalau mulai hari ini aku akan berangkat dan pulang bersama Mas Dirga selama 1 minggu ke depan.
Tidak ada yang aku tutup-tutupi dari Mas Agam. Dia tau semuanya tentang hal itu. Meski awalnya dia keberatan, tapi aku berhasil memberinya pengertian.
"Aku nggak keberatan lagi, sayang. Hanya saja aku takut kalian kembali bersama setelah ini." Mas Agam menatap dalam dan menelisik. Dia seolah sedang mencari sesuatu dari sorot mataku.
"Mas nggak percaya sama Bia.?" Tanyaku. Aku paham kekhawatiran yang dia rasakan, sama halnya dengan aku yang mengkhawatirkan perjodohan Mas Agam dengan Arumi. Bahkan mungkin kekhawatiranku jauh lebih besar di banding Mas Agam.
"Bukan begitu Baby,," Mas Agam mendekat, dia memutar kursi hingga kami berhadapan dan tubuhnya menunduk dengan kedua tangan yang mengurung ku.
Aroma maskulin langsung menguar dan menusuk indera penciumanku. Aku menghirup dalam-dalam aroma tubuh Mas Agam yang mampu memberikan ketenangan.
"Lalu seperti apa.?" Tanyaku seraya mengalungkan kedua tangan di lehernya.
Jarak wajah kami semakin dekat, hanya beberapa senti saja sampai hembusan nafas Mas Agama seolah membelai wajahku.
"Kamu menggodaku.?" Tanya Mas Agam seraya menarikan alisnya.
Aku reflek menggeleng, sama sekali tidak ada maksud untuk menggodanya. Hanya saja ingin lebih dekat dengan Mas Agam karna sejujurnya aku sangat rindu padanya.
"Cuma mengalungkan tangan, apa nggak boleh.?" Tanyaku yang hendak melepaskan tangan dari leher Mas Agam, tapi malah di tahan olehnya.
"Jangankan mengalungkan tangan, memasukkan tangan ke bawah sana juga nggak masalah." Jawabnya yang kemudian mengedipkan sebelah mata. Aku terkekeh geli dan langsung mencubit pundaknya.
"Dasar mesum.!" Cibir ku.
"Bukan mesum, dia sudah haus belaian." Jawabnya santai. Kau sampai membulatkan mata dan hanya bisa menggeleng.
"Awas,, aku harus turun Mas. Mas Dirga pasti sebentar lagi sampai." Aku mendorong pelan dada Mas Agam yang sejak tadi mengungkungku.
"Kiss me,,," Ucapnya seraya menahan tubuh. Sepertinya dia enggan beranjak sebelum aku menciumnya.
Aku menghela nafas, beberapa detik kemudian langsung mengecup singkat bibit Mas Agam. Tapi dengan cepat dia menahan tengkukku dan memperdalam ciuman. Ciuman lembut yang perlahan menjadi panas dan menuntut.
__ADS_1
Dering ponsel ku mengakhiri ciuman panas kami. Mas Agam tampak frustasi karna terpaksa mengakhiri kesenangannya.
Aku meminta maaf padanya dan pamit pulang.