
"Sa,,saya nggak punya hubungan apa-apa dengan Pak Agam." Jawabku tanpa berani menatap mata Pak Airlangga. Aku tidak tau kenapa Pak Airlangga bisa menanyakan hal itu padaku.
Rasanya tidak mungkin kalau Mas Agam menceritakan hubungan kami. Terlebih aku masih menjadi istri Mas Dirga. Pak Airlangga pasti akan sangat membenciku dan memandangku sebagai wanita murahan. Aku yakin Mas Agam tak akan membuatku terlihat buruk di mata Papanya.
"Kalian berdua sama saja." Pak Airlangga mendengus kesal. Dia terlihat tidak puas dengan jawabanku.
"Kalau memang saling mencintai, kenapa sama-sama mengelak." Tuturnya. Kini aku paham kenapa Pak Airlangga menyebutku dan Mas Agam sama saja. Rupanya Mas Agam juga membantah ada hubungan di antara kami.
Jujur saja aku merasa sedikit sakit karna hal itu, tapi aku tau Mas Agam melakukan semua itu demi menutupi statusku. Lagipula Aku masih menjadi istri orang lain, Dan Mas Agam tidak mengenalkan istri orang lain pada orang tuanya.
"Maaf Pak, tapi saya dan Pak Agam memang nggak memiliki hubungan apapun selain hubungan pekerjaan." Sekali lagi aku menegaskan tak ada hubungan di antara aku dan Mas Agam.
"Lalu kenapa Agam menolak perjodohan dengan anak rekan bisnis saya." Pak Airlangga tampak mengerutkan kening.
"Saya ingin melihat putra saya bahagia dengan menikahi wanita baik-baik. Saya juga ingin memiliki cucu."
"Tolong bantu saya membujuk Agam untuk menerima perjodohan ini.".Pintanya.
Sesaat aku membisu, ada rasa sesak di dada yang menyeruak begitu saja.
Bagaimana bisa aku meminta Mas Agam menerima perjodohan itu, sedangkan aku memiliki perasaan padanya.
"Baik Pak, saya akan mencoba membujuk Pak Agam." Aku memaksakan senyum di tengah rasa sesak yang mendera.
...*****...
Aku kembali keruang kerja setelah memberikan laporan pada Pak Airlangga. Pijakan kaki terasa mengambang, suasana hatiku sudah kacau sejak berada di ruangan Pak Airlangga. Aku berjalan lesu ke meja kerjaku.
"Kamu kenapa Bi.?" Mas Agam menegurku.
Aku yang sedang berkutat dengan hati dan pikiranku, hanya menoleh dan menggeleng singkat. Tentu saja sembari mengukir senyum untuk menutupi kegelisahan hatiku saat ini.
__ADS_1
"Jangan bohong." Serunya tegas. Rupanya Mas Agam tidak percaya kalau aku baik-baik saja.
"Apa Papa komplain dengan hasil kerjamu.?" Mas Agam menatap penasaran.
Aku kembali menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Nggak sama sekali. Pak Airlangga menerima hasil kerjaku dengan baik." Aku berkata jujur untuk hal itu, tapi tak berani mengatakan tentang obrolan lain yang menyangkut perjodohan Mas Agam.
...****...
Pukul 4 sore aku dan Mas Agam meninggalkan ruangan. 1 jam yang lalu aku sudah mengabari Mbak Sita kalau aku akan langsung datang ke rumahnya setelah pulang dari kantor.
"Aku akan mengantar kamu Bi, jangan coba menolak lagi.!" Tegas Mas Agam dengan suara deepnya. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia tak mau di bantah lagi.
"Tapi Mas, bagaimana kalau temanku curiga melihat aku turun dari mobil mewah Mas Agam.?"
"Dia pasti nggak percaya kalau aku datang menggunakan taksi online." Ujarku cemas. Mengingat mobil Mas Agam yang cukup mewah, sudah pasti Mbak Sita dan yang lainnya tak akan percaya jika aku mengatakan menggunakan taksi online.
Aku kembali berfikir dan mempertimbangkannya. Tapi lagi-lagi Mas Agam mendesak ku agar aku mau di antar olehnya.
Pada akhirnya aku menuruti ucapan Mas Agam dengan masuk ke dalam mobilnya.
Aku membawa oleh-oleh jajanan khas Bandung yang sengaja aku bawa ke kantor cabang saat berangkat bekerja.
"Kita mampir sebentar ke toko kue ya Mas. Bia mau beli tambahan karna oleh-oleh dari Bandung cuma sedikit." Ujarku. Mas Agam menoleh sekilas seraya menganggukkan kepala dan berdehem kecil.
Mobil Mas Agam berhenti di depan toko kue A yang cukup terkenal di Jakarta. Saat aku hendak turun, Mas Agam malah mencegahku.
"Kamu tunggu disini aja, biar aku yang beli." Ucapnya dengan tatapan mata tegas. Aku tak protes karna takut terjadi perdebatan lagi. Apa lagi Mas Agam langsung buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko kue tersebut.
Tak lebih dari 10 menit, Mas Agam sudah kembali dengan membawa 5 paper bag besar di kedua tangannya.
__ADS_1
Pria itu bahkan tidak mau saat aku akan mengganti uangnya.
...*****...
"Ya ampun Dek Bianca,, makin cantik aja." Mbak Sita langsung memelukku begitu dia membukakan pintu. Aku balas memeluknya.
"Aku kangen sama Mbak." Suaraku nyaris hilang karna tercekat. Rasanya ingin sekali aku menumpahkan beban pikiran dan persoalan rumah tangga ku pada Mbak Sita.
Tapi entah kenapa aku lebih memilih untuk bungkam dan menyimpan semua permasalahan ini seorang diri.
Tak berselang lama, Mbak Nilam dan Mbak Weny datang ke rumah Mbak Sita. Kebetulan suami Mbak Sita sedang ke luar kota, jadi kami bisa leluasa mengobrol dan curhat di sini setelah beberapa bulan tidak kumpul berempat.
"Jadi kamu beneran kerja Dek.?" Tanya Mbak Nilam seraya menyomot kue yang aku bawa.
"Mbak kira cuma bercanda. Soalnya suamimu kan nggak pernah ngijinin kamu kerja. Emangnya gaji Dirga kurang Dek.?" Mbak Nilam bicara dengan mulut yang penuh dengan kue.
"Telen dulu Lam, nanti kalau keselek bau tau rasa.!" Celetuk Mbak Weny. Tapi dia juga ikut-ikutan memakan kue sambil bicara.
"Halah, kamu juga sama aja Wen.!" Mbak Sita menegur. Meski mereka bicara dengan nada sinis, tapi tidak ada yang tersinggung. Mereka malah terkekeh geli dan membuatku ikut tertawa.
"Iya Mbak, belum lama aku kerja. Habisnya bosen di rumah nggak ngapa-ngapain. Tau sendiri aku nggak punya tetangga yang bisa di ajak ngobrol sama jalan-jalan." Aku kembali mengeluhkan lingkungan tempat tinggal baruku yang jauh berbeda dengan lingkungan disini.
"Maklum Dek, kalau perumahan elite memang begitu." Ujar Mbak Weny.
"Ngomong-ngomong, kenapa tadi turunnya di blok depan.?" Pertanyaan Mbak Weny membuatku menelan ludah dengan susah payah. Aku pikir diantara mereka bertiga tidak ada yang melihatku turun di blok depan.
"Emangnya supir taksinya nggak mau anterin sampe depan rumah.?" Sambung Mbak Sita.
"Ehh,, itu Mbak, aku yang minta di turunin di depan. soalnya tadi beli minum dulu di warung." Aku tersenyum kaku, takut ketahuan bohong pada mereka.
"Mbak sih tadi cuma lihat sekilas doang pas kamu lagi berdiri di blok depan, soalnya tadi mbak buru-buru. Terus nggak ngeh juga kalau itu kamu. Baru ngeh pas liat kamu disini." Terang Mbak Weny. Setelah mendengar penuturannya, aku jadi sedikit lega. Apa lagi Mbak Weny tidak bertanya lebih jauh lagi. Artinya Mbak Weny tidak melihatku saat turun dari mobil mewah Mas Agam.
__ADS_1