
Dirga POV
Aku tertegun beberapa saat setelah membuka mata. Pemandangan indah ini rasanya sudah lama tidak aku lihat setelah membuka mata di pagi hari.
Wajah cantik nan teduh milik Bianca saat tertidur sudah lebih dari 3 tahun menjadi pemandangan indah dan menyejukkan bagiku.
Aku benar-benar bodoh telah membuat kesalahan besar dan kini nyaris membuatku kehilangan pemandangan indah ini.
Hanya tinggal menunggu waktu, semuanya akan lenyap dan pergi dari kehidupanku.
Tanganku terulur, ingin rasanya mengusap wajah damai Bianca yang terlelap. Tapi tangan ini hanya mengambang di udara ketika ingat dengan janjiku sendiri. Aku tidak mau Bianca berfikir jika aku memanfaatkan keadaan.
Bisa kembali tidur satu kamar dengannya saja sudah membuatku bahagia, aku tidak mau merusak momen berharga ini yang tak akan pernah bisa di ulang lagi setelah kami berpisah.
"Cuma kamu Dek, cuma kamu yang Masih inginkan dalam hidup ini." Aku hanya bisa bergumam pelan sembari terus menatap penuh cinta wajah cantik Bianca.
Seandainya ada kesempatan, aku tak ingin memiliki kepedulian pada lawan jenis yang pada akhirnya hanya membuatku terjerumus dalam kesalahan yang mengerikan.
Cukup lama memandangnya wajah Bianca, aku melirik jam sudah menunjukkan pukul 6.
Sebenarnya aku belum puas memandangi wajah cantiknya, tapi mengingat kami yang harus bersiap untuk pergi ke kantor, terpaksa aku harus membangunkannya.
"Bangun Dek, udah jam enam." Aku membangunkan Bianca tanpa berusaha untuk menyentuhnya, tapi berbicara sedikit keras.
Perlahan Bianca menggeliat setelah ketiga kalinya aku memanggilnya.
Mata indahnya yang di hiasi bulu lentik itu kini mulai terbuka. Aku mengukir senyum untuknya meski tidak mendapatkan respon apapun darinya.
Bianca justru bergegas bangun setelah kesadarannya terlihat penuh. Wanita cantik itu turun dari ranjang, aku reflek ikut turun dan suasana pagi ini jadi canggung.
Bianca merapikan selimut miliknya dengan melipatnya.
"Kamu beresin kamar saja, biar Mas yang masak." Ucapku yang hendak meninggalkan Bianca di dalam kamar.
"Nggak usah.Mas mandi saja."
"Aku yang akan memasak setelah ini." Ujarnya yang mencegahku untuk tidak memasak.
Aku memilih menuruti perkataan Bianca.
__ADS_1
"Makasih Dek,," Aku hampir saja mengusap pucuk kepalnya, tapi segera ku urungkan.
Bianca yang sempat melihat tanganku terangkat, kini tampak menatapku lekat.
Tak mau membuat suasana jadi kacau, aku segera pergi ke kamar mandi.
Interaksi yang kami lakukan sejak semalam memang sangat kaku dan canggung, tapi setidaknya jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
...*****...
Bianca POV
Selesai membereskan ranjang dan menyiapkan baju kerja Mas Dirga, aku buru-buru beranjak ke dapur untuk memasak.
Selama 1 minggu ke depan, aku akan kembali menjalani rutinitas seperti biasa sebagai istri Mas Dirga. Mungkin memang sudah seharusnya kami meninggalkan kesan baik sebelum berpisah.
Apalagi kesalahan bukan hanya di lakukan oleh Mas Dirga saja. Karna aku dengan sadar mengikuti jejak Mas Dirga dalam menodai pernikahan kami.
Pagi ini aku membuat nasi goreng seafood. Entah sudah berapa lama aku tidak membuat makanan favorit Mas Dirga ini.
Selesai menata di meja makan, aku bergegas ke kamar tamu untuk mandi karna semua barang-barang ku ada di sana.
Senyum di bibir Mas Dirga tampak merekah saat menatap meja makan yang sudah di isi oleh nasi goreng seafood dan teh hangat.
"Makasih buat nasi goreng dan tehnya Dek,," Ucapnya beberapa saat setelah terdiam menatap makanan miliknya.
Aku merespon dengan anggukan kecil.
Suasana hening, kami fokus menghabiskan sarapan masing-masing. Sampai kami meninggalkan meja makan dan keluar dari rumah untuk berangkat bersama ke kantor.
Aku sempat melirik rumah sebelah, yang ternyata di ketahui oleh Mas Dirga hingga dia juga ikut menatap ke arah sana.
Mobil Mas Agam tidak ada di depan rumah, sepertinya dia menginap di kediaman orang tuanya. Kemarin saat masih di kantor, dia bilang akan pulang ke rumah Pak Airlangga.
Tak memberikan komentar apapun setelah melihatku menatap rumah Mas Agam, kini Mas Dirga memintaku untuk masuk ke dalam mobil dengan pintu yang sudah dia bukakan untukku.
"Hari ini pulang jam berapa Dek.? Nanti kabari Mas ya, kita pulang bareng." Ujarnya begitu duduk di kursi kemudi.
"Iya Mas." Aku hanya menjawab singkat.
__ADS_1
Mas Dirga perlahan melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju kantorku, Mas Dirga terus mengajakku bicara tanpa menyinggung sedikitpun permasalahan yang sedang kita hadapi.
"Lusa ulang tahun perusahaan Dek, acaranya di hotel jam 7 malam."
"Kalau nggak keberatan, Mas mau ajak kamu. Apa kamu ada waktu.?" Mas Dirga bertanya dengan hati-hati.
Permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga kami jelas memberikan perubahan besar bagi kami berdua dari segi komunikasi dan interaksi yang terbatas. Tapi lebih tepatnya aku yang membatasi semua itu.
Biasanya Mas Dirga akan langsung mengajakku tanpa perlu mengatakan aku keberatan ataupun bertanya aku memiliki waktu atau tidak.
"Belum tau Mas. Nanti aku kabari,," Aku meluruskan pandangan setelah menjawab pertanyaan Mas Dirga.
"Makasih Dek,," Aku melirik sekilas, selain komunikasi yang kaku, Mas Dirga juga jadi lebih banyak mengucapkan terimakasih padaku.
Hal yang membuat aku semakin merasa kalau hubungan kami memang sudah semakin renggang.
...****...
Masuk ke dalam ruangan, aku di kagetkan dengan keberadaan Mas Agam di balik pintu. Pria itu tersenyum lebar menyambut ku masuk. Dia bahkan membantuku menutup pintu..
"Masih pagi, Mas sudah di kantor.? Apa semalam tidur disini.?" Aku menatap heran. Tidak biasanya Mas Agam berangkat sepagi ini.
"Aku berangkat lebih awal karna merindukan seseorang." Jawabnya yang perlahan berjalan di belakangku dan tiba-tiba memelukku dari belakang.
"Mas,," Aku terperanjat kaget, tapi membiarkan Mas Agam memelukku dan meletakkan dagu di pundakku.
"Semalam hujan deras dan banyak petir, apa kamu bisa tidur nyenyak.?" Tanyanya penuh perhatian dan ada nada kekhawatiran di dalamnya.
"Bia tidur di kamar utama sama Mas Dirga." Sahutku.
"Kalian tidur satu kamar lagi.?" Nada bicara Mas Agam menunjukkan ketidak nyamanan.
Aku menarik nafas dalam sebelum akhirnya menjawab serta menjelaskan semuanya pada Mas Agam tentang kesepakatan ku dangan Mas Dirga untuk kembali tidur satu kamar dan melakukan aktifitas seperti biasa sebelum kami resmi berpisah.
Perlahan aku merasakan pelukan Mas Agam mengendur, dia menyingkir dari belakangku dan duduk di sofa dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
Aku langsung mengikutinya dan duduk di samping Mas Agam dengan sedikit jarak.
"Kalian nggak melakukan apapun kan.?" Mas Agam menatap lesu. Aku tau apa yang ada di pikirannya saat ini.
__ADS_1