
Rasa sesak mendera, terkadang aku bingung dengan perasaan ku sendiri. Ada kalanya aku merasa cuek dan masa bodo dengan apa yang di lakukan oleh Mas Dirga bersama wanita itu di belakangku. Tapi ada saatnya aku merasa sakit seperti sekarang ini.
Karna walau bagaimanapun, selama lebih dari 6 tahun hidupku hanya fokus pada Mas Dirga. Aku menutup hati, bahkan menutup mata untuk pria lain di luaran sana selama menjalin hubungan dan menikah dengan Mas Dirga.
Mungkin di situ letak kesalahanku. Hidupku terlalu fokus pada Mas Dirga. Lalu memberikan seluruh hati dan kepercayaanku padanya.
Sampai pada titik di mana Mas Dirga berkhianat, aku benar-benar merasa sangat hancur.
Yang lebih parahnya lagi, aku harus pura-pura kuat dan pura-pura tidak tau di depan Mas Dirga.
"Bia,, are you okay.?" Sentuhan lembut tangan Mas Dirga di bahuku, membuatku bergegas membuang wajah dan menghapus air mata yang entah sejak kapan membasahi pipi.
"I'm okay,," Aku menoleh, mengukir senyum palsu di balik kesedihanku saat ini.
"Bia rindu sama temen-temen di rumah yang lama." Aku semakin mengembangkan senyum untuk menutupi kesedihan yang terasa mencekat dalam dada.
"Kamu lupa kalau minggu depan kita akan ke Jakarta."
"Kamu bisa mampir ke sana kalau mau."
Sempat bengong beberapa saat, aku baru ingat kalau hati senin nanti harus ke Jakarta selama 2 hari untuk mengurus proyek baru yang sedang dalam proses pembangunan.
...*****...
Dirga POV
"Aku nggak bisa lama-lama temenin kamu dan Rayyan, setelah ini harus kembali ke kantor pusat."
"Kamu mau aku antar ke rumah teman kamu, atau masih mau disini.?" Tawarku pada Ziva yang tengah menemani Rayyan bermain di playground. salah satu Mall di Jakarta.
"Pulang jam berapa.? Kalau cuma sebentar, biar aku sama Rayyan tunggu di sini saja." Sahutnya.
"Jangan tunggu aku, bisa saja aku pulang malam."
"Nggak masalah kalau kamu masih mau disini, kabari aku kalau mau kembali ke rumah temen kamu." Aku beralih pada Rayyan untuk pamit padanya. Bocah itu tentu saja merengek dan tak mau di tinggal. Tapi aku berusaha membujuknya hingga akhirnya Rayya memperbolehkan ku pergi.
__ADS_1
"Mas,,," Ziva tiba-tiba menarik tanganku saat aku hendak beranjak.
"Kamu yakin hanya peduli sama Rayyan saja.? Bagaimana denganku.?" Mata Ziva berkaca-kaca. Suaranya bergetar menahan tangis. Soroti matanya menatapku penuh harap dan memohon.
"Zi,, aku punya Bianca. Kamu tau sendiri aku sangat mencintainya." Perlahan ku lepaskan genggaman tangan Ziva.
"Lalu apa yang kamu rasakan saat kita menghabiskan malam bersama.? Bohong kalau kamu nggak punya perasaan apapun sama aku setelah kita melakukannya, Di."
Ziva mulai meneteskan air matanya. Aku selalu tidak tahan melihat wanita menangis seperti ini di hadapan ku. Segera ku tarik Ziva dalam dekapan dan memberikan usapan di punggungnya.
"Jangan aku Zi. Aku hanya ingin mempertahankan rumah tangga ku dengan Bianca. Selama ini Dia ada di sampingku dalam suka dan duka. Aku nggak mungkin menyakitinya."
"Kamu harus percaya, suatu saat akan ada seseorang yang bisa menerima dan mencintai kalian berdua. Jangan mengharapkan apapun padaku,,"
Tangis Ziva semakin pecah setelah aku mengatakan semua itu.
"Zi, aku mohon lupakan kejadian malam itu. Bukan hanya aku saja yang salah, kita sama-sama salah."
"Please, jangan ungkit-ungkit lagi kesalahan yang membuatku semakin terlihat buruk untuk Bianca." Pintaku memohon, berharap Ziva bisa memahami posisiku.
"Aku dan Rayyan akan pulang ke Bandung." Ucap Ziva seraya melepaskan dekapan ku.
"Jangan begitu, bukannya kamu ingin menemui keluargamu.?"
"Aku janji besok pagi akan mengantar mu."
"Ayo, sebaiknya kamu pulang ke rumah Tika. Kamu butuh istirahat, Rayyan juga." Aku bergegas menggendong Rayyan yang tadi sedang asik bermain.
Tadinya aku pikir bisa meninggalkan Ziva di Mall ini, tapi melihat kondisi Ziva yang tampak kacau, tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja. Apalagi Ziva datang ke Jakarta bersamaku karna dia ingin mencari keluarganya.
...*****...
Bianca POV
Sudah 2 hari sejak Mas Dirga pamit untuk pergi ke kantor pusat, hanya beberapa kali saja Mas Dirga menelfon dan mengirimkan pesan padaku.
__ADS_1
Aku juga sengaja tidak mengirimkan pesan padanya lebih dulu, karna ingin tau apa Mas Dirga masih ingat padaku atau tidak selama pergi dengan wanita itu.
Malam ini Bandung di guyur hujan deras. Sejak tadi aku sudah cemas, takut tiba-tiba listrik padam. Tak hanya itu saja, suara petir terdengar mencekam saling bersautan.
Aku memilih meringkuk di atas ranjang, mencoba tidur lebih awal untuk menghindari suasana yang menurutku menakutkan.
Seorang diri di dalam rumah dengan kondisi hujan deras di sertai petir, membuat jiwa ketakutanku semakin menjadi.
Suara dering ponsel memaksaku bergeser untuk mengambil ponsel di atas nakas.
Tampak nama Mas Agam yang tertera di layar ponselku.
"Kamu pasti sedang ketakutan. Buka pintunya, aku di depan." Suara lembut itu terdengar menenangkan. Saat itu juga tanpa perlu pikir panjang, aku langsung keluar dari kamar untuk membukakan pintu.
Duduk berdua di sofa ruang tamu dengan kondisi pintu terkunci, sejak tadi aku dan Mas Agam saling terdiam.
"Kamu mau tidur.? Ayo biar aku temani sampai tidur," Ajaknya setelah melihatku menguap.
Aku langsung menggelengkan kepala.
"Malam ini Mas Dirga pulang," Hanya dengan mengatakan hal itu, Mas Agam tau apa yang menjadi kekhawatiranku dan alasanku menolak ajakannya.
"Aku akan pulang sebelum Dirga sampai. Kamu tanya saja kapan dia berangkat dari Jakarta." Sahut Mas Agam.
Aku tidak tau pesona apa yang dimiliki oleh Mas Agam sampai aku dengan mudah menuruti perkataannya.
"Maaf Dek, Mas lupa mengabari kamu. Pekerjaan disini belum selesai, jadi harus tambah 1 hari. Besok sore Mas pastikan sudah pulang."
Aku mencengkram kuat ponsel di tanganku saat membaca balasan pesan dari Mas Dirga. Bahkan tanpa sadar hampir melempar ponsel di tanganku.
"Kalau udah nggak butuh hp, nggak usah di banting. Di luar sana masih banyak yang membutuhkan hp," Ucap Mas Agam seraya mengambil ponsel dari tanganku dan meletakkannya di atas nakas.
"Mas Dirga nggak jadi pulang,," Suaraku tercekat.
Sisi bodoh dan lemah ku ternyata sulit untuk di hilangkan meski sudah berulang kali menyakinkan diri agar tak berpengaruh pada pengkhianatan Mas Dirga.
__ADS_1