Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 86


__ADS_3

Aku sangat antusias keluar dari rumah begitu mendengar suara deru mobil di luar. Mas Dirga sampai beberapa kali mengingatkan ku untuk hati-hati. Dia mencemaskan kandungan ku lantaran aku sengah berlari saat keluar dari rumah.


Mungkin karna terlalu antusias setelah hampir 4 bulan tidak bertemu dengan ketiga wanita yang sudah seperti kakak ku sendiri.


3 mobil baru saja terparkir di halaman rumah. Aku hanya perlu memberikan alamat rumah yang lengkap, dan mereka langsung bisa menemukan rumahku.


"Ya ampun Dek Bianca.?!!" Mbak Monik dan Mbak Sita langsung berteriak histeris begitu turun dari mobil. Kemudian di susul dengan Mbak Nilam yang juga ikut berteriak setelah turun dari mobil dan melihat kondisi ku yang tengah berbadan dua. Atau lebih tepatnya berbadan tiga lantaran ada twins di dalam perutku.


Mereka bertiga bahkan langsung berjalan cepat menghampiriku.


"Mbak,,,," Ujarku dengan suara tercekat. Aku merentangkan kedua tangan dan mereka langsung memelukku. Rasanya benar-benar bahagia bisa bertemu dengan mereka lagi. Banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang kehamilanku selama 3 bulan terakhir.


"Ternyata kamu lagi hamil.? Kenapa nggak ngasih tau kita.?" Protes Mbak Nilam dengan wajah yang tampak kesal.


"Ini kan kabar bahagia Dek. Selama 3 tahun kamu menunggu waktu itu tiba, kenapa malah diam-diam saja setelah hamil.?" Mbak Monik tak mau kalah, dia ikut protes padaku.


"Sudah jangan di permasalahkan, pasti Dek Bianca punya alasan tersendiri. Kita lanjut nanti ngobrolnya, mendingan masuk dulu." Ujar Mbak Sita.


"Iya Mbak mendingan masuk dulu dan istirahat. Anak-anak pasti cape di perjalanan." Ucapku dan menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan Mas Dirga masih menyambut ketiga para suami yang baru saja keluar dari mobil masing-masing.


Setelah mengantarkan anak-anak mereka ke kamar masing-masing, aku mengajak ketiga kakak-kakak ku itu ke ruang makan. Beberapa makanan berat dan dessert sudah tersaji di sana sejak 1 jam yang lalu.


"Rumahnya bagus Dek, luas banget." Komentar Mbak Nilam setelah duduk di depan meja makan sembari mencomot makanan di meja dan langsung memasukkan ke dalam mulut.


Di susul dengan Mbak Sita dan Mbak Monik yang juga ikut mencomot makanan berbeda.

__ADS_1


Mungkin kelihatannya tidak sopan karna pemilik rumah bahkan belum menawarkan makanan padanya. Tapi hal itu justru membuat ku senang karna merasa jika mereka benar-benar menganggap ku seperti keluarga sendiri. Bukan menganggap seperti orang lain yang mungkin akan canggung untuk mengambil makanan tanpa ijin sebelum di tawari.


"Kalau rumahnya kayak begini, Mbak pasti nggak bakal keluar-keluar rumah lagi." Sambung Mbak Monik.


Aku dan Mbak Sita langsung terkekeh.


Kemudian kami langsung membahas soal kehamilanku dan menanyakan banyak hal.


"Ya ampun Dek Bianca, bisa-bisanya kamu merahasiakan kehamilan ini selama 4 bulan dari kita."


"Di tambah lagi kamu hamil kembar. Kenapa nggak langsung kasih tau kabar bahagia ini sama kita.?" Ujar Mbak Sita panjang lebar. Sekarang giliran dia yang protes padaku.


"Maaf Mbak, bukannya nggak mau ngasih kabar cepat-cepat. Aku cuma mau memastikan dulu sampai kandungan ku benar-benar sehat."


"besok juga acara syukuran 4 bulanan, makanya aku minta kalian datang ke sini." Jelas ku yang masih belum bisa di Terima sepenuhnya oleh mereka bertiga. Meski begitu, mereka jelas sangat bahagia setelah mengetahui aku hamil dan mengandung anak kembar.


Sementara itu, suami-suami kami berada di halaman belakang. Mereka juga sedang terlibat obrolan ringan. Aku bisa melihatnya melalui pintu kaca ruang makan yang langsung mengarah ke halaman belakang rumah.


Sejauh apapun obrolan ku dengan mereka, tak ada niat sedikitpun untuk menceritakan persoalan dalam rumah tanggaku bersama Mas Dirga yang hampir membuat kami berpisah.


Sedekat apapun aku pada mereka, cukup ku simpan rapat-rapat aibku dan aib Mas Dirga untuk diri sendiri.


Lagipula semua itu sudah berlalu. Aku dan Mas Dirga baru saja melewati masa-masa terpahit dan menyakitkan setelah lebih dari 3 tahun mengarungi bahtera rumah tangga yang sebelumnya selalu di penuhi dengan segenap hati dan penuh cinta.


...****...

__ADS_1


Siang itu setelah makan bersama, aku menyuruh mereka untuk beristirahat. Meski hanya menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, tetap saja mereka butuh istirahat. Terutama suami-suami mereka yang sudah menyetir dari Jakarta ke Bandung.


"Kamu juga harus istirahat sayang,," Tiba-tiba Mas Dirga memelukku dari belakang. Kedua tangannya mengusap lembut perut buncit ku.


Aku sempat mencubit tangannya dan memintanya untuk melepaskan pelukan karna ada Bu Reni. Aku akan merasa malu kalau sampai Bu Reni melihatnya.


"Iya sebentar lagi Mas, aku pindahin piring kotor ke wastafel dulu." Aku beranjak begitu berhasil membuat Mas Dirga melepaskan pelukannya.


"Mau nurut apa mau di gendong.?!" Tegas Mas Dirga tanpa mau di bantah.


"Iya,, iya. Kenapa jadi bawel begini." Aku mencubit gemas hidung mancung Mas Dirga dan langsung berlalu dari dapur untuk pergi ke kamar.


Mas Dirga tentu saja tidak berdiri di tempat, dia langsung bergegas menyusul ku ke dalam kamar.


"Makasih Dek,," Bisik Mas Dirga tepat di belakang telingaku. Kami sedang berbaring di ranjang dengan posisi Mas Dirga memelukku dari belakang.


"Untuk.?" Tanyaku.


"Kamu nggak ceritain keburukan Mas sama mereka." Ujarnya dengan suara yang terdengar berat.


"Mas pikir kamu udah cerita sama mereka sejak 4 bulan lalu." Ujarnya lagi.


"Buat apa aku ceritain hal yang nggak seharusnya di ceritain ke orang lain, sekalipun aku anggap mereka seperti kakak sendiri." Aku berbalik badan agar bisa menatap Mas Dirga.


"Aku pasti akan menutupnya rapat-rapat. Disini bukan hanya Mas saja yang salah, tapi aku juga salah."

__ADS_1


"Kita udah janji nggak akan membahas soal ini lagi kan.?" Aku meletakkan telapak tangan di pipi Mas Dirga dan mengusapnya pelan.


Mas Dirga mengangguk sembari mengulas senyum. Dia ikut mengusap pipiku dan detik berikutnya langsung mencium bibirku dengan sangat lembut.


__ADS_2